• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Tapal Kuda

Alumnus Pesantren Bayt Al-Hikmah Juara Indonesia Inventors Day

Alumnus Pesantren Bayt Al-Hikmah Juara Indonesia Inventors Day
Salma (kiri) dan tim saat menerima penghargaan medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day di Bali (Foto: NOJ/Diana)
Salma (kiri) dan tim saat menerima penghargaan medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day di Bali (Foto: NOJ/Diana)

Pasuruan, NU Online Jatim

Setelah menyandang gelar sebagai mahasiswa berprestasi kedua di kampus Politeknik Negeri Malang (Polinema), Salamatul Hifdiyah kembali mencetak prestasi baru di akhir November lalu. Pasalnya, alumni Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan tersebut berhasil mendapatkan medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2021. 

 

Dijelaskan Salma, begitu sapaan akrabnya, IID merupakan perlombaan tingkat internasional sebagai wadah generasi muda untuk menyalurkan riset serta inovasi yang dimiliki. Tahun ini, pelaksanaannya berpusat di Dharma Negara Alaya, Denpasar, Bali selama empat hari sejak Kamis (26/11/2021).

 

Salma mengaku awal mula tertarik mengikuti perlombaan tersebut untuk meningkatkan kemampuan presentasi serta memperluas jaringan pertemanan. Informasi awal mengenai lomba didapatkan dari situs innopa.org, yaitu sebuah asosiasi yang bergerak di bidang pengembangan serta inovasi di Indonesia.

 

Offline, jadi usaha membuat presentasi berbahasa Inggris karena harus tatap muka langsung dengan juri. Kemudian rasa percaya diri bahwa seorang santri juga bisa melalangbuana ke manapun asalkan menebar impact positif,” katanya pada NU Online Jatim, Ahad (05/12/2021).

 

Diceritakan, konsen karya yang dibuat seputar edukasi anak dan dikemas dalam bentuk buku pintar. Bentuknya tiga dimensi berbahasa Inggris berbasis barcode audio dengan sistem brain based learning.

 

Salma bersama kedua anggota lain mengangkat tema biota, pentingnya menjaga ekosistem, serta tidak membuang sampah ke laut. Karya tersebut diberi nama ‘Aqua Kima’.

 

“Berawal dari keprihatinan terhadap dunia literasi anak, buku-buku jarang sekali yang berbahasa Inggris. Kalaupun ada, itu kebanyakan impor dan masih jarang yang mengangkat tema kearifan lokal,” ungkapnya.

 

Karya tiga dimensi, disebutkan Salma, bertujuan untuk melatih saraf motorik anak. Karena menurut perempuan 20 tahun itu, saat anak memasuki usia enam tahun, mereka sudah memiliki kemampuan untuk membaca serta menulis sederhana. Diikuti dengan kemampuan lain seperti menirukan suara seiring bertambahnya usia.

 

Buku Aqua Kima dirasa mampu untuk mengakomodir hal tersebut. Sebab, tidak hanya fitur tiga dimensi saja. Beberapa keterampilan, seperti menggunting, mewarnai, membuka, menutup, dan melipat juga terintegrasi di dalamnya.

 

“Fitur-fitur tersebut melatih sekaligus mempekerjakan panca indera anak sehingga bisa meningkatkan kecerdasan mereka. Apalagi target dari inovasi ini adalah anak usia emas yaitu mulai umur enam sampai dua belas tahun,” terang perempuan kelahiran Juni tahun 2001 ini.
 

Inovasi ini telah disiapkan sejak tahun 2020. Akan tetapi, serial sebelumnya menggunakan bahasa Indonesia dengan tema burung endemik Indonesia. Tema serial lanjutannya, dikatakan Salma dipilih karena kecemasannya melihat jutaan ton sampah plastik yang dibuang ke laut setiap tahunnya. Celakanya hal itu tanpa ada langkah nyata dari pemerintah untuk menangani.

 

“Kalaupun ada langkah nyata, untuk meguraikan sampah sebanyak itu tentu bukan hal yang mudah. Buku ini sebagai sarana edukasi anak untuk tidak melakukan perbuatan demikian serta mengenalkan biota-biota laut yang hampir punah,” tegas dia.
 

Tantangan terbesar selama proses eksekusi adalah semua dikerjakan secara manual terutama untuk memunculkan efek tiga dimensi. Salma harus menggunting objek satu persatu serta merancangnya mandiri. Di samping itu, pandemi menyebabkan frekuensi komunikasi antaranggota kurang maksimal karena hanya dilakukan virtual.

 

“Kalaupun pakai percetakan masih harus dirangkai mandiri, karena untuk memunculkan efek tiga dimensinya nggak bisa pakai mesin atau alat apapun,” tutup dia.

 

Editor: Syaifullah


  


Editor:

Tapal Kuda Terbaru