Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kisah Pertobatan Pelacur di Hadapan Kiai

Kisah Pertobatan Pelacur di Hadapan Kiai
Sejumlah perempuan penjaja seks ditangkap dan diproses. (Foto: NOJ/RTn)
Sejumlah perempuan penjaja seks ditangkap dan diproses. (Foto: NOJ/RTn)

Saat ini tengah booming penyebutan kata pelacur seiring dengan perseteruan antara salah seorang habib dengan artis ibu kota.

 

Masalah semakin pelik karena masing-masing menyampaikan statemen di media sosial demi menyerang pihak lain. Dan hal tersebut ternyata diikuti sejumlah pengagum dan simpatisan kedua belah pihak. Muncullah kata-kata yang kurang sedap didengar, sebagai upaya menyudutkan pihak lain.

 

Di salah satu postingan yang sudah beredar luas di media sosial memberikan ‘jalan tengah’ dan gambaran. Yakni bagaimana menyikapi kalangan yang tidak diminati, bahkan dianggap sampah sekalipun. Bahkan ujung dari kisah berikut dapat menjadi pelajaran bahwa berdakwah hendaknya dapat dilakukan dengan santun, sehingga menyentuh kalangan yang melakukan pekerjaan buruk sehingga kembali ke jalan yang benar. 

 

Adalah KH Ali Yahya Lasem yang terkenal tampan, tegap dan atletis mirip bule. Suatu hari mendapatkan undangan pengajian di Jepara. Dalam perjalanan di kawasan lampu merah, mobil berhenti dan saat itu Kiai Ali duduk di samping sopir dengan melepas serban dan kopiah yang biasa dipakai.

 

Tiba-tiba ada seorang pelacur menghampiri mobilnya. Dia mengira bahwa pria di mobil itu adalah turis.

 

"Malam om,” ujar perempuan itu.

 

“Malam,” jawab Kiai Ali.

 

“Boleh ikut om?,”

 

Kiai Ali Yahya menjawab: Boleh-boleh, silakan masuk.

 

Perempuan muda itu bergegas masuk pintu langsung ditutup dan mobil jalan kembali.

 

Di dalam mobil, perempuan muda itu berkata: “Mau kemana om, butuh aku gak? Aku temeni sampai pagi ya?”

 

Kiai Ali  menjawab dengan tenang sambil mengenakan kembali serban dan kopiahnya: ”Ya, ini saya mau ngaji ke Jepara."

 

Perempuan itu sontak kaget dan sadar kalau dia salah mangsa: “Oh jadi bapak ini kiai ya?,”

 

Kiai Ali lucu mendengarnya dari panggilan om berubah menjadi kiai.

 

“Maaf kiai, saya  tidak tahu,” lanjut perempuan itu yang semakin salah tingkah, pucat dan ketakutan.

 

"Oh ndak apa-apa, santai saja mbak, sekali-kali ikut pengajian bagus,” jawab Kiai Ali santai.

 

Perempuan itu langsung menjawab: “Ndak usah kiai, saya turun di sini saja.

 

"Ndak bisa. Tadi sampeyan bilang mau ikut, ya harus ikut,” jawab Kiai Ali.

 

"Tapi saya malu kiai, saya tidak pakai jilbab."

 

Kiai Ali menimpali dengan santai. ”Ndak usah malu, santai saja. Masalah jilbab gampang, nanti tak pinjemkan jamaah."

 

Perempuan itu sudah kehabisan alasan.

 

Begitu tiba di lokasi pengajian, Kiai Ali turun menghampiri jamaah ibu-ibu. ”Maaf bu, bisa pinjam jilbabnya? Ini lho, ibu nyai terburu-burtu ikut saya, sampai lupa tidak bawa jilbab.”

 

Dalam hati jamaah ibu-ibu heran, masa ibu nyai lupa berjilbab?

 

”Sebentar saya ambilkan pak kiai,” jawab ibu-ibu itu bergegas pergi dan tidak lama kembali dan menyodorkan jilbab ke dalam mobil dan langsung dipakai oleh sang perempuan.

 

Setelah rapi, perempuan itu turun dari mobil dan masyaallah langsung diserbu jamaah ibu-ibu untuk mencium tangannya.

 

“Ngalap berkah,” kata mereka.

 

Perempuan ini langsung disilakan masuk, dijamu dan dilayani sebagaimana ibu nyai. Ada haru campur malu menyelinap di hati dan membuatnya menjadi pucat karena mendapat kehormatan yang demikian besar menjadi ibu nyai dadakan.

 

Setelah pengajian selesai, bu nyai ini dipersilakan untuk menikmati jamuan, dan ibu-ibu mohon doa keberkahan dari ibu nyai. Perempuan itu kaget setengah mati, karena sudah lama dia tidak berdoa bahkan shalatpun lama ditinggalkan. Untungnya dia masih ingat doa ringkas sapu jagat.

 

Sebelum pulang, jamaah ibu bergantian mencium tangannya dan mengantar sang ibu nyhai dadakan itu masuk mobil.

 

Selama perjalanan, perempuan itu menangis tersedu-sedu. Kiai Ali membiarkan hingga reda. Setelah suasana agak tenang, Kiai Ali menasihati.

 

“Apakah sampean tidak melihat dan berpikir tentang bagaimana orang-orang tadi memperlakukan, menghormati, mengantarkan, dan rela juga antri hanya untuk dapat mencium tanganmu satu demi satu bahkan minta berkah doa darimu?"

 

Kembali perempuan itu menangis dan teringat perbuatan dosa yang dilakukan. Tetapi Allah menutup aib, dengan demikian masih sangat menyayangi dirinya.

 

“Hari ini,” lanjut Kiai Ali “Sampean dapat nasihat yang paling berharga selama hidup. Maka segeralah bertobat mohon ampun kepada Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum tobat.”

 

Tangisan kian deras dan Kiai Ali membiarkannya. Sambil terisak wanita itu berkata:

 

”Terima kasih kiai atas nasihatnya dan berkah atas kejadian ini. Mulai hari ini saya tobat dan berhenti dari pekerjaan ini. Sekali lagi terima kasih."

 

Semoga kisah ini semakin meneguhkan kaum muslimin untuk tidak memandang rendah kepada pelacur sekalipun. Bila Tuhan berkehendak, mereka yang dalam keseharian berlumuran dosa pada akhirnya akan kembali menjadi muslim yang baik. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat, dan jangan pernah memandang serta memperlakukan jelek kalangan lain. Wallahu a'lam. 

Iklan Hari Pahlawan