• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Rehat

Makna Idul Fitri menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Makna Idul Fitri menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Lebaran adalah ketakwaan dan penerimaan amal ibadah. (Foto: NOJ/LKr)
Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Lebaran adalah ketakwaan dan penerimaan amal ibadah. (Foto: NOJ/LKr)

Lebaran Idul Fitri yang sekarang dirayakan umat Islam memiliki makna demikian mendalam. Diharapkan umat tidak semata merayakan dengan beragam cara. Apalagi sekadar selebrasi dengan pakaian baru dan segala yang serba anyar. Harus mulai mengambil makna hakiki dari Lebaran yang tengah dirayakan.


Semua orang memaknai Idul Fitri dengan cara dan daya pikirnya sendiri. Ada yang memaknainya dari segi etimologis, historis, filosofis, dan juga realis. Itu sah-sah saja. Demikian halnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla fil Akhlaq, wat Tashawwuf, wal Adabil Islamiyah, Syekh Abdul Qadir memaknai hari Id sebagai berikut:


 ليس العيد بلبس الناعمات وأكل الطيبات ومعانقة المستحسنات والتمتع باللذات والشهوات. ولكن العيد بظهوره علامة القبول للطاعات وتكفير الذنوب والخطيئات وتبديل السيئات بالحسنات والبشارة بارتفاع الدرجات والخلع والطرف والهبات والكرامات وانشراح الصدر بنور الإيمان وسكون القلب بقوة اليقين وما ظهر عليه من العلامات وانفجار بحور العلوم من القلوب على الألسنة وأنواع الحكم والفصاحة والبلاغة


Artinya: Idul Fitri itu bukan mengenakan pakaian bagus, mengonsumsi makanan enak, memeluk orang-orang tercinta, dan menikmati segala kelezatan duniawi. Idul Fitri adalah kemunculan tanda penerimaan amal ibadah; pengampunan dosa dan kesalahan; penghapusan dosa oleh pahala; kabar baik atas kenaikan derajat di sisi Allah, ‘pakaian’ pemberian, ‘harta benda’ baru, aneka pemberian, dan kemuliaan; kelapangan batin karena cahaya keimanan; ketenteraman hati karena kekuatan keyakinan; tanda-tanda Ilahi lain yang tampak; pancaran lautan ilmu dari dalam sanubari melalui ucapan; pelbagai kebijaksanaan, kafasihan, dan kekuatan retoris, (Lihat: Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla, Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1997 M/1417 H, juz II, halaman: 34).


Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak menolak hal-hal yang bersifat lahiriyah-material. Tetapi ada yang tidak kalah dari unsur material, yaitu aspek non-material. Baginya, ketakwaan dan penerimaan amal-ibadah jauh lebih penting dari semua yang bersifat lahiriyah.


Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengutip riwayat Sayydidina Ali RA yang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri. Betapa terkejutnya seorang sahabat yang mendapati Sayyidina Ali RA sedang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri. Bukankah ini hari raya wahai amirul mukminin? Kenapa baginda memakan roti seperti itu? Hari raya Id itu bagi mereka yang puasanya diterima, amal ibadahnya diterima, dan dosanya diampuni. Bagiku, hari ini hari raya Id. Begitu juga esok hari. Setiap hari aku tidak bermaksiat kepada Allah, dan itu artinya setiap hari adalah hari raya Id bagiku,” jawab Sayyidina Ali RA.


Dari keterangan di atas, umat Islam dapat menyimpulkan bahwa hari raya Idul Fitri bukan soal mudik atau tidak mudik, bukan masalah pakaian baru-tidak baru, bukan perkara pakai dresscode atau tidak, bukan perihal berbagi uang receh-atau tidak. Hari raya Id adalah ketakwaan, kebijaksanaan, dan perbaikan hidup beragama ke depan di bawah cahaya iman dan kekuatan keyakinan kepada Allah SWT.

 


 

Masalahnya, sudahkah kita memiliki makna Lebaran seperti itu, atau masih istikamah dengan sebatas tampilan di permukaan tanpa esensi? Wallahu a‘lam.


Rehat Terbaru