• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 25 Mei 2022

Tapal Kuda

Cerita Gus Miek Diberi 8 Berlian Mahal, Dibuang di Surabaya-Kediri

Cerita Gus Miek Diberi 8 Berlian Mahal, Dibuang di Surabaya-Kediri
Gus Sabut, putra Gus Miek, saat memberikan tausiyah di acara Majelis Sima'an Al-Qur'an dan Dzikir Jantiko Mantab Dzikrul Ghofilin di Lumajang. Di acara itu Gus Sabut menceritakan Gus Miek diberi delapan berlian lalu dibuang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)
Gus Sabut, putra Gus Miek, saat memberikan tausiyah di acara Majelis Sima'an Al-Qur'an dan Dzikir Jantiko Mantab Dzikrul Ghofilin di Lumajang. Di acara itu Gus Sabut menceritakan Gus Miek diberi delapan berlian lalu dibuang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim

Sudah jamak mengetahui KH Chamim Dzajuli alias Gus Miek Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, dikenal sebagai ulama yang nyentrik namun kharismatik. Bahkan, banyak meyakini dia adalah waliyullah. Banyak cerita-cerita menarik beredar di telinga masyarakat dari Gus Miek, di antaranya cerita ketika dia menerima hadiah 8 berlian mahal, tujuh di antaranya kemudian dibuang.

 

Cerita itu disampaikan KH Sabut Pranoto atau Gus Sabut, salah satu putra Gus Miek, saat memberikan tausiyah di Majelis Sima'an Al-Qur'an dan Dzikir Jantiko Mantab Dzikrul Ghofilin di kediaman Rahman Arif Senduro, Kabupaten Lumajang, Kamis (09/09/2021) malam.

 

Majelis Sima'an Al-Qur'an dan Dzikir Jantiko Mantab Dzikrul Ghofilin adalah perkumpulan yang didirikan oleh Gus Miek dan tetap aktif di banyak provinsi dengan jamaah ribuan sampai sekarang. Majelis tersebut dilestarikan terus oleh keturunan Gus Miek dan para jamaahnya.

 

"Gus Miek pada tahun 90-an pernah disowani Mbah Mangli Magelang di Surabaya. Mbah Mangli adalah seorang ulama yang juga pengusaha memberikan delapan berlian kepada beliau (Gus Miek),” cerita Gus Sabut.

 

“Seminggu setelah itu, Gus Miek bepergian ditemani santri menuju mal Tunjungan Plaza Surabaya dan menjual satu berlian dan laku tujuh juta rupiah waktu itu, dan uang tujuh juta itu dihabiskan Gus Miek hari itu juga di sana," imbuh Gus Sabut.

 

Nah, kenyentrikan Gus Miek dirasakan para santri yang ikut dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke Kediri. Setiap memasuki kabupaten yang dilewati, Gus Miek membuang sisa tujuh berlian pemberian Mbah Mangli tersebut sampai tak tersisa. Para santri yang mendampingi hanya diam terheran-heran.

 

"Gus Miek tidak pernah punya rumah sampai beliau meninggal. Kalau kita harta, kan, sebagai penyemangat ibadah, kalau beliau tidak begitu. Itulah Bedanya manusia biasa dengan para nabi dan wali. Manusia itu senang badan sehat, tidak suka sakit. Kalau waliyullah ketika sakit tidak pernah terlintas di hatinya ingin sehat, beliau hanya minta agar diberi ikhlas," kata Gus Sabut.

 

Dia mengajak jamaah agar istiqamah mengikuti Sima'an Al-Qur'an dan juga mengamalkan dzikir yang disusun Gus Miek, yang berisi tawassul surat Fatihah kepada para Nabi dan Wali dan bacaan-bacaan dzikir lainnya sebagai bekal mengarungi kehidupan akhir zaman.

 

Penulis: Sufyan Arif

 

Editor: Nur Faishal


Tapal Kuda Terbaru