• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 30 September 2022

Pendidikan

FEB Unisma Bekali Mahasiwa KSM Goes to Village

FEB Unisma Bekali Mahasiwa KSM Goes to Village
FEB Unisma bekali mahasiwa KSM Goes to Village. (Foto: NOJ/Times Indonesia)
FEB Unisma bekali mahasiwa KSM Goes to Village. (Foto: NOJ/Times Indonesia)

Malang, NU Online Jatim
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma) dalam membekali mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) menggelar Goes to Village. Kegiatan ini mengusung tema ‘Pendayagunaan potensi desa dalam mendukung Sustainable Village’.


Dekan FEB Unisma, Nur Diana, S.E., M.Si. mengatakan, UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa menempatkan desa sebagai subyek pembangunan menjadi pihak yang memfasilitasi tumbuhkembangnya kemandirian dan kesejahteraan desa melalui upaya-upaya untuk membangkitkan keberdayaan dan pembangunan masyarakat desa di bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan.


“Hal ini memiliki keselarasan dengan program Merdeka Belajar Membangun Desa atau KSM tematik. Untuk itulah perlu ada keselarasan upaya-upaya program merdeka belajar membangun desa dalam mendukung potensi desa,” ujarnya.


Dalam paparannya, ia menekankan bahwa dalam MBKM mahasiswa diberikan hak belajar 3 semester untuk memilih bebas memilih beberapa program dari 8 program merdeka belajar, salah satunya program membangun desa/KSM yang bisa diikuti dalam 1-2 semester.


“Sehingga bisa dikonversi menjadi 20 sampai dengan 40 SKS. Dan ada juga model KSM tematik yang diikuti selama 40 hingga di konvesi menjadi 3 SKS,” terangnya.


Lebih lanjut, Diana menjabarkan bagaimana program membangun desa mahasiswa selaras dengan pencapaian Sustainability Goals Desa yang mana ada 18  tujuan dan tercover dalam empat pilar menunjukkan ada dan pentingnya keseimbangan di antara pilar/dimensi sosial, dimensi ekonomi dan dimensi lingkungan hidup, serta pilar tata kelola.


“Untuk menjalankan program dapat mengembangkan soft skills dan hard skills mahasiswa serta mampu membangkitkan, menumbuhkan, dan mengembangkan berbagai dimensi kecerdasan tersebut,” tandasnya.


Sementara Pegiat desa/ Tenaga Ahli Kabupaten Malang, Esti Pratiwi,SE menyampaikan, desa tidak semata-mata bicara anggaran, dana desa, dan uang, tapi bagaimana peradaban di desa ini benar- benar terjadi dengan baik melalui kelola yang baik pula.


“Di sinilah sepertinya peran program merdeka belajar dapat diikutsertakan dalam pemberdayaan desa," katanya.


Dijelaskan, masyarakat desa merupakan faktor utama dalam kemandirian desa. Desa merupakan kesatuan hukum yang memiliki batas wilayah tertentu didasari dengan prakarsa desa, tokoh masyarakat dimana secara lapangan banyak mendapatkan tantangan-tantangan.


Senada dengan itu, Kordinator TPP P3MD Kabupaten Malang, Winartono, M.IKom melanjutkan bahwa desa butuh mahasiswa untuk membuat perubahan. Hal ini sebagaimana diamanatkan Undang-undang bahwa desa sebagai subyek, masyarakatnya desa harus diperlakukan sebagai subyek dalam pembangunan baik secara hukum maupun secara sosial.


“Untuk itulah terkait peran perguruan tinggi dalam membangun desa atau program inovasi desa yang melibatkan mahasiswa dan dosen harus membuat pemetaan secara partisipatif, dimana membawa mindset kita atau cara kita untuk mengetahui desa secara baik,” tambahnya.


Acara ini dihadiri secara luring oleh 500 mahasiswa yang diselenggarakan di Hall Abdurahman Wahid Lt. 7 dan 400 Mahasiswa secara daring.


Pendidikan Terbaru