• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Opini

Menata Ulang Kaderisasi Nahdlatul Ulama melalui Pendidikan

Menata Ulang Kaderisasi Nahdlatul Ulama melalui Pendidikan
Foto: NU Online
Foto: NU Online

Oleh: Mochammad Fuad Nadjib*)
Kaderisasi merupakan pondasi awal dalam menata masa depan beorganisasi. Eksistensi khidmat organisasi tergantung dari sistem kaderisasi yang dibangun.
 

Maka, ruh dari organisasi adalah kaderisasi. Guna menata sistem kaderisasi dibutuhkan kurikulum yang jelas agar terarah dengan baik dan sistematis. Menjadikan seseorang kader yang kaffah tidaklah mudah, serta membutuhkan waktu.
 

Kita ketahui kurikulum pendidikan di negara kita saja berkembang terus dan silih berganti. Mengikuti zaman secara update untuk menghasilkan output atau lulusan yang nantinya bisa diterima di masyarakat serta dapat membangun Negara ini kedepannya dengan lebih baik.
 

Maka menjadi hal yang lumrah nantinya jika sistem kaderisasi dalam berorganisasi dirubah menyesuaikan kebutuhan organisasi dan juga zamannya.
 

Dari sana pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Tsaquf tentang moratorium sistem pengkaderan Nahdlatu Ulama. Baik yang Pelatihan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) maupun Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). Hal ini sangat relevan karena Nahdlatul Ulama akan memasuki abad kedua yang mana nantinya dibutuhkan kader-kader NU yang bisa menjawab tantangan dan problematika kedepan.
 

Salah satu cara kaderisasi yang paling efektif adalah melalui pendidikan. Sebab, melalui pendidikan Nahdlatul Ulama nantinya bisa mengarahkan para kadernya untuk menjadi solusi atas problematika yang ada di organisasi ataupun negara.
 

Melihat ke dalam diri Nahdlatul Ulama di masa sekarang, NU membutuhkan rancangan sistem kaderisasi kepemimpinan yang baik. Kader Nahdlatul Ulama jangan hanya unggul dalam kuantitas, tetapi juga harus unggul dalam kualitas. Supaya keduanya tercapai, maka sistem kaderisasi pemimpin bisa dimulai dari bangku sekolah dasar.
 

Menghadapi masa sekarang, harusnya lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama lebih fleksibel, tanpa harus meninggalkan hal yang pokok. Fleksibilitas diharapkan mampu meluaskan wahana inspirasi bagi anak didik untuk bisa menggapai cita-citanya setinggi langit.
 

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang mengedepankan meritokrasi membuka peluang bagi kader manapun, yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan di Nahdlatul Ulama bukan diwariskan melainkan diamanahkan.
 

Karena itu regenerasi di dalam organisasi Nahdlatul Ulama harus senantiasa ditumbuh suburkan. Supaya jangan sampai terjadi kekosongan kepemimpian di Nahdlatul Ulama. Guna menggapai harapan tersebut dibutuhkan sinergi yang harmonis antara generasi milenial dengan kolonial.
 

Sebab pemimpin yang baik itu adalah mereka yang bahagia melihat generasi muda atau penerusnya lebih baik dari dirinya. Melihat pola pendidikan era sekarang, pendekatan pendidikannya sudah sangat berbeda.
 

Misalnya, pendekatan pendidikan sekarang sudah harus individualisasi atau tidak boleh menyamakan anak didik. Kedua, anak sudah harus diajari membuat cita-cita sejak dini (self planing). Pembarharuan pendekatan ini supaya selain penyegaran fisik bangunan sekolahan, pendidikan Nahdlatul Ulama juga segar dalam konten pembelajarannya.
 

Lebih detail, sekolah-sekolah milik Nahdlatul Ulama supaya diarahkan dan dibimbing agar kualitasnya bisa naik kelas menjadi sekolah unggul. Oleh karena itu perlu adanya kerja bersama, mulai dari pengurus di jajaran paling tinggi sampai paling rendah guna merealisasikannya.
 

  

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ataupun Kementrian Agama telah meluncurkan berbagai progam untuk perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Seperti untuk setingkat SMK atau sekolah vokasi ada progam SMK Pusat Unggulan (PK), setingkat SMA dan ke bawahnya dengan Sekolah Penggerak dan lainnya.
 

Ini harus direspons cepat dan positif oleh Nahdlatul Ulama agar Lembaga Pendidikan di bawah naungan NU bisa mengakses serta mendapatkan program itu yang nantinya sekolah-sekolah/ madrasah-madrasah di bawah naungan NU menjadi sekolah-sekolah / madrasah-madrasah unggulan. Serta rujukan yang siap bersaing secara Nasional maupun Internasional.
 

*)Ketua PC Pergunu Kabupaten Sidoarjo sekaligus Kepala SMK Diponegoro Sidoarjo


Editor:

Opini Terbaru