Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Bupati Sumenep: Ansor Harus Tingkatkan Kemampuan SDM

Bupati Sumenep:  Ansor Harus Tingkatkan Kemampuan SDM
Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim. (Foto: NOJ/Habib)
Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim. (Foto: NOJ/Habib)

Sumenep, NU Online Jatim

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep menghelat Konferensi Cabang atau Konfercab IX, Sabtu (24/10/2020). Acara yang dipusatkan di Pesantren Assadad, Ambunten Timur, Ambunten, Sumenep tersebut mengusung tema Menyatukan Jamaah untuk Harakah An-Nahdliyah.

 

Hadir dalam acara ini jajaran Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sumenep, serta masyaikh NU lainnya.

 

Turut hadir pula Ketua DPRD, Abd Hamid Ali Munir dan Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, yang juga membuka acara Konfercab ini.

 

"Dengan pembacaan bismillahirrahmanirrahim, Konfercab Ansor Sumenep resmi kami buka," kata bupati dua periode ini disambut tepuk tangan hadirin.

 

Sebelumnya, dirinya berharap Konferensi bagian dari demokrasi yang substansial, dan tidak hanya sebagai formalitas belaka. Selain itu, juga harus menjadikan demokrasi yang bisa membawa nilai yang sama dengan yang ada di tubuh NU. Serta menjadikan demokrasi yang memiliki nilai yang sama dengan al-Qur'an dan hadits.

 

"Karena tidak semua nilai demokrasi itu sama dengan yang terkandung dalam al-Qur'an dan hadits. Dalam demokrasi itu masih banyak hal yang harus disempurnakan, agar sesuai dengan nilai yang termaktub dalam al-Qur'an dan hadits," ujarnya.

 

Pengasuh Pesantren Al-Karimiyah, Baraji, Gapura ini menyebutkan banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Ansor Sumenep ke depan. Pertama, memberikan edukasi politik yang baik kepada publik. Karena politik saat ini sudah mengalami pergeseran menjadi politik pragmatis dan transaksional.

 

"Maka, siapa pun yang menjadi Ketua Ansor Sumenep nantinya, harus benar-benar berpikir idealis. Jangan sampai nanti kerjanya malah bau politiknya lebih kental daripada ideologisnya, utamanya dalam memperjuangkan dan mempertahankan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah," terangnya.

 

Tantangan kedua yang harus dihadapi Ansor adalah dalam hal ekonomi. Gerak ekonomi yang kapitalistik telah membawa dampak besar terhadap perubahan berpikir masyarakat Indonesia, yang dalam hal ini utamanya masyarakat Sumenep.

 

"Dan menjadi semakin runyam ketika ekonomi dan politik ini hanya dikuasai oleh sekelompok orang tertentu atau oligarki," ungkap lulusan IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

 

Dirinya berharap, sumber daya manusia (SDM) di Ansor terus ditingkatkan. Sebisa mungkin, peningkatan SDM tersebut dapat dijadikan program pokok utamanya dalam keberlangsungan khidmah Ansor untuk bangsa.

 

"Mengingat, di era 4.0 ini kita dituntut untuk terus  mengamati dan mempelajari perkembangan zaman, dengan tanpa meninggalkan budaya lokal yang diwariskan oleh leluhur kita," jelasnya.

 

Diharapkan pula, Ansor Sumenep semakin baik dan profesional. Juga dituntut untuk hadir dan menjadi corong utama dalam mendukung NU dalam hal penguatan jamaah dan jamiyah.

 

"Jika semula Ansor Sumenep dirasa kesulitan untuk menjamiyahkan jamaah di daerah perkotaan. Maka, sudah seyogyanya di kepemimpinan selanjutnya Ansor mulai merambat daerah perkotaan. Ini tidak lain sebagai syiar dalam memperjuangkan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah," pungkasnya.

PWNU Jatim Harlah