• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 30 Januari 2023

Malang Raya

Gus Yasin: Media Sosial Adalah Dakwah Kita

Gus Yasin: Media Sosial Adalah Dakwah Kita
Gus Yasin memberikan wawasan soal media sosial di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)
Gus Yasin memberikan wawasan soal media sosial di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)

Malang, NU Online Jatim

Perkembangan zaman teknologi informasi yang serba cepat adalah sebuah keniscayaan bagi kaum santri. Santri harus melek digital untuk membuat dan mengisi konten-konten positif di media sosial. Pesan tersebut disampaikan oleh KH Taj Yasin Maimoen atau lebih dikenal sebagai Gus Yasin. Putra Almaghfurlah KH Maimoen Zubair ini menyampaikan pentingnya santri harus bisa mengisi semua lini, tidak hanya berorientasi sebagai kiai.

 

"Media sosial adalah dakwah kita. Kita arahkan masing-masing, ada yang dakwah di TPQ, media sosial, ada yang lain. Kita isi ruang-ruang yang kosong," ungkap Gus Taj Yasin Maimoen, saat mengisi Seminar Optimalisasi Media Sosial di Masjid Baiturrahman, Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang, Kamis (18/11/2021).

 

Wakil Gubernur Jawa Tengah ini menuturkan, dalam mencari ilmu agama yang wajib adalah mempelajari ilmu tauhid, akidah dan keseharian. Sementara ada ilmu yang sunnah tidak semua perlu diketahui, namun harus dibagi-bagi.

 

"Seperti ilmu media sosial yang punya masanya sendiri. Setiap ulama ada maqom ulamanya. Semua berubah dengan berkembangnya zaman," ungkap Gus Yasin. 

 

Ulama kelahiran Rembah yang pernah berkecimpung di Pelajar Islam Indonesia di Damaskus, Suriah ini menjelaskan, dahulu awal-awal santernya media sosial atau internet khusunya YouTube sangat ketat. Di era tahun 2000-an belajar agama harus talaqqi (bertemu langsung). Karena tradisi bertemu dengan guru tidak bisa digantikan.

 

Namun, dengan seiring berkembangnya zaman semua bisa memanfaatkan teknologi untuk kebermanfaatan. Sehingga saat ini bisa diterima asalkan konten yang dihasilkan berupa ilmu agama.

 

"Tahun 2008 hingga 2010 KH Maimun sudah menggunakan teknologi untuk mengajar. Kiai banyak diundang pesantren-pesantren luar, namun di samping itu tetap harus mengajar. Akhirnya harus menggunakan media atau teknologi, itu pun hanya terbatas yang bisa mendengarkan karena dulu belum ada google meet dan zoom," imbuhnya.

 

Putra ulama kharismatik yang dimakamkan di Makkah ini mengungkapkan, sekarang mulai banyak pesantren yang belajar media untuk syiar. Salah satunya pengajian Gus Baha, banyak yang mensyiarkan lewat YouTube sehingga banyak yang mengetahui sosok beliau termasuk isi pengajian yang ramah dan gayeng.

 

"Tugas kita, kita isi di sisi-sisi ini, termasuk kita membuat Santri Gayeng Nusantara (SGN). Karena sayang sekali jika ulama-ulama kita belum banyak yang diangkat melalui konten atau channel YouTube," ungkap Gus Yasin.

 

Menurutnya, egitu kuat peran media sosial dalam mentransferkan sebuah dakwah. Tidak sedikit yang bisa mengakses pengajian-pengajian Gus Baha, dari pelosok negeri sampai semua lapisan masyarakat menerima dengan baik.

 

"Kita kembangkan SGN, bukan hanya dari kalangan kita tapi banyak ASN yang mengakses pengajian Gus Baha," beber suami dari Ustadzah Nawal Nur Arafah.

 

Dirinya juga memberikan motivasi kepada santri bahwa mereka adalah generasi penerus perjuangan ulama terdahulu. Sudah saatnya santri-santri belajar dengan sungguh-sungguh dan bisa menyikapi kondisi suatu zaman dengan bijak. Bisa menempatkan posisi kemampuan yang dimiliki santri dalam berdakwah.

 

"Yaitu dengan belajar serius. Kalian akan menjadi obor-obor ilmu," pungkasnya.


Malang Raya Terbaru