• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 18 Juni 2024

Pantura

Ngaji Filsafat di Unugiri, Fahruddin Faiz: Manusia sebagai Makhluk Potensial

Ngaji Filsafat di Unugiri, Fahruddin Faiz: Manusia sebagai Makhluk Potensial
Fahruddin Faiz saat mengisi Ngaji Filsafat di Unugiri (Foto: NOJ/YouTube Unugiri TV)
Fahruddin Faiz saat mengisi Ngaji Filsafat di Unugiri (Foto: NOJ/YouTube Unugiri TV)

Bojonegoro, NU Online Jatim

Fahruddin Faiz menjelaskan tentang manusia adalah manusia potensial. Ia punya potensi untuk menjadi apa saja, mau iman bisa, kufur bisa, santai bisa dan giat juga bisa.


Hal tersebut ia katakan saat mengisi Sinau Kajian Filsafat di Auditorium Hasyim Asy’ari Lantai III Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro, Sabtu (25/05/2024).


“Kuncinya mau atau tidak, kalau mau harus serius. Yang awalnya tidak bisa karena mau dengan serius akhirnya akan bisa,” katanya.


Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman itu memberikan contoh yakni seorang laki-laki yang awalnya tidak bisa membuat puisi kemudian ketika jatuh cinta dengan perempuan tiba-tiba pandai membuat puisi. Hal ini menunjukkan sebenarnya manusia bisa melaukan apa saja, persoalan sebelumnya tidak bisa, hanya karena kurang serius saja.


“Ada madzhab bagi manusia yakni digali, dibentuk, dan harus diterima. Kalau saya ditanya madzhab yang mana? Maka saja jawab ketiga-tiganya,” ujarnya.


Demikian juga mahasiswa, bisa menggali bakat masing-masing. Kemudian menekuni dengan serius dan pada akhirnya harus menerima hasilnya. Ketiga madzhab tersebut bisa dipakai namun harus runtut. Artinya jika waktunya usaha dengan giat ia pasrah, namun waktunya pasrah ia berjuang.


“Waktunya belajar agar mendapat nilai tinggi, kamu malah santai. Ketika sudah keluar nilai jelek, kamu mulai bingung dan usaha cari dosen melakukan loby biar nilainya diganti menjadi nilai yang bagus,” ungkapnya.


Kemudian bagaimana syarat untuk mencari jati diri. Syarat pertama, menurut Fahruddin Faiz adalah ilmu, ilmu sebagai sebuah syarat adalah mutlak tidak bisa ditawar. Maka harus belajar sekuat-kuatnya, baca seluas-luasnya. Minimal mahasiswa satu bulan membeli satu buku atau satu tahun punya dua belas buku yang dibaca.


“Cari buku yang menurutmu menarik, itu saja. Tidak harus kemudian cari buku sesuai jurusan, misal karena di Fakultas Tarbiyah lantas beli buku pendidikan,” paparnya.


Dirinya menceritakan zaman dirinya menjadi mahasiswa punya prinsip setiap hari harus memiliki wawasan baru. Ketika hendak tidur, bertanya kepada diri sendiri, hari ini dapat wawasan baru apa.


“Kalau tidak dapat apa-apa kemudian harus inisiatif bergegas mencari koran atau majalah untuk mencari wawasan baru,” tandasnya. 


Pantura Terbaru