• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 29 November 2022

Tapal Kuda

Katib NU Lumajang Jelaskan Cara Memaknai Hari Kesaktian Pancasila di Era Modern

Katib NU Lumajang Jelaskan Cara Memaknai Hari Kesaktian Pancasila di Era Modern
Foto: Mohammad Darwis untuk NU Online Jatim
Foto: Mohammad Darwis untuk NU Online Jatim

Lumajang, NU Online Jatim

Peristiwa G/30 S PKI pada 30 September 1965 menjadi salah satu sejarah kelam peristiwa yang pernah dialami bangsa ini. Sebagai wujud penghormatan terhadap jasa para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa tersebut, maka setiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang kembali sejarah bangsa dalam mempertahankan ideologi Pancasila.

 

Mengenai hal itu, KH Mohammad Darwis Katib Syuriah NU Lumajang menjelaskan, memaknai kesaktian Pancasila adalah dengan terus mengakui, mempraktikkan dan menjadikannya sebagai asas tunggal untuk hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia.

 

"NU dalam hal ini selalu membela dari rongrongan orang-orang yang tidak setuju Pancasila. Kita selalu pasang badan dan memastikan Pancasila ini sebagai dasar utama bernegara yang tidak boleh diganti oleh apapun bahkan bahkan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah," jelas Kiai asal Madura tersebut saat diwawancarai pada Jum'at (01/10/2021).

 

Kiai Darwis menegaskan, hal demikian bukan berarti NU menolak Al-Qur'an dan Hadits, namun Pancasila tidak satupun sila-sila didalamnya yang bertentangan dengan keduanya. Bahkan, bisa dikatakan Pancasila sebagai turunan Al-Qur'an dan Hadits dalam pedoman bernegara.

 

"Menariknya ternyata kalimat di pancasila banyak memakai kalimat yang akrab di Agama Islam seperti adil, beradab, rakyat, permusyawaratan, perwakilan, itu adalah kecerdasan ulama dulu membumikan kalimat islami di Indonesia lewat budaya bahasa. sehingga tidak bisa dipertentangkan antara keduanya," imbuh salah satu Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Wonorejo Lumajang ini.

 

Mengenai isu kebangkitan PKI yang selalu menjadi tranding di media sosial setiap memasuki bulan Sepetember, Kiai Darwis mengingatkan agar terus waspada. Karena bisa jadi isu-isu tersebut dijadikan alat untuk mengacaukan persatuan dan kesatuan Bangsa.

 

"Peristiwa PKI itu fakta sejarah yang tidak bisa kita hilangkan, NU waktu itu termasuk korban, banyak kiai dan santri yg dibunuh. termasuk juga NU ikut andil menumpas PKI dengan Ansor menjadi garda terdepannya. Tapi juga jangan terpancing dengan isu-isu yang mengarah kepada memecah belah bangsa saat ini," lanjut Kiai Darwis.

 

Kiai Darwis mengingatkan generasi NU saat ini agar cerdas menggunakan Media Sosial (Medsos), informasi apapun di sana harus benar-benar disaring dengan ketat terutama mengenai isu-isu PKI yang ujung-ujungnya pemerintah yang disalahkan dan dibenturkan dengan masyarakat.

 

 

"Jangan terpancing kalau itu disebarkan di medsos kita harus cerdas bermedos, kita dengarkan arahan ulama kita, karena pertimbangan beliau-beliau bukan hanya pertimbangan rasional tapi juga ilahiyah. Jadi tetap ikuti intruksi dan dawuh ulama kita insyaallah selamat," pungkasnya.

 

Penulis: Sufyan Arif


Editor:

Tapal Kuda Terbaru