• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Mei 2022

Madura

Sekretaris LFNU Jatim Observasi Waktu Ashar Versi Sullam Munajat

Sekretaris LFNU Jatim Observasi Waktu Ashar Versi Sullam Munajat
Sekretaris PW LFNU Jawa Timur, Fathur Rozi. (Foto: FB Fathur Rozi)
Sekretaris PW LFNU Jawa Timur, Fathur Rozi. (Foto: FB Fathur Rozi)

Sumenep, NU Online Jatim

Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur, Fathur Rozi melakukan observasi awal waktu shalat Ashar menggunakan teori dalam kitab Sullam Al-Munajat. Kegiatan tersebut dilakukan di halaman Mushalla Al-Hidayah, Gapurana, Talango, Sumenep, Selasa (25/01/2022).

 

Alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu mengawali observasinya dengan mengulas sejarah singkat kitab Sullam Al-Munajat karya KH Nawawi Banten. Di dalamnya memuat akidah dan tuntunan shalat praktis dalam koridor mazhab Syafi’i, termasuk tanda-tanda awal waktu shalat fardlu.

 

“Kitab ini merupakan elaborasi atau syarah dari kitab Safinatus Shalat,” ujar alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep ini dilansir pcnusumenep.or.id.

 

Ia menerangkan, bahwa dalam kitab Sullam Al-Munajat banyak hal menarik dan unik. Misal tentang awal waktu shalat Ashar. Ia menyebutkan, bahwa Kiai Nawawi menjelaskan bahwa awal waktu shalat Ashar ialah apabila panjang bayangan suatu benda sama dengan panjang benda tersebut, ditambah panjang bayangan saat matahari transit di Meridian (kulminasi). 

 

“Misalnya, panjang benda 5 senti meter, dan saat matahari berkulminasi terdapat bayangan sepanjang 1 senti meter. Maka, secara teori, waktu Ashar masuk jika panjang bayangan benda tersebut mencapai 6 senti meter,” ungkapnya.

 

Menurutnya, instrumen yang digunakan dalam observasi tersebut adalah istiwaaini. Sebuah instrumen Falak yang dibuat oleh Kiai Slamet Hambali, salah satu ahli Falak Nasional dan Dosen Ilmu Falak di UIN Walisongo Semarang.

 

“Caranya yaitu dengan menentukan Utara Sejati (True North). Selanjutnya, ketika bayangan matahari menyentuh utara sejati tersebut, maka saat itu terjadi kulminasi (istiwa’). Lalu, ukurlah panjang bayangan benda saat itu,” tuturnya.

 

“Setelah itu, kita menunggu beberapa jam kemudian. Lalu, kita ukur lagi panjang bayangan benda tegak, hingga bayangan benda tersebut sama dengan panjang bendanya dan ditambah panjang bayangan saat kulminasi. Saat itulah masuk waktu Ashar,” imbuhnya.

 

Dalam observasi tersebut, diperoleh data Panjang Gnomon (tongkat tegak) adalah 10 senti meter. Sedang panjang bayangan saat kulminasi adalah 1,7 senti meter. Dan, panjang saat waktu Ashar adalah 11,7 senti meter.

  

“Observasi ini akan terus dilakukan hingga mendapatkan data yang benar-benar valid. Penelitian itu tidak cukup 1 sampai 2 kali saja. Makanya, kami targetkan penelitian ini selama setahun,” pungkasnya.


Editor:

Madura Terbaru