• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 21 Mei 2022

Rehat

Kisah Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang

Kisah Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang
Ilustrasi wayang. (Foto: NU Online)
Ilustrasi wayang. (Foto: NU Online)

Wayang adalah seni pertunjukan masyarakat Jawa yang menggunakan media semacam boneka. Menurut KH Abdul Mun’im Dz, awal mulanya berisi tentang isi cerita pewayangan yang mengambil dari epos besar Ramayana dan Mahabarata yang berasal dari agama Hindu. Perjalanan kisah Sri Rhama, Sri Krisna, bahkan perang Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa, diceritakan dalam pertunjukan wayang kala itu.


Seni pertunjukan ini berkembang pesat, mulai dipentaskan di lingkungan istana kerajaan hingga ke pelosok desa. Setiap pertunjukkan, wayang tidak sekedar berfungsi sebagai tontonan hiburan semata, tetapi sarana untuk menjaga ketertiban, kemanan, kerukunan antar warga.


Wali Songo yang datang ke tanah Jawa, melihat pertunjukan wayang tersebut mengembangkan cerita polities atau banyak dewa dan dewi, seperti Brahma, Syiwa, Wisnu, Surya, Indra, Agni, Candra, Bayu, Gangga, Parwati, dan lainnya. Juga wayang dipagelarkan dengan menggunakan pelaku yang berbentuk arca atau boneka. Sementara agama Islam yang didakwahkan oleh para wali mengajarkan tauhid dan gambar makhluk hidup dalam pertunjukan wayang itu diharamkan dalam perspektif fikih.


Agar dakwah Islam diterima oleh masyarakat Jawa, Raden Syahid atau Sunan Kalijaga, putera Wilwatikta, Adipati Tuban itu memadukan unsur dakwah dengan seni budaya, sehingga mampu melakukan akulturasi budaya yang mampu menyadarkan masyarakat Jawa secara berangsur-angsur.


Wayang kulit yang pada waktu itu digemari masyarakat sebelum kehadirannya adalah wayang beber. Wayang ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Hingga kini diyakini masyarakat bahwa Raden Syahid pengubah wayang kulit.


Setiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan disungging (ditatah) di atas kulit kambing. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan kerajaan Demak. Di masa keemasannya, Sunan Kalijaga pawai mendalang hingga dikenal dengan Ki Dalang Sida Brangti.


Ketika Raden Syahid mendalang, ia menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tidak lagi bersumber dari epos Ramayan dan Mahabrata. Ia sering mengangkat kisah-kisah carangan (improvisasi dari pakem). Beberapa yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu.


Lakon Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir as, Jimat Kalimasada tak lain merupakan perlambang dari kalimat syahadat. Pandawa lima ditafsirkan sebagai rukun Islam. Bahkan adat kebiasaan kenduri pun menjadi sarana syiarnya. Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci al-Quran.


Dengan demikian, cerita wayag dimodifikasi dari perspektif polities menjadi monoteis. Langkah yang dilakukannya adalah menjadikan dewa itu sederajat dengan Nabi dan dianggap keturunan Sang Hyang Widi ini keturunan Nabi Sits as (lihat; Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya).


Sementara Nabi Adam as adalah hamba dan utusan Allah SWT serta khalifah di bumi. Sedangkan arca yang awalnya menggambarkan manusia, diubah secara deformasi. Sehingga wayang tidak berbentuk manusia, tetapi bentuk bayangan dari manusia.


Dengan modifikasi itu, persoalan hambatan tauhid dan fikih telah diselesaikan oleh Wali Songo sehingga masyarakat mengikuti seri cerita wayang sambil mempelajari tauhid, memperdalam kerohanian dan memperbaiki perilakunya.


Rehat Terbaru