• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 14 April 2024

Keislaman

Fanatisme Pendukung Capres dalam Pandangan Islam

Fanatisme Pendukung Capres dalam Pandangan Islam
Fanatisme pendukung capres dalam pandangan Islam. (Foto: NOJ/ ISt)
Fanatisme pendukung capres dalam pandangan Islam. (Foto: NOJ/ ISt)

Setiap unsur yang melibatkan dukungan banyak orang kerap kali menimbulkan sikap fanatik, termasuk dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Masing-masing calon legislatif ataupun calon presiden dan wakil presiden (Capres-Cawapres) kerap memiliki pendukung fanatik.

 

Sikap fanatik atau fanatisme merupakan kondisi di mana seseorang menjadi obsesi berlebihan terhadap suatu hal, seperti ajaran, agama, politik, dan lain-lain. Dampak buruk dari fanatisme salah satunya yaitu gangguan mental.

 

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dari Rumah Sakit YASRI, Citra Fitri Agustina mengungkapkan, bahwa dalam beberapa kasus, khususnya di musim politik, pendukung fanatik mudah tersulut emosinya. Mereka kerap secara ekstrem mempopulerkan salah satu kandidat, bahkan dengan melakukan hujatan kepada kelompok yang memiliki pandangan politik berbeda.

 

Lantas, bagaimana Islam memandang fanatisme atau sikap berlebihan dalam merespons sesuatu ini? NU Online Lampung dalam sebuah artikelnya pernah menulis, bahwa dalam agama Islam sikap berlebihan atau melampaui batas disebut dengan ghuluw.

 

Sikap ghuluw sendiri sama sekali tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, bahkan tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Baik dalam urusan agama maupun duniawi, termasuk urusan pemilu.

 

Allah SWT berfirman:


قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ

 

Qul yā ahlal-kitābi lā taglụ fī dīnikum gairal-ḥaqqi wa lā tattabi'ū ahwā`a qauming qad ḍallụ ming qablu wa aḍallụ kaṡīraw wa ḍallụ 'an sawā`is-sabīl.

 

Artinya: “Katakanlah: Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS Al Mai'dah: 77).

 

Ayat di atas menerangkan secara tegas bahwa agar umat manusia tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu dan hanya mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah tersesat di masa lalu.

 

Dalam praktik pemilu, hal sebaiknya dilakukan adalah ketika yang kita dukung menang, maka cintailah sewajarnya. Dan apabila yang kita dukung kalah, seyogyanya bencilah sewajarnya. Sebab, manusia tidak akan pernah menghilangkan rasa benci terhadap kekalahan.

 

Abu Hurairah RA, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

احبب حبيبك هوناما، عسى ان يكون بغيضك يوماما وابغض بغيضك هونا ما، عسى ان يكون حبيبك يوماما

Ahbib habiibaka haunammaa, asa’an yakuuna baghidhaka yaumammaa wa abghidh baghidhaka haunammaa, asa’an yakuuna habiibaka yaumamma.

 

Artinya: “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai”. (HR At-Tirmidzi No 1997)

 

Redaksi di atas setidaknya dapat memberikan hikmah kepada kita semua, khususnya umat Islam, bahwa mencintai dan membenci sesuatu yang berlebihan belum tentu baik dan bahagia. Sebab hanya Allah-lah sumber dari segala kebaikan dan kebahagiaan.

 

Untuk itu, hal yang perlu ditanamkan kepada kita semua, bahwa segala kemenangan dan kekalahan hanya atas kehendak Allah semata. Manusia hanya berencana, tetapi Allah-lah yang berkehendak.

 

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 216:

 

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ  وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

 

Artinya: “...tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

 

Maka dari itu, janganlah bersikap fanatik, baik mencintai ataupun membenci sesuatu secara berlebihan, karena semua itu hanya akan membuat kita menderita. Karena tidak sedikit fanatisme mendatangkan duka dan korban nyawa.

 

Tidak terima atas kekalahan yang diidolakan, padahal tidak menerima kehendak takdir dan menyalahkan yang lainnya, merupakan sikap sudah menduakan Allah SWT. Karena Allah-lah yang mengatur segala sesuatu di alam semesta, dan Ia juga yang menghendaki segala sesuatu tersebut.


Keislaman Terbaru