• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 7 Juli 2022

Keislaman

Shalat, Garansi Keshalihan Personal dan Sosial 

Shalat, Garansi Keshalihan Personal dan Sosial 
Shalat menjadi ukuran keshalihah seorang muslim. (Foto: NOJ/NU Network)
Shalat menjadi ukuran keshalihah seorang muslim. (Foto: NOJ/NU Network)

Secara etimologi, shalat adalah doa. Sedangkan secara istilah syariat, shalat adalah suatu ibadah yang terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan tertentu sesuai sarat dan rukun yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam. Tata caranya adalah sesuai yang dituturkan para sahabat yang melihat Rasulullah sewaktu sedang shalat. Demikian pula umat Islam mendirikan shalat sesuai ajaran yang diyakini kesahihannya hingga saat ini. Hal tersebut sesuai sabda Rasulullah SAW: Shalatlah sebagaimana kalian melihatku melaksanakan/mempraktikkannya. (HR Bukhari-Muslim) 
 

Menurut sejarahnya, perintah shalat diterima Rasululah SAW ketika menunaikan Isra’ Mi’raj. Bahwa Nabi Muhammad naik menuju Sidratul Muntaha dan bertemu secara langsung (yaqadhah) dengan Allah SWT. Pada saat inilah Rasulullah mendapat perintah baginya beserta seluruh umat yang mempercayai keterutusannya, berupa shalat 50 kali sehari yang kemudian dikurangkan hingga lima kali. Pewahyuannya yang secara langsung ini menjadikan shalat diyakini ulama sebagai ibadah yang memiliki keistimewaan. Shalat adalah ibadah yang pertama kali akan ditimbang kelak dihari pembalasan. Jika seorang hamba shalatnya baik, maka tentu menjadi baik pulalah seluruh amal perbuatannya. Sebaliknya, jika seorang hamba shalatnya jelek, maka berarti buruk pulalah seluruh hidupnya. 
 

Shalat sebagai Garansi Keshalihan
Tentu urusan baik dan buruk ibadah shalat seseorang kemudian bukan hanya ditentukan oleh rajin dan tidaknya pergi ke masjid. Melainkan juga menghitung khusyu ataukah tidaknya, ikhlas atau pamernya seorang hamba ketika sedang menghadap Sang Pencipta alam semesta ini setiap waktunya. Hal ini sebagaimana firman Allah: 
 

 قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ 
 

Artinya: Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu dalam shalatnya. (QS Al-Mu'minun, 23:1-2) 
 

Bukan hanya di akhirat Allah menjanjikan kebahagiaan bagi hamba yang mendirikan shalat dengan segenap jiwa dan raga. Semenjak di dunia pun Allah telah memberi kabar gembira kepada umat Islam, sebagaimana firman Allah: 
 

 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ 
 

Artinya: Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (QS. al-A'raf, 7:96) 
 

Meskipun ketakwaan tidak dapat hanya diukur dari sisi lahiriah berupa shalat saja, namun shalat jelas-jelas merupakan pintu masuk bagi setiap muslim untuk memulai pengabdian kepada Allah dan Rasulullah. 
 

Shalat merupakan sebesar-besarnya tanda iman dan seagung-agungnya syiar agama. Shalat merupakan tanda syukur para hamba atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan bukti bahwa shalat merupakan simpul terpenting dalam tatanan Islam, baik bagi setiap individu maupun masyarakat, dalam skala yang terkecil hingga level bangsa. Sebegitu pentingnya, maka layaklah Allah mewahyukannya langsung kepada Rasulullah tanpa melalui perantara. 
 

Shalat mempunyai kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah-ibadah lain. Ada banyak kutipan ayat al-Qur'an mengenai keutamaan shalat. Beberapa di antaranya adalah: 
 

 وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى 
 

Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS Thaha, 20:132)
 

Shalat sangat bermanfaat bagi kehidupan umat Islam, baik secara individual maupun secara kemasyarakatan. Dalam hal ini Allah menjanjikan bahwa shalat dapat menjauhkan manusia dari perbuatan tidak manusiawi. Firman Allah: 
 

 وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ 
 

Artinya: Dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya shalat dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (QS. Al-Ankabut, 29:45) 
 

Ayat ini merupakan peringatan dari Allah bahwa shalat merupakan elemen terpenting dalam pembentukan pribadi muslim. Termasuk dalam pembentukan karakter bangsa. Jika saja seluruh penduduk bangsa rajin melaksanakan shalat dengan baik, tentu Allah akan mencurahkan karunia. Bukan besar kecil atau indah dan gemerlapnya sebuah masjid yang menjadi tolok ukur religiusitas sebuah masyarakat, melainkan banyak atau sedikitnya jamaah yang mendirikan shalat ketika waktu-waktu adzan dikumandangkan. 
 

Sementara shalat sebagai sebuah keharusan bagi setiap individu muslim merupakan salah satu pertanda paling mudah dijadikan standar untuk mengukur sejauh mana seseorang memiliki ketakwaan kepada Allah. Pribadi yang bertakwa adalah pribadi yang senantiasa hatinya terikat dengan batas-batas waktu shalat. Meskipun memang shalat tidak secara mutlak menunjukkan tingkat ketakwaan seseorang, setidaknya dapat memberikan sebuah perenungan intens dan continue kepada setiap pribadi muslim dalam keseharian. Ketika seorang muslim sedang berada dalam posisi yang mengakibatkan ia memiliki kecenderungan atau peluang lebih besar untuk berbuat dosa, maka ia akan dapat mengingat shalatnya. Buat apakah rajin-rajin shalat jika masih selalu menjalankan kebiasaan buruk misalnya. 
 

Tentu saja dalam hal ini, shalat adalah sebuah sarana spiritual yang cukup penting untuk meredam kekejian atau kemungkaran yang akan dijalaninya. Shalat dapat berfungsi sebagai kontrol diri setiap saat bagi setiap perilaku individu muslim. Maka demikian pun shalat dapat berfungsi sebagai kontrol sosiologi masyarakat. Jika sebuah komunitas masyarakat memiliki masjid yang selalu penuh oleh jamaah di setiap waktu-waktu shalat, tentu ini mencerminkan kondisi lingkungan yang religius. Biasanya secara otomastis, kegiatan-kegiatan massal yang berbau kemungkaran akan berkurang. Hal ini tentu sangat berbeda dengan lingkungan masyarakat yang masjidnya hanya penuh ketika hari raya saja. Tentu kegiatan yang bersifat foya-foya lebih sering diselenggarakan dalam masyarakat. 
 

Dari sini shalat dapat kita jadikan sebuah pola dalam memperjuangkan peningkatan moral masyarakat. Memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah merupakan program yang efektif untuk meredam gejolak negatif masyarakat. Jika kita mampu memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, kedamaian dan lingkungan kondusif pasti terkondisikan dengan sendirinya. Maka marilah kita bersama meningkatkan ketakwaan dan membangun masyarakat islami dan bermoral mulia, berakhlakul karimah dan berkerukunan serta berkesatuan melalui penggalakan shalat berjamaah di masjid, mushala maupun di kantor dan di mana pun tempat yang selayaknya kita mengagungkan asma Allah. Mari bersama tegakkan agama Allah, agar beroleh keselamatan dan kesejahteraan sepanjang usia.


Keislaman Terbaru