• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 26 April 2024

Rehat

Penjelasan Wafatnya Ulama Bermakna Matinya Alam Semesta

Penjelasan Wafatnya Ulama Bermakna Matinya Alam Semesta
Rais Syuriyah PCNU Bangkalan hari ini, Sabtu (14/05/2022) wafat. (Foto: NOJ/Sa'dullah)
Rais Syuriyah PCNU Bangkalan hari ini, Sabtu (14/05/2022) wafat. (Foto: NOJ/Sa'dullah)

Surabaya, NU Online Jatim
Kabar duka melingkupi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bangkalan dan warga NU pada umumnya. Betapa tidak, pagi ini Sabtu (14/05/2022), Rais Syuriyah PCNU Bangkalan, RKH Fakhrillah Aschal dikabarkan wafat pukul 05:25 WIB. 


Kepastian kabar tersebut disampaikan RKH Karror Abdullah Schal, adik dari almarhum melalui status WhatsAppnya.


Bagaimana memaknai wafatnya sejumlah ulama dan kiai akhir-akhir ini? Ada baiknya mengingat kembali pesan dari Rais Aam Pengurus Besar Nahadlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar. Bahwa dikatakan, mautul ‘alim mautul alam yang mana berarti kematian seorang yang alim sama dengan kematian alam. 


Dalam satu riwayat, kata kiai asal Surabaya ini, seandainya tidak ada ulama atau orang alim, manusia seperti hewan.    


“Siapa yang menunjukkan benar salah, tatakrama hidup. Kalau tidak ada ulama, tak ada bedanya dengan hewan,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, beberapa waktu berselang.  


Menurut Kiai Miftah alim dalam ungkapan tersebut terutama mereka dalam penguasaan ilmu agama. Namun demikian, sebetulnya, alim dalam ilmu agama dan umum tidak seharusnya ada dikotomi. Seharusnya orang alim ilmu agama itu mengerti ilmu umum.  


“Ilmu umum itu hasil dari peneleaahan terhadap ayat-ayat kauniyah, kejadian alam, ada gempa, gerhana, hujan, semuanya itu ilmu. Hanya orang membedakan disebut umum karena rasulullah tidak membawanya secara ditetapkan sebagai salah syariat, ahkamus syar’i,” jelasnya.


Sementara KH Ahmad Ishomuddin bahwa setelah para nabi dan rasul tidak ada, mereka digantikan warasatul anbiya atau ahli warisnya, yakni para ulama. Para ulama tidak hanya menjadi ahli waris ilmunya, tetapi juga akhlaknya.  


“Jadi, wafatnya ulama membawa serta ilmu yang dimilikinya. Belum tentu ulama yang sangat hebat seperti Kiai Haji Maimoen Zubair digantikan oleh orang-orang yang setara dengannya di kemudian hari. Belum tentu. Tetapi mungkin juga muncul ulama-ulama yang barangkali di sisi-sisi yang lain memiliki kehebatan ilmu misalnya, amal dan karena itu kita tidak boleh pesimis,” jelasanya.   


Ia mengemukakan, ungkapan mautul ‘alim mautul alam itu mengibaratkan bahwa ilmu adalah cahaya di alam semesta ini yang menerangi orang dari kegelapan kepada alam yang terang-benderang. Ketika tidak ada ilmu dengan kematiannya orang alim, terjadilah kegelapan.  


“Itu yang dimaksud mautul 'alim, mautul alam,” katanya lagi.  


Oleh karena itu, lanjut kiai asal Lampung ini, semua pihak harus memberikan kepada lembaga pendidikan, terutama pesantren agar tetap muncul orang-orang alim. Bahkan kualitasnya harus ditingkatkan.  

 


“Saya kira banyak ahli pendidikan pesantren, para kiai yang membikin metode-metode yang cukup bagus. Semua pendidik pesantren yang menekuni metode-metode pengajaran saya kira mereka berkreasi bagaimana ilmu bisa disampaikan lebih sistematis dan lebih dipahami oleh para santri,” pungkasnya.


Rehat Terbaru