• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Keislaman

Ikut Car Free Day, Jangan Lupa Adabnya

Ikut Car Free Day, Jangan Lupa Adabnya
Car Free Day di salah satu kawasan daerah Surabaya. (Foto:NOJ/primaradiosurabaya)
Car Free Day di salah satu kawasan daerah Surabaya. (Foto:NOJ/primaradiosurabaya)

Weekend atau hari libur biasanya digunakan oleh masyarakat untuk jalan-jalan, berlibur ke beberapa tempat untuk melepas kepenatan, dan silaturahim. Umumnya pada hari minggu mereka berkumpul di taman kota untuk jogging, nongkrong dan lain sebagainya.


Biasanya, kegiatan tersebut diwadahi pemerintah setempat dalam even Car Free Day (CFD), sebuah gerakan untuk menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor, terlebih di saat BBM naik.


Puluhan bahkan ratusan masyarakat memanfaatkan CFD untuk bersantai dengan kolega, keluarga. Bahkan ada pula dari kalangan milenial yang unjuk kebolehan, atraksi, teatrikal, berselancar dengan sepatu roda, bersepeda.


Dalam konteks seperti ini, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu adab alias etika bagi siapapun yang sedang menikmati suasana liburan dalam even CFD. Beberapa adab yang patut diperhatikan adalah:


1. Menundukkan Pandangan, yakni pandangan mata yang dapat berakibat dosa harus dihindari sebanyak mungkin, seperti cuci mata atau memandang secara liar orang-orang yang bukan mahram. Oleh karena itu menundukkan pandangan disebutkan dalam al-Quran:


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ   


Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (QS An-Nur: 30)


2. Berjalan dengan tenang, yakni tidak terburu-buru dan tidak pelan. Fokus dengan jalan yang dilalui. Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalah Muawanah berkata:


واذا مشيت فلا تستعجل


Artinya: apabila engkau sedang berjalan, maka jangan terburu-buru.


3. Berjalan dengan santun, yakni tidak dengan kesombongan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:


وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا


Artinya: Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung (QS. Al-Isra: 37)


4. Tidak mudah menoleh, artinya berjalan tidak sering menoleh kemana-mana. Bahkan saat dipanggil seseorang tidak langsung menoleh. Hal ini disampaikan dalam risalah Muawanah:


واذا نودي من وراءه وقف ولم يلتفت


Artinya: ketika Rasulullah dipanggil dari belakang, beliau berhenti, tidak langsung menoleh ke belakang.


5. Mendahulukan orang tua, artinya ketika berjalan beriringan dengan orang yang lebih tua, maka dahulukan mereka di depan. Karena hal ini termasuk adab yang pernah dicontohkan sahabat Ali ketika berjalan menuju masjid, beliau mendahulukan orang tua (kebetulan non-muslim), sehingga sahabat Ali hampir tertinggal shalat subuh berjamaah.


Dengan demikian, kelima adab ini masih bisa dikembangkan penjelasannya dan relevan dalam konteks kekinian, termasuk menghormati hak pengguna jalan lain saat menikmati liburan dalam acara Car Free Day, pelesir maupun traveling di suatu tempat yang dikunjungi banyak orang. 


Editor:

Keislaman Terbaru