Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Ingin Selalu Memiliki Wudlu, Bagaimana Hukumnya?

Ingin Selalu Memiliki Wudlu, Bagaimana Hukumnya?
Penumpang di kereta menjaga wudlu dengan mengaji. (Foto: NOJ/WPm)
Penumpang di kereta menjaga wudlu dengan mengaji. (Foto: NOJ/WPm)

Ada keinginan kaum muslimin untuk senantiasa dalam keadaan berwudlu. Karena itu segala cara dilakukan, antara lain dengan menjaga tidak bersentuhan termasuk bersalaman dengan lawan jenis bukan mahram.  Tapi bagaimana bila yang dilakukan adalah dengan menahan kentut atau buang air besar maupun kecil? Demikian juga yang berstatus sebagai suami istri maupun mereka yang harus melayani pembeli? Catatan berikut memberikan penjelasan.

 

Nggantung wudlu adalah istilah yang biasa kita dengar untuk merujuk seseorang bahwa ia menjaga wudlunya agar tidak batal akibat hadats kecil yang dialaminya. Hadats kecil bisa karena telah buang hajat seperti kencing dan buang air besar, kentut, tidur, bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan sebagainya. 

 

Terkadang terjadi orang-orang yang membiasakan diri nggantung wudlu bersikap canggung dalam interaksinya dengan lawan jenis yang bukan mahram termasuk suami/istrinya sendiri. Nggantung wudlu adalah baik selama dilakukan secara wajar, namun dalam kasus-kasus tertentu bisa kurang baik. Misalnya, seorang istri atau suami yang sedang nggantung wudlu merasa tidak nyaman ketika pasangan hidupnya mendekat padanya. Seketika ia mengambil jarak agar wudlunya tidak batal dengan menghindari persentuhan kulit dengan pasangannya.

 

 

Dalam memberikan layanan kepada pasangan hidup seperti mengambilkan makanan atau lainnya, seorang istri atau suami kadang melakukannya setengah hati karena khawatir wudlunya akan batal jika terjadi persentuhan kulit. Sikap seperti ini bisa menjauhkan kehangatan hubungan antara suami/istri dengan pasangan hidupnya. Padahal bersikap hangat dan romantis terhadap pasangan hidup merupakan hal yang dilakukan Rasulullah. 
 

Kasus lain, misalnya, seorang penjual di sebuah toko bersikap caggung dalam memberikan susuk/jujul (uang kembalian) kepada pembeli karena khawatir akan batal wudlunya akibat persentuhan kulit dengan lawan jenis. Uang kembalian ia serahkan kepada pembeli dengan tangan yang ceikthang-cekithing (ditahan-tahan antara ‘ya’ dengan ‘tidak’) seolah-olah tangan sang pembeli terdapat najis yang harus dihindari.

 

Secara fiqih hal ini bisa dipahami tetapi secara akhlak tentu kurang baik karena terkesan kurang ramah dalam melayani pembeli. Apalagi ada adagium bahwa pembeli adalah raja yang harus dilayani dan dihormati dengan baik. 

 

Secara fiqih sikap-sikap seperti itu bisa dipahami, tetapi secara akhlak tentu kurang baik karena terkesan kurang sopan atau kurang hangat dalam bermuamalah kepada pasangan hidupnya. Suami-istri sangat dianjurkan untuk saling membantu dan melayani secara wajar sebagai wujud cinta kasih dan tanggung jawab masing-masing atas pasangannya. 

 

Pertanyaannya, seperti apakah makna yang benar menjaga wudlu atau nggantung wudlu itu? Apakah dengan menjaga diri dari hadats kecil agar tidak batal wudlunya dalam jangka lama sebagaimana umumnya dipahami banyak orang selama ini? Ataukah ada makna lain yang lebih sesuai dan wajar dilihat dari segi akhlak dan kesehatan? 

 

Pertanyaan itu bisa ditemukan jawabannya dalam kitab karangan Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, halaman 79-80) yang menasihatkan tentang pentingnya pembiasaan memperbarui wudlu dalam rangka memelihara kebersihan lahir dan batin sebagai berikut:

 

  ـ(وعليك) بتجديد الوضوء لكل فريضة واجتهد أن لا تزال على طهارة، وجدد الوضوء كلما أحدثت؛ فإن الوضوء سلاح المؤمن ومتى كان السلاح حاضراً لم يتجاسر العدو على الدنو منك.

 

Artinya: Hendaknya Anda membiasakan memperbarui wudlu setiap kali shalat fardlu. Usahakanlah Anda selalu dalam keadaan suci (berwudlu). Perbaruilah wudlu Anda setiap kali berhadats (batal wudlu), sebab wudlu adalah senjata orang mukmin. Selama senjata itu siap, tak seorang musuh pun berani mendekat. 

 

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa kita dianjurkan untuk senantiasa memperbarui wudlu setiap kali wudlu kita batal karena alasan apapun. Ini artinya kita bukan dianjurkan untuk menjaga wudlu atau nggantung wudlu dengan cara menahan diri agar tidak batal dalam rentang waktu lama. Menahan seperti ini sesungguhnya tidak baik karena dapat mengganggu kesehatan. Misalnya, menahan kencing dalam waktu lama dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing. Menahan buang air besar dapat mengakibatkan pembesaran usus yang berdampak buruk pada jantung, dan sebagainya. 

 

Dalam hubungannya dengan akhlak bermuamalah, nggantung wudlu dapat mempengaruhi interaksi kita dengan orang lain termasuk terhadap suami/istri kita sendiri sebagaimana telah disinggung di atas. Nggantung wudlu memang kedengarannya baik tetapi sebetulnya bermasalah sebab bisa mengurangi keintiman dan kehangatan terhadap pasangan hidup. Padahal keintiman dan kehangatan sangat penting untuk menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Kedua hal ini lebih besar manfaatnya dari pada upaya kita untuk sekadar nggantung wudlu yang ternyata hal ini tidak memiliki dasar yang kuat. 

 

Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan di atas, Sayyid Abdullah al-Haddad juga menyatakan bahwa wudlu adalah senjata orang mukmin. Selama senjata itu siap, tak seorang musuh pun berani mendekat. Maka ibarat pedang, barang siapa sering berwudlu berarti ia sering mengasah pedangnya sehingga senjata itu sangat tajam dan menakutkan. Apalagi dalam keadaan terhunus, tentu setan-setan tidak akan berani mendekat.

 

Demikian pula manusia-manusia pengikut setan juga tidak akan berbuat macam-macam kepadanya karena setan sebagai sumber godaan tidak berani membujuk mereka. 

 

Sedemikian besar manfaat pembiasaan memperbarui wudlu dalam kaitannya dengan kesucian dan perlindungan diri dari setan, maka orang yang hendak melaksanakan shalat fardhu dianjurkan memperbarui wudlunya meski belum batal.

 

Orang shalat menahan kentut dengan alasan apa pun, misalnya supaya tetap nggantung wudlu hukumnya makruh sebab bisa mengganggu pikiran atau kekhusyukan dalam shalatnya. Ia justru sebaiknya melepaskan kentutnya di tempat yang tepat, lalu segera memperbarui wudlunya. 

 

Jadi yang sebaiknya kita lakukan dalam kaitannya dengan wudlu adalah pembiasaan memperbarui wudlu setiap kali batal dan bukannya menjaga diri dengan cara menahan-nahan supaya tetap nggantung wudlu. Inilah makna yang lebih tepat dalam kaitannya dengan anjuran untuk selalu menjaga diri dari hadats kecil. 

 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

F1 Promosi Iklan