• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Madura

Festival Sapparan Lesbumi NU Sumenep Usung Spirit Rawat Kearifan Lokal

Festival Sapparan Lesbumi NU Sumenep Usung Spirit Rawat Kearifan Lokal
Ketua PCNU Sumenep, KH A Pandji Taufiq saat Festival Sapparan Budaya Lesbumi NU Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Ketua PCNU Sumenep, KH A Pandji Taufiq saat Festival Sapparan Budaya Lesbumi NU Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulaama (Lesbumi NU) Sumenep menggelar Festival Sapparan Budaya. Kegiatan yang mengusung spirit merawat kearifan lokal tersebut dibuka pada Sabtu (17/09/2022) yang dipusatkan di Gedung Islamic Center, Batuan, Sumenep.


Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH A Pandji Taufiq mengatakan, Sapparan merupakan budaya leluhur berbentuk sedekah bubur yang dilakukan pada bulan Shafar. Dalam festival ini, Lesbumi NU mengemas dengan berbagi ilmu sehingga menjadi mainstream kehidupan warga.


"Suasana malam ini sangat berbeda dengan acara NU lainnya. Suasananya sangat tenang, tapi ada meriahnya. Karena malam ini banyak pertunjukan kesenian yang akan diungkap pada khalayak luas," ujarnya saat sambutan.


Ia mengatakan, tantangan terberat bagi pegiat seni NU adalah barang dan orang semakin kuat. Artinya, bagaimana tradisi dan kebudayaan terus dipelihara dan dikembangkan sesuai suasana kekinian, sehingga kebudayaan tidak tercerabut dari keasliannya.


Dirinya berharap, agar Lesbumi NU Sumenep untuk mencari rangkaian tentang mana yang lebih dahulu budaya Sumenep atau NU. "Mana yang lebih dulu yang mempengaruhi, NU Sumenep atau NU yang mempengaruhi budaya Sumenep. Sebab, dua-duanya memiliki sisi adiluhung yang baik di tradisi ke-NU-an," terangnya.


Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini menyebutkan, Sumenep merupakan ikon yang sangat terhormat. Sebagaimana banyak literatur menyatakan bahwa Sumenep merupakan Solonya Madura.


“Ungkapan tersebut sangat dalam, sekaligus beban moral bagi Nahdliyin agar memelihara siap baik ke-Sumenep-an dan juga mengamalkannya,” ungkapnya.


Sementara itu, Ketua PC Lesbumi NU Sumenep Kiai Homaidy mengatakan, Festival Sapparan Budaya memiliki tiga tujuan utama. Yakni, mencari tradisi dan budaya yang hampir punah, merawat tradisi dan budaya yang sudah ada, serta menjaga tradisi dan budaya di Sumenep agar selamat dari rekayasa orang yang tidak bertanggung jawab.


“Makanya, segala macam pertunjukan kesenian yang ada mayoritas kesenian asli Sumenep. Terlebih pelaku atau pegiat kesenian yang tampil dalam festival ini didominasi oleh warga NU,” ucapnya.


Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini menyatakan bahwa festival Sapparan bertepatan dengan kegiatan rutinan, yakni malam Salekoran yang biasa diisi dengan kajian kesenian.


"Malam Salekoran (malam tanggal 21) yang dihelat di bulan Shafar kami jadikan momen penting untuk berefleksi bahwa tradisi dan kebudayaan di Sumenep tidak lepas dari tangan dingin para ulama, khususnya walisongo," kata Kiai Homaidy.


Tak hanya itu, terlaksananya kegiatan ini menjadi bagian pengabdian pada pini sepuh, khususnya muassis NU. Karena diyakininya, program tersebut bagian dari sumber ilmu dan dijadikan pijakan dalam menjunjung derajat manusia serta kearifan lokal.


"Pentas Macapat Kaleningan, Tari Sintong dan Pojhian yang tampil pada malam ini tidak lain upaya membangun silaturahim dan mengembangkan kebudayaan di Sumenep. Intinya, kegiatan ini mengharap ridha Allah dan barakah muassis NU," tandasnya.


Madura Terbaru