• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Rehat

Lora Ismael Al-Kholilie: Mbah Dim Kiai Besar yang Super Sederhana

Lora Ismael Al-Kholilie: Mbah Dim Kiai Besar yang Super Sederhana
Allahumma yarham, KH Dimyati Rois atau Mbah Dim. (Foto: NOJ/MKr)
Allahumma yarham, KH Dimyati Rois atau Mbah Dim. (Foto: NOJ/MKr)

Bangkalan, NU Online Jatim
KH Dimyati Rois atau oleh orang mengenalnya sering memanggilnya Mbah Dim dikenal sebagai sosok kiai besar yang sederhana.


Kesederhanaan dari sosok yang merupakan salah satu Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini wafat pada Jumat (10/6/2022) ini terekam oleh banyak orang, salah satunya adalah Lora M Ismael al-Kholilie.


Ia mengawali ceritanya dengan menuliskan kenangan mondok selama Ramadhan atau ngaji pasanan selama dua pekan di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.


“Selama ini banyak yang mengenal saya sebagai alumni Amsilati Jepara, Alumni Ponpes Al-Anwar Sarang, dan Alumni Darul Mushtofa Tarim. Tapi mungkin banyak dari kalian yang tidak tahu, bahwa saya juga ‘alumni’ Kaliwungu, meskipun di sana saya hanya mondok sekitar 2 minggu, hanya mondok Romadhonan saja,” tulisnya dalam status yang ia buat pada Jumat (10/06/2022).


Sebelum ia memutuskan untuk mengaji di Kaliwungu di kisaran tahun 2009, Lora Ismael bersama seorang sempat memiliki tekad untuk mondok di Mbah Salman Popongan Klaten. Namun pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengaji di Kaliwungu, Kendal.


Ia melanjutkan ceritanya, saat di Kaliwungu selalu istikamah untuk mengikuti shalat tarawih 1 juz di masjid Kaliwungu di malam harinya. Sementara untuk mukim, ia bertempat di Pesantren APIK Kaliwungu asuhan KH Sholahuddin Humaidullah.


“Nah setiap habis tarawih, kami berjalan kaki untuk ngaji ke KH Dimyati Rois atau yang biasa disebut Mbah Dim. Waktu itu ngajinya kitab Wasiatul Mushtofa,” ungkapnya.


Di tengah mengaji bersama Mbah Dim, Lora Ismael memiliki kesan yang amat mendalam terhadap sosok kiai kelahiran Brebes 5 Juni 1945 itu.


“Dan yang paling membuat saya berkesan adalah penampilan Mbah Dim yang super sederhana, seorang kiai besar, alim-allamah, tapi pakaiannya hanya ‘baju takwa’ lusuh dan peci hitam lawas,” ujarnya.


“Waktu itu kami mengaji di kediaman beliau, yang bisa dibilang sangat minimalis dan sederhana untuk sekelas kiai kondang,” tambahnya.


Saat pulang, dirinya lantas menceritakan kekagumannya kepada ibunya. 


“Mii. Di sana saya ngaji ke kiai, yang penampilannya nggak kayak kiai sama sekali. Kayak orang biasa,” ceritanya. 


Ummi berdecak kagum, saking kagumnya cerita itu juga ummi ceritakan ke banyak orang.


Di akhir, ia menutupnya dengan menuliskan keyakinannya bahwa sosok Mbah Dim merupakan seorang kiai yang benar-benar ikhlas dalam memperjuangkan agama.


“Saya yakin, selain sosok yang super tawadhu, zuhud dan sederhana, Mbah Dim adalah seorang yang benar-benar ikhlas dalam memperjuangkan agama. Saya pernah mendengar bahwa semua bangunan pondok Al-Fahdlu yang beliau asuh itu murni dari uang pribadi beliau, bukan uang sumbangan donatur atau bantuan pemerintah,” tukasnya. 


“Sugeng tindak Mbah Dim, Allah Yarhamak wa Yuqaddis Sirrak. Ila Ruuhi KH Dimyati Rois. Al-Fatihah,” tutupnya.

 

Penulis: Ahmad Hanan
 


Editor:

Rehat Terbaru