• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 25 April 2024

Metropolis

1 ABAD NU

Pameran Komite Hijaz Memuat Rekam Jejak Program Internasional Pertama NU

Pameran Komite Hijaz Memuat Rekam Jejak Program Internasional Pertama NU
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat menyaksikan Pameran Foto dan Dokumen Komite Hijaz di Hotel Shangri-La, Surabaya, Ahad (05/02/2023). (Foto: NOJ/ A Habiburrahman)
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat menyaksikan Pameran Foto dan Dokumen Komite Hijaz di Hotel Shangri-La, Surabaya, Ahad (05/02/2023). (Foto: NOJ/ A Habiburrahman)

Surabaya, NU Online Jatim

Pameran Foto dan Dokumen Komite Hijaz digelar dalam rangka 1 Abad NU guna memperlihatkan rekam jejak program Internasional pertama Nahdlatul Ulama di masa lalu. Pameran yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PBNU itu dipusatkan di Ballroom Hotel Shangri-La, Surabaya, Ahad-Senin (05-06/02/2023).


“Komite Hijaz titik awal kelahiran NU, merupakan program Internasional pertama PBNU,” ujar Ketua Lesbumi PBNU KH Muhammad Jadul Maula.


Ia menyebutkan, Pameran Komite Hijaz ini merangkum perjalanan KH Abdul Wahab Chasbullah dan Syekh Ghanaim al-Amir sebagai utusan resmi NU untuk bertemu Raja Ibnu Saud tahun 1928.


“Pameran ini merupakan upaya menghidupkan kembali terkait kisah Komite Hijaz yang menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama,” terangnya.


Disebutkan, bahwa NU didirikan karena keperluan mendesak untuk menemui Raja Ibnu Saud yang membutuhkan organisasi atau legalitas payung resmi. “Maka, didirikanlah NU. Ini menjadi momen historis,” katanya.


Kiai Jadul mengatakan, hal yang paling penting dilakukan Kiai Wahab yaitu spirit untuk menolak diam dengan melakukan tindakan progresif atas problematika yang berkembang di masa itu.


“Yang paling penting adalah menghilangkan sikap diam. Melawan menolak sikap diam. Mudah-mudahan dengan ini kita dapat mengambil spirit dan inspirasi,” harap Kiai Jadul.


Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta itu, surat yang dibawa dan disampaikan kepada Raja Ibnu Saud itu di antaranya meminta surat balasan mengenai penerimaan terhadapnya dan jawaban atas berbagai poin yang dimintanya.


“Salah satunya terkait kebebasan bermazhab. Dan, lima poin di antaranya itu meminta jawaban tertulis,” ungkapnya.


Sebagai informasi, sedikitnya terdapat 40 gabungan foto dan dokumen sejarah perjalanan Komite Hijaz di masa lalu. Di dalamnya memuat lengkap keterangan tertulis dari masing-masing foto dan dokumen.


Metropolis Terbaru