• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 3 Oktober 2022

Keislaman

Suka Nongkrong, Ingat Pesan Rasulullah

Suka Nongkrong, Ingat Pesan Rasulullah
Ilustrasi duduk santai menikmati indahnya malam (Foto:NOJ/itrip)
Ilustrasi duduk santai menikmati indahnya malam (Foto:NOJ/itrip)

Berkumpul bersama kolega, teman, keluarga, sahabat merupakan kegembiraan tersendiri. Ragam perasaan meletup saat berkumpul dengan mereka. Terlebih lokasinya berada di pinggir jalan. Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena di masa Rasulullah para sahabat juga suka berkumpul di tepi jalan untuk bincang-bincang. Rasulullah pun berpesan kepada para sahabat untuk memperhatikan etikanya.
 

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا; نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ: فَأَمَّا إِذَا أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا اَلطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ اَلْبَصَرِ وَكَفُّ اَلْأَذَى وَرَدُّ اَلسَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ اَلْمُنْكَرِ(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
 

Artinya: Dari Abu Said al-Khudry bahwa Rasulullah bersabda: Jauhkan diri kalian dari duduk-duduk di tepi jalan. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk yang biasa digunakan untuk berbincang-bincang. Rasulullah berkata: Jika kalian enggan menerima (nasehat ini), maka berikan hak jalan. Mereka bertanya: Apakah haknya?. Rasulullah bersabda: Menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang, menjawab salam, mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran (Muttafaq Alaih)
 

Istilah berkumpul duduk-duduk di tepi jalan yang kemudian disebut nongkrong ini selanjutnya mengalami perkembangan sesuai konteksnya; ada yang nongkrong untuk menghabiskan waktunya di pinggir jalan sambil dibumbui kemaksiatan, ada yang nongkrong untuk membincangkan persoalan agama dan negara, ada pula yang nongkrong untuk melepas lelah, ada yang nongkrong untuk berdiskusi seputar keilmuan, dan lain sebagainya.
 

Harus diakui bahwa Islam sangat memperhatikan dimensi sosial kemasyaratan, misalnya hubungan harmonis antar sesama, memuliakan tamu, menjaga kehormatan saudara muslim, membantu sesama, hidup rukun dengan tetangga, hingga persoalan memperhatikan hak pengguna jalan.
 

Generasi para sahabat yang direkam dalam hadits di atas tentu berbeda dengan generasi zaman sekarang. Tujuan Nabi Muhammad memperingatkan para sahabat agar menghindari duduk di pinggir jalan sebagai bentuk kehati-hatian. Ketika para sahabat mengemukakan alasannya, Nabi pun tidak melarang, hanya saja ada beberapa etika yang harus diperhatikan oleh mereka yang suka nongkrong, yaitu:
 

1. Menundukkan pandangan, yakni menjaga agar tidak memandang lawan jenis
 

2. Menghilangkan gangguan, yakni tidak mengganggu orang yang sedang melintas, malah dianjurkan untuk menghilangkan duri yang disinyalir bisa mencelakai orang lain
 

3. Menjawab salam, yakni ketika pengguna jalan mengucapkan salam, maka harus dijawab
 

4. Mengajak melakukan kebaikan, yakni ucapan dan tindakan yang mengarah kebaikan
 

5. Mencegah kemungkaran, yakni tidak menimbulkan kemaksiatan dan marabahaya
 

Dengan demikian kebiasaan nongkrong meskipun diperbolehkan namun tetap harus memperhatikan etika yang telah Rasulullah sampaikan. Sebab tidak jarang orang yang mengabaikan etika tersebut tanpa ia sadari telah tergelincir ke dalam jurang maksiat dan terlena dengan asyiknya nongkrong.


Editor:

Keislaman Terbaru