• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 26 November 2022

Madura

Wakil Rais NU di Sumenep Sebut Manusia sebagai 'Animal Plasticum'

Wakil Rais NU di Sumenep Sebut Manusia sebagai 'Animal Plasticum'
Acara Ngaji Lingkungan PK IPNU IPPNU Pondok Pesantren Nasyrul Ulum. (Foto: NOJ/A Habiburrahman)
Acara Ngaji Lingkungan PK IPNU IPPNU Pondok Pesantren Nasyrul Ulum. (Foto: NOJ/A Habiburrahman)

Sumenep, NU Online Jatim

Memasuki era industri 4.0, manusia dalam berbagai keperluan sehari-hari sering kali menggunakan plastik. Oleh karenanya, ia disebut sebagai animal plasticum atau makhluk yang tidak dapat lepas dari plastik. Hal ini tanpa disadari dapat menyakiti bumi. Karena dari bahan plastik inilah banyak sampah yang dihasilkan.

 

Penekanan ini disampaikan oleh KH M Faizi saat mengisi acara Ngaji Lingkungan di Pondok Pesantren Nasyrul Ulum, Aengdake, Bluto, Sumenep, Kamis (07/01/2021). Dalam acara yang bertajuk 'Peran Pelajar NU dalam Merawat Bumi' ini juga digelar Pelantikan dan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pondok Pesantren Nasyrul Ulum.

 

KH M Faizi menuturkan, bahwa ketergantungan manusia terhadap bahan jenis plastik ini pada dasarnya merupakan bentuk pengerusakan bumi yang kreatif. Dikatakan demikian karena plastik merupakan jenis yang paling lama untuk hancur, bahkan membutuhkan waktu hingga 200 tahun. 

 

"Itu artinya, kita semua berada diambang kehancuran bumi, yang tanpa disadari kita sebagai pelakunya," kata Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini.

 

Wakil Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Guluk-Guluk Sumenep ini menyebutkan, bahwa saat ini perilaku manusia mulai kurang ajar. Manusia dalam kesehariannya sudah terbiasa menyisakan makanan, serta membiarkan makanan tersebut begitu saja. Padahal, di luar sana orang-orang sulit untuk mencari makan.

 

"Dalam benak mereka, tidak terbersit sedikitpun kesadaran bahwa orang lain di luar sana begitu sulitnya mencari sesuap nasi," ujar kiai yang juga sastrawan nasional ini.

 

Dosen Institute Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep ini pun mengutip keterangan dari Food and Agriculture Organization (FAO) sebuah padan pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Disebutkan bahwa, Indonesia dalam setiap tahunnya menghasilkan sekitar 13 juta ton sampah makanan.

 

"Dan sampah yang begitu banyak ini salah satunya dihasilkan dari restoran dan katering," pungkas penulis buku 'Merusak Bumi dari Meja Makan' ini.

 

 

Editor: Risma Savhira


Madura Terbaru