Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Lestarikan Budaya Lokal, Fatayat NU Blitar Gelar Prosesi Tingkepan

Lestarikan Budaya Lokal, Fatayat NU Blitar Gelar Prosesi Tingkepan
Prosesi tingkepan yang dipraktikkan PC Fatayat NU Kabupaten Blitar. (Foto: NOJ/Pransiska Anggraeni)
Prosesi tingkepan yang dipraktikkan PC Fatayat NU Kabupaten Blitar. (Foto: NOJ/Pransiska Anggraeni)

Blitar, NU Online Jatim
Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Blitar menggelar acara prosesi tingkepan atau tujuh bulanan ibu hamil. Tidak hanya itu, dalam rangkaian acara ini dilanjutkan prosesi peluncuran buku kumpulan doa ibu; Fatayat NU Mempesona. Acara ini dipusatkan di gedung Graha NU Kabupaten Blitar, Senin (18/10).

 

“Acara tingkepan Fatayat NU ini merupakan salah satu program unggulan dari bidang dakwah PC Fatayat NU Kabupaten Blitar,” kata Muti'atus Salafi selaku ketua pelaksana. 

 

Menurut Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Pengkaderan PC Fatayat NU Kabupaten Blitar tersebut, program dilatarbelakangi kepekaan terhadap tradisi Jawa. Juga menanamkan dan melestarikan rasa cinta budaya dan tradisi yang islami, serta tertanam rasa sinergi dengan jajaran badan otonom NU, maupun masyarakat.


"Bukan sekadar melestarikan. Serangkaian tradisi Jawa ini merupakan bagian dari program besar Fatayat NU yang terangkum dalam konsep mempesona yang salah satunya melestarikan tradisi Jawa yang islami," ungkapnya kepada NU Online Jatim.

 

Disampaikan pula bahwa di masa modern ini tradisi Jawa seolah pupus termakan zaman. “Maka dari itu, kami siap melambungkan ragam tradisi Jawa yang tak lepas dari unsur ke-NUan nya,"  jelasnya.

 

Harapan dari kegiatan ini ragam program yang diusung dapat diimplementasikan dan mampu meningkatkan sinergi serta formalitas baru. 

 

Adapun rangkaian tingkepan sama halnya dengan rangkaian adat pada umumnya. Meliputi prosesi ibu hamil, yang mana secara simbolis dicontohkan kepada tujuh kader Fatayat NU yang sedang hamil. Prosesi diawali dengan sungkem kepada sesepuh, siraman yaitu mandi dari air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang dicampur dengan bunga tujuh rupa atau biasa dikenal bunga setaman.

 

Setelah itu dilanjutkan dengan mengenakan selendang yang diikat dengan janur kuning. Prosesi berikutnya yaitu Brojolan atau simulasi melahirkan, serta diakhiri prosesi mantesi yang maknanya prosesi pemakaian kain kemben. Dan sebagai pelengkap, ketujuh calon ibu tersebut mengenakan pakaian almamater Fatayat NU sebagai simbol pengabdian.

 

Tidak berhenti sampai di situ, dilanjutkan dengan tradisi lainnya, yaitu dodol rujak atau menjual rujak dilengkapi dengan sajian hidangan seperti nasi tumpeng, yang tidak ketinggalan yakni ayam ingkung. Demikian pula aneka jajanan hasil tani disertakan.

 

Penulis: Pransiska Anggraeni

Terkait

Kediri Raya Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini