Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Menguji Kualitas Hadits Ramadlan Terbagi Tiga Bagian

Menguji Kualitas Hadits Ramadlan Terbagi Tiga Bagian
Sejumlah penceramah menyebutkan Ramadlan terbagi menjadi tiga bagian. (Foto: NOJ/UMa)
Sejumlah penceramah menyebutkan Ramadlan terbagi menjadi tiga bagian. (Foto: NOJ/UMa)

Dalam banyak kajian kuliah tujuh menit atau Kultum maupun ceramah, para dai kerap menyitir pembagian bulan Ramadlan. Hal tersebut mungkin untuk menyemangati muslimin agar memanfaatkan bulan penuh berkah ini dengan amal terbaik.   

 

Salah satu hadits yang sering digunakan oleh para dai adalah terkait pembagian keutamaan bulan Ramadlan menjadi tiga, yaitu sepuluh hari pertama rahmat, sepuluh hari kedua adalah ampunan, dan sepuluh hari ketiganya adalah terbebas dari api neraka.

 

 أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق من النار

 

Artinya: Awal bulan Ramadlan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.

 

 

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syuʽabul Iman dan juga diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Sahih ibn Khuzaimah. Walaupun diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Sahih-nya, menurut al-Suyuthi, hadits ini bermuara pada satu sumber sanad (madar), yaitu Ali ibn Zaid ibn Jadʽan yang divonis oleh para ulama sebagai orang yang dlaif.

 

Sedangkan orang yang meriwayatkan hadits tersebut dari Ali ibn Zaid adalah Yusuf bin Ziyad yang divonis dlaif parah (dlaif jiddan). Walaupun ada ulama lain yang juga meriwayatkan hadits ini dari Ali bin Zaid, yaitu Iyas ibn Abd al-Ghaffar. Sayangnya Iyas sendiri juga orang yang majhul menurut Ibn Hajar al-Asqalani. (Lihat: al-Suyuthi, Jâmiʽ al-Aḥâdîts [Beirut: Dar Fikr, t.t], j. 23, halaman 176.)

 

Lantas, apakah hadits tersebut bisa diamalkan? Pada prinsipnya, hadits yang berkaitan dengan fadlail amal (keutamaan beramal) itu boleh diriwayatkan atau dalam konteks pembahasan tulisan ini, boleh digunakan untuk ceramah, walaupun dlaif. 

 

Mahmud al-Thahhan menyebutkan bahwa hadits dlaif bisa disampaikan atau diriwayatkan, bahkan tanpa menyebutkan kedlaifannya, namun dengan dua syarat berikut: Pertama, tidak berhubungan dengan akidah, seperti sifat Allah SWT dan sebagainya.

 

Kedua, tidak berhubungan dengan hukum syariat seperti halal dan haram. Mahmud al-Thahhan menambahkan bahwa ada juga beberapa ulama yang menggunakan hadits dlaif untuk semacam memberikan ceramah atau tausiyah, seperti Sufyan al-Tsauri, Abdurrahman bin al-Mahdi dan Ahmad bin Hanbal.

 

 تجوز روايتها في مثل المواعظ والترغيب والترهيب والقصص وما أسبه ذالك. وممن روي عنه التساهل في روايتها سفيان الثوري وعبد الرحمن بن المهدي وأحمد بن حنبل.

 

Artinya: Boleh meriwayatkan hadits dalam hal ceramah, anjuran, ancaman, kisah, dan semacamnya. Beberapa ulama yang toleran meriwayatkan hadits dlaif (terkait maidlah, anjuran, ancaman, kisah, dan sebagainya) adalah Sufyan al-Tsauri, Abdurrahman bin al-Mahdi dan Ahmad bin Hanbal). (Lihat: Mahmud al-Thahhan, Taysîr Musṭalaḥ al-Hadîts [Riyadh: Maktabah al-Maarif, 2004], halaman 80).

 

Namun, ketika seorang penceramah telah mengetahui bahwa hadits itu dlaif, jangan meriwayatkan atau menyampaikan dengan sighat jazm (sighat yang meyakinkan bahwa itu benar-benar dari Rasulullah), seperti dengan lafaz ‘qâla Rasûlullah’ dan semacamnya. Tapi hendaknya meriwayatkan dengan sighat tamridh saja, seperti ‘qîla’ atau ‘ruwiya’.

 

Ini adalah salah satu tindakan untuk berhati-hati, karena telah mengetahui status kedlaifan hadits tersebut. Alangkah lebih baiknya jika dikuatkan dengan hadits lain yang secara substansi sama tapi lebih sahih sanadnya. Misalnya hadits riwayat al-Tirmidzi dan Ibn Majjah berikut ini:

 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَنَادَى مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ.

 

Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Ketika tiba awal malam bulan Ramadlan, para setan dan pemimpin-pemimpinnya dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru: Hai orang yang mencari kebaikan, teruskanlah. Hai orang yang mencari keburukan, berhentilah. Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam. (Lihat: Ibn Majjah al-Qazwaini, Sunan Ibn Majjah, [Beirut: Dar Fikr, T.t], j. 2, halaman 26.)

 

Dalam hadits di atas disebutkan lebih umum, bahwa semua kebaikan dan keutamaan ada dalam bulan Ramadlan. Namun, jika ingin lebih berhati-hati, usahakan untuk tidak menggunakan hadits dlaif dan memilih hadits yang sahih saja.

 

Guru besar ilmu hadits allahumma yarham, Kiai Ali Mustafa Yaqub menyebutkan bahwa hadits yang menjelaskan bahwa cukup menggunakan hadits sahih tentang orang yang puasa Ramadlan akan mendapatkan keutamaan diampuni dosannya yang lalu, sebagaimana riwayat al-Bukhari berikut:

 

 من صام رمضانَ إيمانا واحتسابا غُفِرَ له ما تقدَّم من ذَنْبِهِ

 

Artinya: Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadlan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari)

 

Atau juga bisa dengan redaksi yang lebih umum, yaitu qâma ramadlâna, yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:

 

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غُفِرَ له ما تقدَّم مِنْ ذَنْبِهِ ، ومن قام ليلةَ القَدْرِ إيمانا واحتسابا غُفِرَ له ما تقدَّم مِنْ ذَنْبِهِ

 

Artinya: Siapa yang menghidupkan bulan Ramadlan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang menghidupkan (beribadah) malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah SWT maka diampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

 

Kiai Ali Mustafa Yaqub menyatakan bahwa hadits ini sudah cukup untuk menjelaskan keutamaan beribadah pada bulan Ramadlan, tanpa harus menggunakan hadits-hadits dlaif bahkan maudhu‘. Ini dilakukan dalam rangka berhati-hati agar kita tidak terjerumus untuk berbohong atas nama Nabi Muhammad. 

 

Wallahu a’lam.

 

Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits, Alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah Tangerang Selatan, Banten.​​​

Bank Jatim (31/7)