• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Tapal Kuda

Nadirsyah Hosen Hadiri Tadarus Ilmiah di Pesantren Darul Hikam Jember

Nadirsyah Hosen Hadiri Tadarus Ilmiah di Pesantren Darul Hikam Jember
Nadirsyah Hosen (tengah) dan Kiai M Noor Harisudin. (Foto: NOJ/ISt)
Nadirsyah Hosen (tengah) dan Kiai M Noor Harisudin. (Foto: NOJ/ISt)

Jember, NU Online Jatim
Ciri khas pesantren sebagai center of civilize diwujudkan dalam bentuk khazanah intelektual. Sebagai pesantren yang berbasis literasi dan scholarship, Pondok Pesantren Darul Hikam Jember menggelar acara tadarus ilmiah dengan tajuk: NU, Santri dan Masa Depan Indonesia


Kegiatan mendatangkan Prof KH Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand. Acara dipusatkan di Pondok Cabang Putra Ajung, Jember, Kamis (23/09/2022).


Pengasuh Pesantren Darul Hikam, Kiai M Noor Harisudin menuturkan acara ini sebagai bentuk sambung sanad keilmuan dari ayah Nadhirsyah Husen, yaitu KH Ibrahim Husen, seorang ahli fiqih mazhab Syafii kenamaan Tanah Air.


“Sanad keilmuan sangat penting pada kiprah NU,” kata Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur ini.


Hal tersebut membuktikan bahwa keislaman NU adalah yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena selain sanad, bisa menyambung jaringan.


“Sehingga mahasantri bisa mengambil peluang scholarship baik di dalam maupun luar negeri,” tutur Guru Besar UIN KHAS Jember ini.


Nadirsyah Hosen yang akrab disapa Gus Nadir menafsirkan wahyu pertama yang Allah turunkan yaitu surah Al-Alaq tentang perintah membaca. Menurutnya, pangkal masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa adalah kurangnya literasi masyarakat sehingga mudah tertipu atas informasi yang tersebar.


“Visi Islam yang pertama kali turun adalah membangun masyarakat cerdas melalui membaca,” terangnya. 


Dalam pandangannya, penyebutan iqra dalam Al-Qur'an memiliki dua makna. Pertama dalam lafadz iqra bismirarabbikalladzi khalq adalah membaca secara tekstual. Dan makna iqra yang kedua dalam lafadz iqra warabbukal akram adalah membaca makna tersirat dari suatu bacaan atau kejadian.


“Inlah yang dinamakan critical reading ”jelas dosen Fakultas Hukum Monash University Australia itu.


Menurutnya, critical reading telah diterapkan oleh para ulama terdahulu dengan menginternalisasikan makna iqra melalui pembangunan pesantren.

Dalam pandangan Gus Nadir, kejayaan Islam ada karena sistem khilafah adalah anggapan yang salah, karena dari pembangunan pendidikan lah masa depan sumber daya manusia mulai maju. 


“Berkaca dari sejarah, Khalifah Al-Ma'mun sebagai khalifah ke-7 dari Dinasti Abbasiyah, mampu mengantarkan dunia Islam pada puncak peradaban. Bahkan, pasa masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, sebuah perpustakaan besar yaitu Bait Al-Hikmah dikembangkan menjadi universitas yang melahirkan para cendekiawan Islam,” jelas Gus Nadir yang juga peraih Associate Professor Universitas Wollongong Australia tersebut.


Pada kesempatan itu pula, Gus Nadir membagikan kebiasaannya selama menuntut ilmu dari didikan langsung oleh ayahnya, untuk senantiasa membaca. 


“Ayah saya selalu mengatakan bahwa wiridnya pelajar adalah membaca buku dan mengkaji ilmu,” terangnya. 


Setiap hari dirinya selalu menargetkan membaca 150 halaman dan pernah satu hari sampai khatam 4 buku ilmiah. Namun tidak sekadar membaca, tapi juga memahami makna yang tersirat.


“Artinya setiap bacaan yang dibaca selalu dikaitkan dengan bacaan yang pernah kita baca untuk melahirkan konsep baru. Inilah esensi dari critical reading,” ujar Gus Nadir. 


Kegiatan yang dimoderatori Erni Fitriani tersebut berjalan interaktif yang diakhiri dengan doa dan foto bersama.


Penulis: Siti Junita dan M Irwan Zamroni Ali


Editor:

Tapal Kuda Terbaru