• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Metropolis

Penjelasan LFNU Jatim soal Potensi Perbedaan Rukyatul Hilal Syawal

Penjelasan LFNU Jatim soal Potensi Perbedaan Rukyatul Hilal Syawal
Ilustrasi rukyatul hilal. (Foto: NOJ)
Ilustrasi rukyatul hilal. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

Pemantauan anak bulan atau hilal untuk menentukan 1 Syawal 1443 Hijriah akan dilaksanakan secara serentak pada Ahad, 1 Mei 2022. Dari hasil rukyat itulah sidang isbat akan memutuskan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Senin, 2 Mei 2022, atau lusanya, Selasa, 3 Mei 2022. Ada potensi perbedaan terkait syarat sudut elongasi.


Mengacu pada kriteria yang ditetapkan oleh Kementerian Agama dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada saat penentuan 1 Ramadhan satu bulan lalu, syarat untuk melakukan rukyatul hilal yaitu ketinggian anak bulan minimal tiga derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.


Soal ketinggian hilal tidak ada masalah. Sebab, kata KH Shofiullah atau Gus Shofi, Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah NU (LFNU) Jawa Timur, saat hilal dipantau pada 1 Mei nanti ketinggiannya di atas empat derajat. Artinya memenuhi syarat minimal tiga derajat.


“Ketinggian hilal nanti semuanya di atas 4 derajat. Di Surabaya sendiri 4,3 derajat, begitu pula di Condrodipo [Gresik ketinggian hilal juga] 4,3 derajat,” katanya pada Rabu (27/04/2022).


Yang berpotensi menimbulkan benih perbedaan pandangan, juga keputusan, ialah pada sudut elongasi hilal. Sudut elongasi, lanjut Gus Shofi, berkaitan dengan seberapa tebalnya hilal saat dipantau. Semakin tinggi derajat elongasi, maka semakin tebal penampakan hilal.


Masalahnya, papar Gus Shofi, terkait itu muncul dua pendapat. Ada yang mengusulkan berpatok pada sudut elongasi berbasis geosentris, ada pula yang mengusulkan menggunakan sudut elongasi berbasis toposentris. “Geosentris diukur dari titik pusat bumi, kalau toposentris dari permukaan bumi,” tandasnya.


Bila berbasis geosentris, kata Gus Shofi, maka sudut elongasi hilal, terutama bila dipantau dari Jawa Timur, sudah memenuhi syarat 6,4 derajat. Di Surabaya sendiri sudah 6,5 derajat. Namun bila menggunakan usulan toposentris, maka sudut elongasi hilal di bawah 6,4 derajat, yang artinya itu tidak memenuhi kriteria yang disepakati.


PBNU sendiri, lanjut Gus Shofi, mendorong agar pemerintah menggunakan patokan sudut elongasi berbasis geosentris. Dengan begitu syarat minimal sudut elongasi dan ketinggian hilal akan terpenuhi. Dengan begitu, apabila pada 1 Mei 2022 ada tim rukyat yang melihat hilal, maka 1 Syawal 1443 Hijriah jatuh pada keesokan harinya, 2 Mei 2022.


Potensi perpecahan justru akan terjadi apabila pemerintah menggunakan usulan sudut elongasi berbasis toposentris, karena tidak akan memenuhi syarat yang ditetapkan. Bila itu yang dipakai, maka 1 Syawal 1443 Hijriah akan jatuh pada 3 Mei 2022, kendati ada tim rukyat yang melihat hilal.


Nah, menggunakan usulan sudut elongasi berbasis toposentris menurut Gus Shofi rentan perpecahan. Apalagi, berdasarkan metode hisab wujudul hilal, Muhammadiyah sudah menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada 2 Mei 2022. “Jadi, kenapa PBNU mengusulkan sudut elongasi berbasis geosentris, sebenarnya untuk mencegah perpecahan,” tandasnya.


Metropolis Terbaru