• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 7 Agustus 2022

Tapal Kuda

Kisah Muhaimin, Pria Probolinggo yang Produktif Menulis Novel

Kisah Muhaimin, Pria Probolinggo yang Produktif Menulis Novel
Muhaimin memiliki kegemaran membaca dan menulis novel. (Foto: NOJ/Siti Nurhaliza)
Muhaimin memiliki kegemaran membaca dan menulis novel. (Foto: NOJ/Siti Nurhaliza)

Probolinggo, NU Online Jatim 
Bagi kebanyakan orang, usia menjadi penghalang untuk berkarya. Namun tidak untuk Muhaimin, warga Desa Kropak Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.
 

Muhaimin adalah pria berusia 30 tahun dan sudah mempunyai dua anak. Namun, di samping usianya tak menyulutkan semangatnya untuk menjadi penulis novel. Buku yang pernah ia terbitkan ialah ‘Dalam Do'a Cinta’, ‘Jangan Hakimi Cadarmu’, dan ‘Kafarat Cinta’. Bahkan yang terakhir pernah masuk sebagai harapan 1 dalam lomba menulis ‘Inspiring Story’ di KBM App dengan tema ‘Bangkit di masa Sulit’. Selain itu, ia juga sering menulis antologi cerpen dengan judul ‘Nama Saya Santri’, ‘Sowan’, dan ‘Suara-suara Amanah’.


Disiplin Membagi Waktu
Muhaimin adalah karyawan di BMT-UGT Nusantara (dulu bernama BMT-UGT Sidogiri Indonesia). Sorenya ia mengajar di Madrasah Diniyah Al-Jauhar. Ba'da maghrib mengajar mengaji, serta menjadikan usai isya sebagai waktu keluarga.
 

"Kemudian setelah itu saya membaca buku dan kitab untuk nge-ces pengetahuan sendiri. Setelah itu lanjut menulis, bisa sampai melewati tengah malam. Kalau malamnya lalai, di qadla waktu pagi ba'da subuh sampai siap-siap berangkat kerja," katanya kepada NU Online Jatim, Jumat (07/01/2022).
 

Selain aktif menulis, Muhaimin juga pernah menjadi pengurus di beberapa organisasi. Di antaranya adalah merintis komunitas JSB (Jaringan Sosial Budaya, 2019) bersama pegiat literasi Probolinggo. Kemudian merintis majalah elektronik dengan nama ‘Lentera Bayuangga’ yang terbit tiap bulan.
 

Juga sebagai Redaktur Buletin Nasyith (salah satu media di Pondok Pesantren Sidogiri yang segmennya anak-anak remaja santri) mulai 1435-1437 H. Terakhir, pernah menjadi staf redaksi Majalah Dinding Maktabati (media harian perpustakaan Sidogiri).
 

Tips Menulis
Baginya, tips dan trik untuk aktif menulis tak jauh berbeda dari penulis lainnya. Pertama adalah membaca. Karena menurut Muhaimin, jika ingin menjadi penulis, maka porsi membaca harus lebih banyak dibandingkan dengan menulis.
 

“Menulis merupakan bagian dari laku hidup untuk mengabadikan hasil perenungan,” tegasnya. 
 

Muhaimin tidak gelisah ketika kehilangan waktu menulis hanya untuk dihabiskan membaca. Namun ia akan sangat gelisah, jika kehilangan waktu membaca hanya karena kebablasan menulis.
 

"Dalam membaca dan menulis, saya tidak hanya membatasi waktu yang sudah terjadwal. Saya mengantisipasi kekosongan waktu dengan membawa buku ke mana-mana,” ungkapnya. 
 

Misal ketika mengantar istri ke pasar, dia selalu membawa buku. Demikian pula saat ada kesempatan mengantar istri periksa, juga membawa buku. Ketika bekerja pun membawa buku.
 

“Agar ketika waktu istirahat, saya bisa meluangkan waktu untuk membaca buku," kata pria kelahiran 14 Februari 1992 tersebut.
 

Muhaimin tercatat merupakan alumni dari salah satu pesantren tersohor di Jawa timur. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Sidogiri, Keraton, Pasuruan. Sebelum itu, pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati, Jepara, Jawa Tengah.
 

Ia gemar menulis sejak kelas 3 tsanawiyah. Hanya saja bentuknya dalam catatan pribadi.
 

"Sejak kecil saya suka menyediakan buku tulis tebal untuk menulis curahan hati dalam bentuk cerita pendek dan puisi. Kalau satu buku sudah penuh, berganti buku lagi," jelasnya.
 

Ia mengatakan bahwa keluarga dan punya anak bukan halangan untuk tetap produktif menulis. Malahan mendapatkan dukungan penuh dari sang istri. 
 

“Jika saya bilang mau menulis atau punya target menyelesaikan membaca buku, dijamin tidak diganggu,” jelasnya. 
 

Disampaikan, ketika mendapat giliran menggendong anak bayinya, selalu menaruh buku atau kitab untuk di baca. 
 

“Jadi, saya bisa mengendong sekaligus membaca," ungkapnya.
 

Lebih lanjut, Muhaimin mempunyai harapan untuk generasi muda saat ini.
 

Harapan untuk Generasi Muda
"Harapan saya untuk generasi muda, banyaklah membaca,” pesannya. 
 

Karena menurutnya, Indonesia saat ini sedang darurat membaca, terutama generasi Nahdiyin. Polarisasi politik yang mengaburkan banyak persoalan di negeri hari ini, karena minimnya terhadap minat dan daya baca.
 

Ia juga menambahkan bahwa generasi muda harus benar-benar jeli dalam menerima informasi. Apalagi di era digital, jangan sampai mudah terbawa oleh arus kabar hoaks.
 

"Oleh karena itu, melatih kejelian dan cara menangkal hoaks adalah dengan terbiasa membaca," pungkas Muhaimin.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru