Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Pesona, Kegiatan Shalawat dan Kajian Kitab Ranting NU di Sidoarjo

Pesona, Kegiatan Shalawat dan Kajian Kitab Ranting NU di Sidoarjo
H Arly Fauzy sedang memberikan paparan Kajian Kitab Arbain Nawawi di Masjid Al Mubarak Kebonsari, Sidoarjo. (Foto: NOJ/Mila)
H Arly Fauzy sedang memberikan paparan Kajian Kitab Arbain Nawawi di Masjid Al Mubarak Kebonsari, Sidoarjo. (Foto: NOJ/Mila)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Pecinta Shalawat Nariyah (Pesona) Majelis Ta'lim Perempuan Nusantara, demikian kegiatan yang dikemas oleh Nahdliyyin di Ranting Kebonsari, Candi, Sidoarjo. Agenda ini diadakan rutin sebulan sekali, bergilir di setiap ranting se-Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Candi.

 

Berlangsung di pagi hari, biasanya diawali dengan pembacaan shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali dan asmaul husna. Lalu dilanjutkan dengan shalat Dluha berjamaah yang dipimpin oleh Achmad Munir, Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kebonsari.

 

"Kegiatan ini bertujuan untuk syiar dan berlomba-lomba dalam kebaikan," ungkap Toyyibatuzzuliani, yang merupakan guru di Raidlatul Athfal (RA) Muslimat NU di Candi.

 

Perempuan yang juga Ketua Asosiasi Perempuan Bangsa itu mengatakan bahwa kegiatan dihadiri pengurus dan anggota asosiasi yang dinaunginya serta warga masyarakat di Kebonsari dan sekitarnya.

 

"Biasanya kami selenggarakan di hari Ahad," imbuhnya pada pewarta NU Online Jatim (17/03/2021).

 

Untuk menambah keberkahan kegiatan rutinan tersebut, diadakan pula Kajian Kitab Arbain Nawawi yang diasuh oleh H Arly Fauzi. Dalam penjelasan hadist pertama dari kitab tersebut, dia menyampaikan kepada jamaah bahwa niat adalah barometer amal.

 

"Niat itu merupakan barometer amal. Baik buruknya amal akan dipengaruhi oleh niatnya," tandas Wakil Ketua PCNU Sidoarjo itu.

 

Dalam penjelasan hadist itu, H Arly menjelaskan bahwa keikhlasan adalah ruh dari amal perbuatan kita. Tanpa ikhlas, amal kita ibarat jasad tanpa ruh. Ikhlas dalam beribadah itu ada tiga tingkatan, yakni 'ibadatul abid' (ibadah kelas karyawan) karena takut siksa neraka; 'ibadatut tujjar' (ibadah kelas pedagang) karena ingin mendapatkan pahala, dan 'ibadatul akhyar' (ibadah orang-orang terpilih) karena rasa syukur kepada Allah.

 

"Adapun penyakit yang merusak keikhlasan amal itu ada dua, yakni riya' dan ujub," jelas Ketua Badan Penyelenggara Pelaksana (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) itu.

 

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim