• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Tapal Kuda

Nahdliyin Diingatkan Kisah Manuver Mbah Wahab Gabung Nasakom

Nahdliyin Diingatkan Kisah Manuver Mbah Wahab Gabung Nasakom
Katib PCNU Lumajang, KH Muhammad Darwis kisahkan manuver Mbah Wahab gabung Nasakom. (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)
Katib PCNU Lumajang, KH Muhammad Darwis kisahkan manuver Mbah Wahab gabung Nasakom. (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)

Lumajang, NU Online Jatim

Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang, KH Muhammad Darwis berpesan kepada Nahdliyin agar terus memegang teguh pedoman organisasi di semua keadaan, termasuk ketika NU dianggap sedang tidak lurus, belok kanan atau pun belok kiri.


“Hal itu penting dilakukan agar Nahdliyin tidak ikut-ikutan menghujat segala kebijakan yang dilakukan pengurus NU karena termakan isu yang tidak benar,” ujarnya saat acara doa bersama peringatan 100 hari korban erupsi Semeru, Sabtu (19/02/2022). Kegiatan itu digelar di Masjid Nurul Huda Sumbersari Supiturang Pronojiwo Lumajang.


Ia menegaskan, sejarah manuver kebijakan NU dari dulu memang selalu dihadapkan dengan hujatan dan kritikan keras, bahkan dari orang NU sendiri. Sebagai contoh, Gus Darwis menceritakan apa yang dilakukan KH Wahab Hasbullah, yang saat itu memutuskan untuk ikut dalam ide Bung Karno mengenai konsep Nasionalis Agamis dan Komunis (Nasakom).


“Di saat organisasi Islam lainnya menolak, NU melalui Mbah Wahab malah ikut bergabung. Ini sudah dibaca oleh Mbah Wahab jika ide itu berasal dari PKI sebagai propaganda jika tidak ada organisasi Islam yang ikut, maka mereka yang mengatur pemerintahan dan kita dianggap oposisi dan pemberontak,” jelas Gus Darwis.


Menurutnya, apa yang dilakukan Mbah Wahab tentu menuai hujatan, bahkan Kiai Wahab dianggap sebagai antek PKI. Namun kecerdasan Mbah Wahab mampu menekan dan mengimbangi segala bentuk rencana PKI yang bermaksud menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.


"Maka, sekarang jika NU punya kebijakan yang seperti meliuk-liuk, jadilah kita sebagai orang awam saja yang tidak tahu strategi politik tingkat tinggi tokoh-tokoh NU," lanjut kiai asal Madura ini.


Pengasuh Pondok Pesantren Syarifuddin Wonorejo Lumajang itu selanjutnya mengisahkan sejarah berdirinya NU. Yakni melalui isyarat Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dengan tongkat yang diberikan kepada KH M Hasyim Asy'ari melalui KH As'ad Syamsul Arifin. Saat memberikan tongkat ini, Kiai Kholil Bangkalan hanya berpesan dengan surat Taha ayat 17.


"Ayat itu bercerita mengenai tongkat Nabi Musa, yang jika dilempar menjadi ular menakutkan dengan liukannya, dan jika dipegang kembali akan menjadi tongkat. Maka, itu isyarat agar kita jangan lepas NU, walaupun sedang meliuk seperti ular. Jangan takut, pada saatnya nanti akan menjadi tongkat kembali," imbuhnya.


Gus Darwis menyebutkan, propaganda yang memojokkan dan menganggap NU dipimpin oleh orang mabuk jelas ada maksud menjauhkan warganya dari ulama NU. Gus Darwis mencontohkan lagi sepak terjang Gus Dur saat melawan politik orde baru yang luar biasa.
 


"Tidak ada yang bisa melawan saat itu kecuali Gus Dur. Hingga saatnya bisa dirasakan NU bisa berjaya kembali setelah pada zaman orde baru diperlakukan seperti itu," tandasnya.


Tapal Kuda Terbaru