• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 25 Mei 2022

Madura

Wakil Rais NU Sumenep Ajak Sambut Maulid Nabi dengan Gembira

Wakil Rais NU Sumenep Ajak Sambut Maulid Nabi dengan Gembira
KH M Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais NU Sumenep, dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Pragaan. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH M Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais NU Sumenep, dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Pragaan. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

KH M Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep, Madura, mengajak seluruh masyarakat agar menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan gembira. Kata dia, paman Nabi, Abu Lahab, saja yang non-Muslim diapresiasi oleh Allah SWT karena gembira setelah keponakannya itu lahir.

 

Hal itu disampiakn Kiai Zainur saat hadir dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushala Al-Falah Cecce’ Laok, Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Madura, beberapa waktu lalu, dikutip NU Online Jatim, Rabu (06/10/2021). Kegiatan itu menghadirkan Al-Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba'abud dari Kraksan, Kabupaten Probolinggo.

 

“Mari kita sambut kedatangan Maulid ini dengan hati gembira. Seperti halnya Abu Lahab yang merasa gembira atas kelahiran keponakannya yang berjenis laki-laki, hingga ia memerdekakan budak. Momen tersebut tidak dilupakan oleh Allah SWT,” tandas Kiai Zainur.

 

Karena kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad, Allah meringankan azab kubur Abu Lahab setiap Senin, hari lahirnya Nabi Muhammad. “Ingat, Abu Lahab merasa gembira bukan karena menyambut kelahiran Nabi, tetapi keponakannya,” ucap Kiai Zainur.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh Prenduan itu mengajak kepada seluruh jamaah pengajian untuk memperbanyak membaca shalawat dan memperbanyak melakukan kebaikan. Kata Kiai Zainur, perbuatan baik di momen istimewa itu akan dilipatgandakan.

 

“Mengerjakan sebuah pekerjaan di bulan mulia, maka ganjarannya lebih besar. Sebaliknya, jika berbuat keburukan di bulan mulia, maka nilai dosanya lebih besar dari pada di luar itu,” ungkapnya menyitir pesan Syekh Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad.


Madura Terbaru