• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Metropolis

Pesantren Bhineka Tunggal Ika, Cara Posnu Kuatkan Moderasi Beragama

Pesantren Bhineka Tunggal Ika, Cara Posnu Kuatkan Moderasi Beragama
Flyer kegiatan Pesantren Bhineka yang dipelopori DPP Posnu. (Foto: Istimewa)
Flyer kegiatan Pesantren Bhineka yang dipelopori DPP Posnu. (Foto: Istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Poros Sahabat Nusantara (Posnu) membentuk serial ‘Pesantren Bhineka Tunggal Ika’ sekaligus mengadakan webinar bertema “Kupas Tuntas Gaya Santri Menjunjung Tinggi Moderasi Beragama Di Indonesia”, Jumat (22/10). Dalam kegiatan ini, panitia menghadirkan Wawan Gunawan, Budayawan Nahdlatul Ulama dan Pastor Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Keduanya sebagai narasumber dalam seminar virtual tersebut.

 

Kegiatan ini digelar Posnuu dengan berkolaborasi bersama 34 elemen masyarakat sipil untuk persaudaraan dan perdamaian.

 

Adapun kegiatan ini dilaksanakan dengan berbabagi pertimbangan. Di antaranya, panitia melihat sejak tahun politik nasional 2019 ada kecenderungan peningkatan ekspresi intoleransi dan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok agama minoritas. Sepanjang tahun lalu, Setara Institute mencatat, terjadi 200 peristiwa pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB).

 

Pada wilayah geografis, Jawa Barat merupakan provinsi dengan kasus pelanggaran KBB terbanyak yakni 154 peristiwa, disusul Jakarta dengan 114 peristiwa, lanjut di JawaTimur (92 peristiwa), Jawa Tengah (59 peristiwa), Aceh (64 peristiwa), Daerah Istimewa Yogyakarta (38 peristiwa), Banten (36 peristiwa), Sumatera Selatan (31 peristiwa), Sumatera Utara (28 peristiwa), dan Sumatera Barat (19 peristiwa).

 

Pemahaman agama yang cenderung tekstual dan ekslusif cenderung menjadi salah satu faktor mendasar munculnya perpecahan, atau setidaknya mewaranai konflik atas perbedaan yang ada.

 

Dalam sambutannya, Ketua DPP Posnu, Elina Dian Karmila mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengelola perbedaan sehingga dapat dikatakan sebagai negara kesatuan.

 

“Semua perbedaan itu melebur menjadi satu, dalam semangat Pancasila dan bhineka tunggal ika, dan kegiatan ini merupakan rangkaian dari refleksi hari besar Indonesia, yang di mana untuk seri-1 diawali dengan perayaan hari santri dan Pesantren Bhineka Tunggal Ika ini akan dijadikan suatu aliansi sebagai wadah atau forum bersama dalam membentuk generasi yang produktif dan inovatif,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Pastor Antonius Benny Susetyo dalam paparannya banyak menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman di era digital. Ia juga mengimbau agar ruang digital diisi dengan konten yang menjaga perdamaian.

 

“Gunakanlah jari-jarimu untuk mempercantik negeri ini, jangan gunakan jarimu untuk merusak negeri ini. Maka hingga saatnya gunakanlah jarimu secara bijak untuk membangun Indonesia yang jaya, maka jadilah komunitas pemutus kata bukan pengiya kata, karena lima jarimu menentukan masa depan bangsa ini,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan itu juga dipaparkan bahwa pesantren merupakan potret kebhinekaan Indonesia. Sebab di pesantren perbedaan merupakan hal yang biasa dengan berbagai latar belakang santri yang berbeda.

 

Kemajemukan ini adalah hal yang semestinya dijaga dan dirawat dengan baik, karena tanpa dipungkiri bahwa politik identitas mulai masuk ke dalam wilayah pesantren dan merusak kemajemukan yang ada. Maka penanaman nilai-nilai pancasila ke dalam ideologi santri dan merawat kebudayaan adalah sebuah tanggung jawab bangsa.

 

Wawan Gunawan dalam seminar itu menyampaikan bahwa santri tidak tiba-tiba ada, tapi santri merupakan estafet dari keberlanjutan sebuah zaman.

 

 

“Artinya santri bukanlah warga negara kelas 2 akan tetapi warga negara kelas 1. Santri itu selalu moderat tidak partisan, serta yang pertama bagi santri adalah maslahatul ummah, yang kedua adalah kemandirian atau tidak mudah terpengaruh orang lain, dan yang ketiga santri itu tidak anti kebaruan bahkan santri yang menemukan hal-hal baru,” tandasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru