• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 8 Februari 2023

Jujugan

Melihat Kemegahan Asta Tinggi Sumenep

Melihat Kemegahan Asta Tinggi Sumenep
Asta Tinggi Sumenep. (Foto: NOJ/NUO)
Asta Tinggi Sumenep. (Foto: NOJ/NUO)

Sumenep, NU Online Jatim

Jika berkunjung ke Sumenep, kurang lengkap jika tidak berziarah ke Asta Tinggi yang terletak di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota, Sumenep. Secara etimologi, Asta Tinggi mempermudah penyebutan bagi para peziarah, karena letak peristirahatan terakhir para raja dan keluarga itu berada di atas bukit yang tinggi.

 

Jika diperhatikan lebih dalam, pemakaman Adipati Sumenep beserta keluarganya memiliki bentuk bangunan yang megah dan berarsitektur kolonial. Cita rasa arsitektur tinggi ini menandakan bahwa kebudayaan Sumenep pada waktu itu telah memoles sebuah bangunan sebagai hasil adikarya yang tak ternilai dan patut dibanggakan.

 

Diketahui, sebelum dibangun Asta Tinggi, semua raja Sumenep yang berkuasa, makamnya terpencar. Jokotole ada di Asta Sa’asa Kecamatan Manding, Pangeran Joharsari di Desa Tanah Merah Kecamatan Saronggi, Pangeran Sinding Puri ada di Desa Bangkal, R. Aria Kanduran, Pengeran Lor, Pengeran Wetan ada di Asta Karang Sabu Desa Karang Duak, serta banyak lagi lainnya.

 

Keunikan Asta Tinggi, kompleks pemakaman terbagi menjadi dua, yakni barat dan timur. Di bagian barat, dibangun oleh Pangeran Rama (P. Cokronegoro II) Raja ke-25 sekitar tahun 1695. Tampak pintu masukya masih dipengaruhi arsitektur Hindu Jawa, karena saat Pengeran Rama memerintah Sumenep berada di bawah pemerintahan Mataram. Jika peziarah masuk ke dalam, di bagian kiri terdapat kubah makam Raden Bindara Muhammad Saud, Raja ke-30 yang makamnya ramai dikunjungi para peziarah.

 

Untuk menghormati jasa leluhurnya, sekitar tahun 1695 Pangeran Rama mendirikan pagar batu pada sekeliling kompleks pemakaman. Konon, pembangunan pagar itu tidak menggunakan semen atau batu gamping sebagai perekat batu, tetapi disusun dan ditata rapi.

 

Penyempurnaan Asta Tinggi dilanjutkan oleh Penembahan Sumolo (Pengeran Notokusumo I Asiruddin). Jika peziarah masuk ke asta bagian timur, bangunan gapura dan kubahnya kental dengan nuansa China, Eropa, Arab dan Jawa. Di tempat inilah Penembahan Sumolo dikebumikan. Dengan adanya kolabirasi budaya yang berlainan ini menciptakan khazanah dan kharisma yang mempesona.

 

Penyempurnaan Asta Tinggi dilanjutkan oleh putranya, Sultan Abdurrahman. Tahap penyempurnaan ini, dicanangkan sebagai tahap akhir yang mencapai kesempurnaan. Namun, tahap tersebut masih berlanjut saat putranya memimpin Sumenep, yakni Panembahan Moh Shaleh. 

 

Dengan demikian, dari penguasa lama dan baru, Asta Tinggi secara bertahap dilakukan penyempurnaan hingga pada akhirnya menjadi lambang kebanggaan kemajuan budaya pada waktu itu. Kini kemegahannya dikenal luas ke seluruh Nusantara, karena mirip dengan keraton.


Jujugan Terbaru