• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Metropolis

Saat Konferensi Internasional, Masdar Hilmy Tegaskan Agama untuk Manusia

Saat Konferensi Internasional, Masdar Hilmy Tegaskan Agama untuk Manusia
Masdar Hilmy. Foto: Istimewa
Masdar Hilmy. Foto: Istimewa

Mojokerto, NU Online Jatim

Direktur Pascasarajan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, H Masdar Hilmy turut menjadi narasumber pada forum Internasional Conference On Research And Community (ICORCS) 2022 di Institut Pesantren KH Abdul Chalim (Ikhac) Pacet, Mojokerto Sabtu (25/06/2022).


Pada kesempatan itu, Masdar menyebutkan bahwa relevansi konferensi ini terletak pada humanisme Islam atau nilai kemanusiaan dalam rangka meningkatkan kapasitas umat manusia.


“Sehingga dalam beragama justru yang dimuliakan itu adalah manusia. Karena memang agama untuk manusia, untuk memuliakan dan mengangkat martabat manusia,” ujarnya.


Menurut Masdar, ketika seorang muslim melaksanakan ritual ibadah apabika ditinjau lebih cermat adalah untuk manusia itu sendiri. Namun, Masdar juga tidak mengelak masih banyak kelompok yang menganggap Allah membutuhkan ibadah umatnya. Hal itu merupakan suatu persoalan tersendiri.


“Padahal kalau kita melihat secara normatif, teologis maupun historis diturunkanya agama Islam melalui Nabi Muhammad adalah untuk manusia agar mempunyai akhlak yang mulia,” terangnya.


Masdar melihat banyak sekali di dalam Al-Qur’an yang menekankan dalam segi kemanusia. Al-Qur’an menyebut manusia begitu sentral dengan sangat beragam. Seperti annas, insan, basyar yang masing-masing jika ditotal ada ratusan ayat Al-Qur’an yang menakankan manusia sebagai subyek dalam agama.


“Manusia sebagai subyek dalam beragama itu meniscayakan kita untuk mengambalikan nilai-nilai agama. Baik yang sifatnya ubudiyah maupun muamalah untuk memuliakan derajat, harkat martabat umat manusia,” jelasnya.​​​​​​​


Masdar lantas mengajak para hadirin untuk menengok sejarah. Bagaimana Islam memuliakan perempuan dari yang asalnya bernilai seperti barang menjadi manusia seutuhnya. Dalam sejarah Islam juga ditemui dengan jelas bahwa inti dari keberagamaan manusia tidak bisa dilepaskan dari dimensi kemanusiaan.


“Seperti syahadat, itu adalah penegasan kita berislam secara benar. Islam yang menyerahkan diri kepada Allah dan mempunyai nilai-nilai kedamaian yang harus kita pancarkan kepada seluruh manusia di bumi ini,” terangnya.


Tidak terkecuali ibadah lain seperti shalat, zakat, puasa, haji juga untuk manusia itu sendiri. Oleh karena itu, Masdar melihat orang-orang yang ekstrim salah menganalisa sehingga menganggap agama itu untuk tuhan.


Editor:

Metropolis Terbaru