• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Keislaman

Cara Melancarkan Rezeki sebagaimana Petunjuk Rasulullah

Cara Melancarkan Rezeki sebagaimana Petunjuk Rasulullah
Ada beberapa cara yang diajarkan Rasulullah agar rezeki umatnya lancar. (Foto: NOJ/KUt)
Ada beberapa cara yang diajarkan Rasulullah agar rezeki umatnya lancar. (Foto: NOJ/KUt)

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa rezeki semua makhluk yang ada di muka bumi sudah dijamin. Dan perlu diketahui bahwa rezeki tidak selalu berhubungan dengan materi. Melainkan murni sebagai nikmat dari Allah yang wajib disyukuri, baik berupa harta, sehat jasmani dan rohani, serta bisa hidup dengan taat kepada-Nya. Sekali lagi semua adalah rezeki. Dan Rasulullah memberikan sejumlah amalan untuk kelancaran umatnya. 


Hanya saja, beberapa orang masih memandang bahwa rezeki adalah tentang kekayaan dan uang yang melimpah, yang hal itu hanya bisa dirasakan oleh beberapa pihak saja. Kaya dengan memiliki uang yang sangat banyak, tidak lantas bisa dinikmati secara menyeluruh, begitu juga dengan hidup miskin, tidak lantas membuatnya tidak bisa menikmati apa yang bisa dirasakan oleh orang kaya. Semua sama-sama berhak dan niscaya, hanya saja latar belakang miskin terkadang sering dijadikan alasan bahwa mereka tidak akan pernah menikmati apa yang dirasakan orang kaya. 


Jika kaya adalah suatu keniscayaan bagi manusia, maka miskin juga demikian, ia menjadi sesuatu keniscayaan yang bisa dirasakan oleh siapa saja. Semuanya berhak untuk kaya, dan juga niscaya untuk fakir dan miskin. Akan tetapi, hidup kaya dengan serba berkecukupan menjadi suatu keinginan setiap manusia. Hidup dengan tidak bergantung kepada orang lain merupakan dambaan setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Karena itu, dalam catatan sejarah, tidak sedikit para sahabat yang mengadukan nasibnya kepada Rasulullah perihal kehidupan mereka yang mengalami kesulitan. Yakni hidup fakir miskin dan penuh kekurangan perihal materi. 


Rasulullah juga tidak menutup mata dan membiarkan mereka terus menerus hidup dalam kekurangan. Beliau memberikan beragam cara dan tips-tips agar para sahabat terhindar dari kefakiran dan kemiskinan. Kisah-kisah itu oleh para ulama diabadikan dalam suatu kitab karangan mereka, menjadi suatu bab secara khusus yang hanya menjelaskan tentang cara-cara agar terhindar dari kemiskinan. 


Misalnya, Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid al-Alawi al-Husaini at-Tarimi, dalam salah satu kitab karyanya menceritakan tentang suatu riwayat dari sahabat Sahal bin Sa’ad tentang seorang laki-laki yang hidup dalam kefakiran dan kemiskinan. 


1. Salam dan Al-Ikhlas sebelum Masuk Rumah 

Dalam kitab tersebut, Sayyid Muhammad bin Ali menceritakan bahwa suatu saat datang kepada Rasulullah seorang laki-laki, dengan tujuan untuk mengadukan nasibnya. Dalam pertemuannya, laki-laki itu menceritakan kepada Rasulullah bahwa dirinya tumbuh menjadi seorang fakir miskin yang hidupnya tidak memiliki penghasilan sedikit pun, kebiasaannya sehari-hari selalu bergantung kepada orang lain; terkadang meminta, kadang juga berutang. Mendengar kisah kehhidupan laki-laki tersebut, Rasulullah kemudian memberikan tips agar terhindar dari hidup dalam keadaan fakir miskin. Rasulullah bersabda: 


 اِذَا دَخَلْتَ مَنْزِلَكَ فَسَلِّمْ، اِنْ كَانَ فِيْهِ أَحَدٌ، وَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ أَحَدٌ فَسَلِّمْ عَلَيَّ وَاقْرَأَ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) مَرَّةً وَاحِدَةً


Artinya: Apabila engkau memasuki rumahmu, maka (ucakanlah) salam jika di dalamnya ada satu orang. Dan jika tidak ada seorang pun di dalamnya, maka (ucapkanlah) salam kepadaku (assalamu alaika ya Rasulallah) dan bacalah (qul huwa Allahu Ahad) satu kali. (Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid, al-Wasailusy Syafiyah fil Adzkarin Nafi’ah wal Auradil Jami’ah [cetakan pertama: 1405 H], halaman: 471). 


Sebagai umat Islam, ketika laki-laki tersebut mendengar penjelasan Rasulullah, ia sangat bangga dan bersedia untuk melakukan apa yang telah diajarkan oleh Nabi akhir zaman itu. Ia pun pulang dengan sangat lega, meski materi berupa uang dan sesamanya tidak ia terima dari Rasulullah, akan tetapi dengan bacaan itu sudah melebih materi berupa dunia dan isinya. Sampai di rumah, laki-laki itu langsung mengamalkan apa yang ia terima dari Rasulullah, bahkan ia dengan istikamah membaca salam ketika hendak masuk ke dalam rumahnya. Jika ia tahu di dalam ada orang, dan membaca salam kepada Rasulullah. Jika tidak ada seorang pun, kemudian dilanjut dengan membaca surat Al-Ikhlas. Alhasil, Allah memberikan rezeki melebihi apa yang diinginkan sebelumnya. 


فَأَدَرَّ اللهُ عَلَيْهِ الرِّزْقَ، حَتَّى أَفَاضَ عَلَى جِيْرَانِهِ وَقَرَابَاتِهِ


Artinya: Maka Allah mengatur (memberi) kepadanya rezeki, hingga melimpah kepada tetangga dan kerabatnya. (Muhammad bin Ali Khirrid, halaman: 471). 


2. Membaca Shalawat 
Masih dalam kitab yang sama, halaman yang sama, dan kisah yang juga sama, yaitu sama-sama fakir miskin. Namun kisah ini berasal dari sumber yang berbeda. Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid menceritakan kisah Imam al-Qasthalani yang dalam hidupnya juga berbanding lurus dengan kisah laki-laki di atas. Ia juga salah satu ulama yang sejarahnya juga hidup dalam keadaan fakir dan miskin. Sandang pangan sangat sulit baginya disebabkan tidak adanya penghasilan sedikit pun dalam kesehariannya. 


Demikian Imam al-Qasthalani dalam setiap harinya, hingga umurnya yang sudah mendekati senja masih saja dalam hidup yang serba kekurangan. Akan tetapi, suatu saat ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah mimpinya. Tanpa basa-basi, Al-Qasthalani langsung menceritakan hidupnya yang sangat melarat kepada Nabi pemberi syafaat itu. Rasulullah kemudian mengatakan kepadanya untuk membaca shalawat berikut: 


 اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهَبْ لَنَا مِنْ رِزْقِكَ الْحَلَالِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ مَا تَصُوْنُ بِهِ وُجُوْهَنَا عَنِ التَّعَرُّضِ اِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ


Artinya: Ya Allah limpahkanlah kesejahteraan kepada Nabi Muhammad, dan berilah kepada kami dari rezeki-Mu yang halal, baik, diberkahi, yang dengan rezeki itu bisa menjaga wajah-wajah kami dari bergantung kepada seorang dari makhluk-Mu


Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dalam ajaran Islam juga diajarkan tentang cara menjadi orang-orang yang terhindar dari fakir miskin (kaya). Islam tidak pernah menutup mata dan membiarkan pemeluknya hidup dalam keadaan melarat. Hanya saja, tolok ukurnya memiliki beberapa cara; ada yang dengan bekerja dan berusaha, dan ada juga yang bekerja disertai dengan zikir-zikir untuk meningkatkan spiritual kepada pemberi rezeki, yaitu Allah. 

 


Cara yang terakhir ini harus kembali ditumbuhkan dalam diri setiap muslim, bahwa rezeki tidak selalu tentang usaha dan bekerja. Ada juga yang oleh Allah diberikan dengan cara membaca amalan-amalan tertentu dan bacaan khusus sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada laki-laki dan Imam al-Qasthalani di atas. 


Editor:

Keislaman Terbaru