• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 27 Januari 2023

Tapal Kuda

Begini Cara Gusdurian Pasuruan Lawan Intoleransi di Sekolah

Begini Cara Gusdurian Pasuruan Lawan Intoleransi di Sekolah
Suasana diskusi virtual tentang intoleransi oleh KGSKR Gusdurian Pasuruan. (Foto: NOJ/Makhfud S)
Suasana diskusi virtual tentang intoleransi oleh KGSKR Gusdurian Pasuruan. (Foto: NOJ/Makhfud S)

Pasuruan, NU Online Jatim
Semakin banyak terungkapnya tindakan intoleransi di sekolah, Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) Gusdurian Pasuruan menggelar diskusi dengan tema ‘Speak for Change: Bincang Toleransi & Intoleransi di Sekolah, Pelajar sebagai Agen Perubahan’. Kegiatan Forum 17-an ini rutin dilaksanakan setiap bulan.

“Diskusi kali ini, tidak hanya sekadar meneguhkan adanya intoleransi di sekolah, baik yang dilakukan oleh sesama siswa, bahkan guru. Namun, juga menggali potensi toleransi di sekolah yang sebenarnya itu lebih besar,” kata Khoridatul Bahiyyah, Jumat (19/03/2021) malam.

 

Penggerak Gusdurian Pasuruan yang menjadi menjadi moderator pada kegiatan yang dilaksanakan secara virtual tersebut menjelaskan bagaimana cerita dari perwakilan pelajar soal intoleransi dan toleransi di sekolah.

Muhammad Mukhlisin selaku Manajer Program Yayasan Cahaya Guru mengakui bahwa memang ada guru yang memiliki pemikiran dan/atau tindakan intoleransi. Dirinya turut menceritakan bagaimana seorang guru di Ambon yang menjadi penggerak toleransi.

“Dalam situasi konflik Ambon, ada satu guru perempuan, Bu Musiin, dia mengambil peran strategis membuat sekolah menjadi tempat berlindung anak-anak dan kemudian mengajak sejumlah bapak untuk melindungi kampung. Tokoh muslim dan kristen kumpul saling merangkul membuat Gerakan Hapuama, yang artinya saling rangkul,” ujarnya.

Semantara itu, Ahmad Zainul Hamdi, ketika menjawab pertanyaan peserta, menjelaskan bahwa sebetulnya di dalam diri manusia sejak lahir tidak ada kebencian terhadap perbedaan. Dan hal itu buah dari sebuah pengajaran.

“Jika sang anak tidak pernah ditanamkan rasa benci karena faktor agama, maka tidak akan mempunyai kebencian terhadap agama yang berbeda. Begitu pun karena warna kulit dan lain sebagainya,” ujar dosen
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Dirinya menyampaikan bahwa yang bertanggung jawab atas intoleransi adalah pihak-pihak yang memiliki otoritas untuk melakukan pendidikan dan penanaman.

 

“Kalau di rumah, ya orang tua. Di sekolah bisa guru, atau institusi pendidikan yang kemudian dia mengeluarkan semacam regulasi yang ketika diterapkan menanam sikap toleransi,” pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah


Editor:

Tapal Kuda Terbaru