• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Madura

Pesantren Al-Is’af Sumenep, Kukuh Pertahankan Sistem Salaf di Era Modern

Pesantren Al-Is’af Sumenep, Kukuh Pertahankan Sistem Salaf di Era Modern
Suasana kajian kitab kuning di Pesantren Al-Is'af Kalabaan Guluk-Guluk Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Suasana kajian kitab kuning di Pesantren Al-Is'af Kalabaan Guluk-Guluk Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Khalayak mengenal pesantren tertua di Kabupaten Sumenep adalah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Namun, sekitar 500 meter ke arah barat Pesantren Annuqayah terdapat pesantren yang sampai detik ini kukuh mempertahankan sistem pendidikan salaf murni di era modern. Ia adalah Pesantren Al-Is’af Kalabaan Guluk-Guluk, Sumenep.


Pesantren Al-Is’af Kalabaan didirikan oleh Syaikhona KH Muhammad Habibullah Rais pada tahun 1960. Kiai Habib, demikian ia dikenal, lahir pada hari Kamis bakda subuh, tanggal 6 Jumadil Akhir 1352 Hijriyah atau tahun 1935 Masehi. Ia merupakan santri Pesantren Annuqayah sekitar tahun 1948-1949.


KH Md Widadi Rahim selaku dzurriyah menjelaskan, secara bahasa kata Al-Is’af berasal dari bahasa Arab yang berarti membantu. Nama tersebut difungsikan sebagai sarana untuk membantu para thalabul ilmi (pencari ilmu) yang memiliki waktu untuk belajar.


“Selain itu, membantu masyarakat yang lemah di perekonomiannya untuk memperoleh pendidikan agama,” jelas Kiai Widadi beberapa waktu lalu.


Ia menambahkan, out put yang diharapkan ialah ilmu yang diperoleh di pesantren akan ditransfer dan diamalkan oleh seluruh alumni yang tersebar di berbagai daerah.


“Artinya, visi pesantren itu menciptakan dan membentuk pribadi yang bertakwa layaknya masjid yang berfungsi membangun ketakwaan bagi setiap Muslim dan mengabdi pada Allah untuk menjunjung tinggi agama-Nya atau li i'lai kalimatillah,” katanya.


Secara historis, awal berdiri pesantren tersebut memiliki dua orang santri yang digembleng dengan ilmu alat, yakni Nahwu dan Sharraf. Kedua santri itu dikatakan mampu mendalaminya, sehingga muncul ketertarikan dari masyarakat untuk memondokkan putra-putrinya di pesantren yang letaknya ada di kampung Kalabaan itu.


Sebagaimana diceritakan dalam buletin Dwi Mingguan Kasysyaf, ilmu Nahwu dan Sharraf memang diprioritaskan oleh Kiai Habib sebagai alat bagi santri agar bisa memahami ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu fikih.


Karena keberhasilan pengasuh dalam mendidik santri, Pesantren Al-Is’af kemudian tumbuh sebagai kawah candradimuka tempat penggemblengan para santri. Puncaknya adalah jumlah santri kian meningkat setiap tahun.


“Bahkan, mayoritas alumninya mendapat kepercayaan masyarakat untuk mendirikan pesantren di tempat kelahirannya. Sebagian lainnya menjadi tokoh masyarakat,” imbuh Kiai Widadi.


Disebutkan, pesantren Al-Is’af tidak menyelenggarakan pendidikan formal, seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) atau lainnya. Akan tetapi menerapkan pendidikan salaf dengan kajian kitab kuning.


“Karena fokus pendidikannya adalah pesantren salaf yang mengajarkan ilmu keagamaan,” tutur Kiai Widadi yang juga Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Guluk-Guluk itu.


Di pesantren tersebut, sistem pengajarannya diatur dalam beberapa tingkatan, yaitu tingkat dasar (Al-Adna) yang memiliki 4 kelas, tingkat menengah (Al-Wustha) dengan 5 kelas, dan tingkat atas (Al-Ulya) yang terdapat 3 kelas.


Meski demikian, Pesantren Al-Is’af juga membuka kegiatan ekstrakurikuler bagi santri. Adapun kegiatannya antara lain, kesenian hadrah, latihan pidato, dan bahtsul masail yang mendapat apresiasi positif masyarakat. Metode klasik itu mengkaji dan memecahkan persoalan-persoalan maudlu’iyah (tematik) dan waqi’iyah (aktual).


“Dan, setiap putusan yang dihasilkan dikumpulkan oleh pengurus, kemudian dibukukan menjadi beberapa jilid untuk dijadikan rujukan oleh masyarakat,” pungkasnya.


Madura Terbaru