Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Calon Tentara Jalur Atlet Baca Kitab Kuning

Calon Tentara Jalur Atlet Baca Kitab Kuning
Pengalaman santri mendaftar sebagai calon tentara. (Foto: NOJ/JNw)
Pengalaman santri mendaftar sebagai calon tentara. (Foto: NOJ/JNw)

Tahun 2009 kala itu pertama kali orang tua menyuruh saya untuk daftar TNI AD. Kalau dihitung-hitung setelah keluar dari pesantren tahun 2008, saya 7 kali mendaftar TNI dan Polri (2 kali Scaba TNI-AL, 2 kali Scaba TNI AD, 2 kali Scata TNI AD, dan sekali polisi).

 

Yang membuat bingung dari orang tua, karena menyuruh mendaftar TNI AD, tapi saya tidak dikabari alamat tempat mendaftar. Hanya disampaikan kalau ada pendaftaran Bintara TNI AD tempatnya di Surabaya.

 

Orang tua  saya itu lucu, pensiunan Bintara Tua TNI AD tapi tidak tahu tempat pendaftaran TNI AD. Maklum kalau kategori mahasiswa, orang tua saya tipikal mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang).

 

Akhirnya dengan susah payah saya cari di mana tempat pendaftaran TNI AD di Surabaya (maklum zaman itu Google masih belum familier). Saat itu saya naik bis turun di Jembatan Merah Plaza (JMP) dari bertanya ke tukang becak. Yang namanya tukang becak, asal kantor ada gambar pistol, maka dikira tempat tentara, dan saya pun diantarkan ke Kantor Brimob Jl. Gresik Gadukan.

 

Saya masuk ke sana dan bertanya: "Maaf  pak, mau mendaftar TNI AD." 

 

Para polisi di sana pun mengatakan: “Kantor TNI AD ada di depan dik. Ini kantor Brimob.” 

 

Saya pun langsung menuju Kantor TNI AD di depan kantor Brimob (kantor Brimob berhadapan dengan Kodim 0830 Surabaya Utara). 

 

Pertanyaan yang sama saya sampaikan: “Maaf pak, mau daftar TNI AD.” 

 

Salah satu anggota TNI AD yang jaga di pos penjagaan luar pun menjawab: ”Di sini Kodim mas, daftarnya di Ajenrem 084,” katanya.

 

Dengan lugunya, saya melanjutkan pertanyaan: “Di mana Pak Ajenrem 084 itu?” 

 

Personil TNI AD itu pun menjawab sambil mengarahkan saya.  “Mas kembali ke JMP, nanti tanya di sana karena lokasinya dekat,” katanya.

 

Dengan berjalan kaki, saya balik kembali ke arah JMP karena khawatir bertanya ke tukang becak bisa-bisa nyasar lagi. Belum sampai JMP, saya coba tanya warga sekitar di mana lokasi dari Ajenrem. 

 

Ditunjukkanlah saya ke arah Jl. Kalisosok karena di sana ada kantor TNI AD. Sesampainya di sana kembali dengan lugunya saya tanya: “Maaf pak, saya mau daftar TNI AD.” 

 

Penjaga pos TNI AD di sana pun menjawab: “Ini Bekamdang mas, daftar TNI AD di sana di Ajenrem 084,” katanya.

 

Sejenak TNI AD yang menjaga pos itu melihat saya seperti sudah kelelahan dan melanjutkan. “Mas, nanti lurus saja sekitar 100 meter menyeberang jalan besar kantor Ajenrem 084 ada di kanan jalan belakang Polwiltabes Surabaya (sekarang menjadi Polrestabes Surabaya).” 

 

Saya pun langsung bergegas ke sana sesuai dengan arahan bapak TNI AD tadi, khawatir tutup karena waktu sudah sore.

 

Sesampainya di sana, saya mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan dengan perasaan sangat senang setelah muter-muter setengah hari mencari tempat pendaftaran TNI AD. 

 

Saya pun diberi bukti telah mengumpulkan berkas dan diminta kembali sepekan kemudian untuk balik ke Ajenrem 084 guna pengumuman seleksi administrasi, pengambilan nomor, tes postur tubuh dan tes Jasmani tingkat Sub Panda sesuai jadwal yang telah dipasang di depan Ajenrem 084.

 

Hari pertama adalah pengumuman hasil seleksi administrasi, Alhamdulillah kala itu saya dinyatakan lolos dan mendapatkan nomor tes, setelah itu keesokan harinya yang lolos diminta balik lagi untuk tes postur tubuh. Dan sebelum balik petugas pendaftaran memberikan arahan untuk para calon siswa yang salah satunya adalah bagi pendaftar atau calon siswa Scaba TNI AD yang mempunyai sertifikat/penghargaan minimal tingkat kabupaten/kota untuk dilampirkan.


Sepulang dari Ajenrem 084 saya pun berpikir, sertifikat apa yang saya punya tingkat kabupaten/kota. Teringat saat kelas 3 Madrasah Aliyah Mu’alimin Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang pernah ikut lomba baca kitab kuning saat Konfercab PCNU Kabupaten Jombang. Kala itu akhirnya saya putuskan untuk membawanya keesokan harinya.

 

Hari kedua saat tes postur tubuh Sub Panda sertifikat lomba baca kitab kuning saya kumpulkan. Setelah mengumpulkan sertifikat untuk diperiksa tim seleksi para calon siswa Scaba TNI AD melanjutkan tes postur tubuh (kala itu bentuk tubuh belum sebesar sekarang, mungkin kalau sekarang ikut dilihat dari posturnya sudah langsung dicoret, he he he). 

 

Selesai dari tes postur tubuh yang mempunyai sertifikat minimal setingkat kabupaten/kota dikumpulkan untuk diwawancarai tentang sertifikat tersebut untuk nantinya digolongkan ke dalam calon siswa Scaba unggulan.

 

Satu persatu para calon siswa yang mempunyai sertifikat tersebut dipanggil, dan yang terakhir dipanggil adalah saya. Masih teringat saat itu pertanyaan lucu keluar dari tim seleksi: “Mas ini sertifikat apa?”

 

Saya jawab: “Siap, lomba baca kitab kuning!” 

 

Masih penasaran tim seleksi pun melanjutkan pertanyaannya: “Itu lomba macam bagaimana, mas?” 

 

Saya pun menjawab kembali: “Siap, lomba yang mempertandingkan antar santri di pondok pesantren tentang sejauh mana penguasaan materi dalam memahami kitab kuning,” (dalam hati sudah deg-degan sambil mbatin alamat ruwet ini).

 

Tim seleksi bingung, yang mungkin karena kurang akrab dengan kitab kuning kala itu di kalangan TNI, dan saya pun ditanya kembali.

 

“Kitab kuning itu apa mas? Apakah seperti kitab Zabur? Taurat? Injil?” 

 

Sambil deg-degan saya menjawab: “Siap, kitab yang dikaji di pesantren-pesantren itu Ndan.”

 

Tim seleksi calon siswa Scaba TNI AD pun memanggil Komandan Ajenrem 084 karena merasa tidak mempunyai hak dalam menentukan. Saya masih ingat komandannya seorang perempuan berpangkat mayor, akhirnya saya diwawancarai, cuma berdua.

 

Ia berpesan: “Ini yang dimaksud adalah atlet atau olahraga mas, bukan sertifikat seperti ini. Kitab kuning pun saya belum tahu bagaimana bentuknya? Saat tes jasmani besok tolong dibawa contohnya kitab kuning ya?” 

 

Dengan suara tegas, saya menjawab: “Siap komandan.”

 

Hari ketiga saat tes jasmani Sub Panda, saya membawa kitab Al-Majmua’t kumpulan kitab-kitab kecil dan nadzam yang biasanya ada di saku para santri. Dan saya serahkan kepada tim seleksi.

 

Mereka melihat dan membolak-balik entah paham atau tidak. Setelah itu tim seleksi dan komandan Ajenrem 084 berkumpul rapat sebentar. Setelah rapat, mereka keluar dan mengumumkan nama-nama siapa saja yang lolos untuk tes selanjutnya yaitu tingkat Panda.

 

Dan alhamdulilah nama saya pun lolos masuk tes tingkat Panda. Setelah itu komandan Ajemrem memisah antara yang calon siswa Scaba unggulan dan umum. Yang membuat heran, saya masuk sebagai calon siswa Scaba jalur unggulan. Khusus yang jalur unggulan di belakang nomor peserta diberi tanda dan tulisan dan yang di nomor peserta saya bagian belakang ditulis “atlet baca kitab kuning”.

 

Setelah lulus tingkat Sub Panda dibawahlah ke tingkat Panda di Malang dan dikumpulkan untuk istirahat di barak Dodikjur. Ketika tes dimulai, calon siswa Bintara dipisah antara yang jalur umum dan unggulan.

 

Hari pertama tes kesehatan dinyatakan lolos dan langsung hari kedua tes jasmai selama dua hari. Hari pertama tes lari, sit up, full up, dan lain-lain. 

 

Dan hari kedua tes renang, sebelum pengumuman siapa yang lolos untuk tes selanjutnya bagi calon siswa Bintara yang unggulan dites sesuai dengan kemampuan masing-masing. Atlet karate ada tim karate TNI Ad yang mengetes, atlet sepak bola ada tim sepak bola TNI Ad yang mengetes, begitu juga dengan atlet lainnya. Saat para calon siswa Bintara unggulan dikumpulkan dan dites sesuai dengan kemampuan masing-masing, saya masih di lapangan sendiri tempat berkumpul awal. Beberapa menit kemudian ada panitia seleksi mendekati saya dan bertanya:
 

“Mas, masnya ini atlet apa?” 

 

Dengan sigap saya bilang: “Atlet baca kitab kuning Ndan!” 

 

Panitia itu pun menjawab: “Loh opo iku?” 

 

Sambil memegang nomor, saya yang telah diberi tanda di belakangnya, dan berteriak kepada panitia lain:

 

“Woy, ini siapa yang ngetes?” 

 

Akhirnya banyak panitia yang mendekati saya sambil bertanya-tanya. Setelah itu panitia tingkat Panda pun rapat sebentar membahas masalah “Atlet Baca Kitab Kuning” dan keputusannya saya masuk di calon Siswa Bintara Umum karena tidak ada yang mengetes (dalam hati coba ada yang ngetes saya mungkin saya sudah menjadi Bintara TNI AD jalur Atlet Baca Kitab Kuning, he he he).

 

Selamat Hari Santri 2021.

 

Mochammad Fuad Nadjib adalah Santri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar ,Jombang.
 

Terkait

Nusiana Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini