• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 26 November 2022

Metropolis

Kondisi Gawat Jelang Mbah Hasyim Wafat

Kondisi Gawat Jelang Mbah Hasyim Wafat
Lukisan Mbah Hasyim Asy'ari. (Foto: NU Online)
Lukisan Mbah Hasyim Asy'ari. (Foto: NU Online)

Surabaya, NU Online Jatim

Utusan Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Bung Tomo gagal menemui langsung Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) saat akan menyampaikan informasi jatuhnya Kota Malang, basis laskar Hizbullah-Sabilillah, ke tangan pasukan Belanda. Saat tiba di Jombang, Mbah Hasyim terbaring sakit.

 

Sebelum utusan Jenderal Soedirman tiba, rupanya Mbah Hasyim sudah mengetahui kabar buruk itu dari Kiai Gufron, pemimpin Sabilillah Surabaya. Saat itu, Mbah Hasyim tengah mengajar. Begitu menerima informasi Kota Malang jatuh ke tangan Belanda, ia langsung memegang kepala sambil menyebut asma Allah.

 

“Masya Allah, Masya Allah.”

 

Mbah Hasyim jatuh pingsan.

 

Diceritakan KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang Pesantren, kabar buruk yang membebani pikiran Mbah Hasyim itu terjadi pada 21 Juli 1947. Dokter Angka pun didatangkan dari Jombang untuk memeriksa kesehatan Mbah Hasyim. Hasilnya, pendiri Nahdlatul Ulama itu mengalami pendarahan otak.

 

Malang adalah satu di antara daerah di Pulau Jawa yang dikuasai Belanda ketika pasukan kolonial melancarkan agresi militer pertama pada Juli 1947. Selain daerah-daerah basis pasukan republik di Jawa Timur, Belanda juga berhasil menduduki sebagian besar daerah di Jawa Tengah dan Sumatera.

 

Wajar Belanda menang. Mengutip J.A. de Moor dalam Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia, majalah online Historia (Bulan Puasa di Bawah Agresi Militer Belanda) menulis bahwa Belanda ketika itu mengerahkan 75 ribu pasukan di Jawa dan 21 ribu pasukan di Sumatera dengan persenjataan memadai.

 

Sementara pihak republik melakukan perlawanan dengan 195 ribu pasukan di Jawa dan 168 ribu pasukan di Sumatera. Pasukan republik kebanyakan terdiri dari laskar yang disebut de Moor dengan pasukan tak teratur. Persenjataan pun terbatas. Pasukan republik mengalami kekalahan dengan korban puluhan ribu orang.

 

Di tengah situasi yang gawat itu, kondisi kesehatan Mbah Hasyim tak kunjung membaik. Hingga kemudian pada malam 7 Ramadlan 1366 Hijriyah atau 25 Juli 1947, ia mengembuskan napas terakhir. Mbah Hasyim wafat, tepat pada tanggal hari ini 74 tahun silam. umat pun berduka, rakyat Indonesia bersedih.

 

Alfatihah.


Metropolis Terbaru