• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Madura

Risalah Mbah Hasyim Asy’ari Dibedah Siswa MTS Negeri Sumenep

Risalah Mbah Hasyim Asy’ari Dibedah Siswa MTS Negeri Sumenep
Siswa-siswi MTs Negeri 1 Sumenep mengikuti bedah kitab karya Mbah Hasyim Asy'ari. (Foto: NOJ/Moh Khoirus Shadiqin)
Siswa-siswi MTs Negeri 1 Sumenep mengikuti bedah kitab karya Mbah Hasyim Asy'ari. (Foto: NOJ/Moh Khoirus Shadiqin)

Sumenep, NU Online Jatim

Dalam upaya membentengi diri dari paham radikalisme, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Sumenep, Madura, menggelar Bedah kitab karya KH Hasyim Asy’arif, Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah yang diterjemah oleh KH Muhammad Chotib. Kegiatan itu digelar di Aula MTsN 1 Sumenep, Rabu (30/03/2022).


"Kegiatan ini sebagai media memperkokoh nalar dan manhaj ke-Aswaja-an menuju Islam rahmatan lil alamin, serta menghindari paham-paham yang merusak pada tatanan yang sudah terbangun sejak lama oleh para pendiri negeri ini," kata KH Said Syamsuri, Kepala MTsN 1 Sumenep.


Selain itu, lanjut dia, kegiatan ini sebagai wujud dan implementasi dari rencana strategis Kementerian Agama dan ajang pemantapan dalam beragama sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW dan para salafusshalihun.


Sementara itu, KH Muhammad Chotib, penerjemah kitab ini, mengaku sangat takjub terhadap isi kitab karya Mbah Hasyim tersebut. Menurutnya, Mbah Hasyim begitu luar biasa dalam menjelaskan secara histori peradaban budaya beragama orang Jawa dan sekitarnya, atau yang dikatakan Nusantara.


"Mulai abad ke-13 saat Fiqih, aqidah dan tasawuf masih satu shaf, satu suara, dan seragam dalam gerakan dakwah," ujar Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, Bangselok, Sumenep itu.


Baru pada abad ke-14, mulai menjamur varian paham di Pulau Jawa. Hadratussyekh memilah satu per satu, mengupas kulit demi kulit dengan detail menjadi penjelasan yang sangat indah. Mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang kontradiktif dengan ruh Islam itu sendiri.


Menurut Ketua Pimpinan Cabang Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Sumenep itu, dalam perjalannya ada sekte kuno yang justru menggerogoti Islam dari dalam. Aliran itu di antaranya Rofidlah, Wahabi, Ibahiy hingga paham Manunggaling Kawulo Gusti.


Bagusnya, kata dia, kitab karangan Mbah Hasyim Asy'ari tetap relavan hingga sekarang. "Beberapa kali Hadratussyekh mengingatkan kita akan pentingnya berpegang teguh kepada paham Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah," pungkasnya.


Madura Terbaru