• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Opini

Nilai Edukasi Wisata Religi

Nilai Edukasi Wisata Religi
Makam Gus Dur di Komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang salah satu lokasi wisata religi terpopuler.
Makam Gus Dur di Komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang salah satu lokasi wisata religi terpopuler.

Oleh: Fataty Maulidiyah*)
Dalam wacana berpariwisata, wisata religi bukanlah hal baru. Pada mulanya kegiatan perjalanan religi adalah perjalanan ziarah ke tempat-tempat yang dianggap suci. Perjalanan dan pergerakan manusia dari tempat satu ke tempat lainnya dahulunya didominasi oleh faktor agama dan kepercayaan.
 

Manusia rela meninggalkan kampung halaman, keluarganya, menuju tempat yang jauh selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan untuk mengikuti upacara Olympus ke Roma, Yerussalem, dan sampai saat ini yang paling banyak dikunjungi adalah tanah suci Mekkah dan Madinah.
 

Dalam sejarah, orang-orang yang menjelajahi dunia seperti Marcopolo, Vasco de Gamma, Al Idrissiyah juga Christopher Colombus menyusuri tempat dari Eropa, Tiongkok, lalu berakhir di Venesia, kemudian dilanjutkan generasi lainnya berakhir di abad-15. Namun, perjalanan sebagai kegiatan ekonomi dan sebagai industri internasional pariwisata di mulai pada 1869 ( Pitana dan Gayatri,2005:40).
 

Dari fenomena sejarah ini, menjadi indikasi bahwa kegiatan wisata sudah menjadi daya tarik manusia untuk mengetahui tempat lain, budaya, adat istiadat, dan mengenal orang-orang di berbagai tempat.
 

Kegiatan wisata dan ziarah ke tempat-tempat suci (prilgrimage) telah terjadi suatu kedekatan sebagaimana dikemukakan oleh Eric Cohen (1984) bahwa pariwisata merupakan bentuk modern dari ziarah tradisional (Tourismast a modern variety of a traditional pilgrimage).
 

MacCannel (1989) menyebutkan bahwa “Atraksi-atraksi wisata yang dinikmati wisatawan adalah simbol-simbol agama pada masyarakat primitif”.
 

Kegiatan wisata religi sejak kecil sudah saya lakukan. Kedua orang tua saya yang mengajak. Seperti ziarah di makam para wali. Saat itu saya tidak mengerti mengapa kedua orang tua saya pada waktu tertentu berziarah ke makam orang-orang suci.
 

Yang saya nikmati pada saat itu adalah diajak belanja pakaian, jajanan, makan di rumah makan khas arab, beli mainan seperti rebana, dan gelang-gelang yang dijual sepanjang lorong menuju makam.
 

Pada saat itu, saya menikmati perjalanan naik bus dan melihat suasana kota yang berbeda dengan kota kelahiran. Tak hanya kegiatan ziarah, wisata religi antara lain adalah mengunjungi masjid-masjid yang unik dan menarik.
 

Kegiatan wisata religi sampai sekarang kerap saya lakukan. Dan dari tahun ke tahun, ada beberapa manfaat dan nilai pendidikan yang dapat saya petik di sana, antara lain:​​​​​​​
 

1. Mengenal sejarah tokoh 
Mengunjungi sebuah tempat yang memiliki sejarah, bahkan di sana terdapat tokoh yang memiliki riwayat dengan tempat di mana jasad disemayamkan, dan mencari informasi sejarahnya yang bisa kita dapat dari juru kunci, atau kisah yang populer beredar di masyarakat tersebut menjadi suatu pengetahuan tersendiri untuk memperkaya wawasan. Menghayati makna dan kiprah seorang tokoh yang melahirkan sebuah tradisi dan budaya, memberikan nilai edukasi dari mana sebuah masyarakat lahir.
 

2. Berinteraksi secara sosial dan mengenal budaya suatu masyarakat
Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dengan aneka ragam agama dan budaya, agar manusia saling mengenal. Semakin sering kita mengunjungi suatu tempat, berinteraksi aktif dengan orang-orang dengan perbedaan karakter, bahasa dan budaya, menjadi nilai lebih bagi kita untuk memperkaya pengalaman. Baik pengalaman dalam menikmati, memahami dan menghayati simbol-simbol budaya akan melahirkan sikap menghargai perbedaan.​​​​​​
 

3. Menikmati pemandangan
Suatu tempat yang kita kunjungi, terutama yang jauh dari tempat kelahiran dan tempat tinggal kita selalu menjadi hal yang menarik. Tidak hanya sebagai pengalaman seru dan ajang merelaksasikan diri dari rutinitas hidup, tetapi bertadabur alam dan ber ”fantasyiru fil ardhi” (bertebaran di muka bumi) adalah anjuran Allah Sang Maha Pencipta.
 

Alam yang indah, tempat yang unik, ada untuk kita nikmati sebagai media membangkitkan rasa syukur kita dianugerahi panca indera untuk bisa menyaksikan indahnya ciptaan Allah.​​​​​​​
 

4. Media untuk berfikir dan berdzikir

Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah untuk mengemban amanah dalam mengelola alam, pada saat yang sama ia adalah seorang hamba yang wajib tunduk patuh pada perintah-Nya.
 

Kegiatan wisata religi tak hanya menziarahi sebuah makam, mendoakan dan melantunkan kalimah-kalimah dzikir sebagai upaya “tazkiyatun nafsi” (penyucian diri), tetapi wisata religi dalam kegiatan lain, seperti ikut serta pada upacara haul, peringatan-peringatan hari-hari besar islam yang menyatu pada suatu tradisi masyarakat setempat adalah sebuah media bagi manusia untuk menyediakan ruang perenungan, kotemplasi, juga silaturahmi dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama.
 

Kegiatan wisata religi juga memiliki manfaat lainnya, yakni mempererat tali persaudaraan sesama manusia (ukhuwah fi basyar), seiman (ukhuwah fi dien) dan ikatan saudara sebangsa setanah air (ukhuwah wathaniyah).
 

Indonesia merupakan negara dengan potensi wisata religi yang sangat besar. Dengan aneka ragam budaya dan agama yang diakui negara, masyarakat Indonesia bisa menikmati berbagai wisata “trans religi”. Tentu tujuan utamanya bukan untuk merusak kemapanan akidah yang sudah dianut, tetapi sebuah kemauan mengenal dan menghayati berbagai ragam budaya dan agama dengan sudut pandang bahwa kita adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah.
 

*) Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Penulis Buku, Content Writer Artikel Islami Media Online. Saat ini tinggal di Mojokerto


Editor:

Opini Terbaru