• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 4 Maret 2024

Matraman

Cerita Alumni Pondok Tremas, Naik Ontel dari Pacitan ke Wonosobo

Cerita Alumni Pondok Tremas, Naik Ontel dari Pacitan ke Wonosobo
M Fashfahish Shofhal Jamil dan Abrori Ndowi, alumni Pondok Tremas, Pacitan. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)
M Fashfahish Shofhal Jamil dan Abrori Ndowi, alumni Pondok Tremas, Pacitan. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)

Pacitan, NU Online Jatim

M Fashfahish Shofhal Jamil (20) dan Abrori Ndowi, alumni Perguruan Islam Pondok Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan melakukan aksi heroik pulang kampung dari pesantren dengan mengayuh sepeda ontel ke Wonosobo. Fahis menceritakan, hobinya bersepeda sudah dijalani ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

 

“Sejak masa sekolah SD, saya sudah sangat hobi bersepeda. Meskipun jalan raya di daerah Wonosobo itu banyak naik dan turun pegunungan. Hehehe,” katanya kepada NU Online Jatim, Sabtu (06/05/2023).

 

Ia melanjutkan, dirinya bersama dengan temannya termotivasi untuk mudik dari pesantren dengan bersepeda karena sering melihat KH Hammad Al-Alim Harist Dimyathi atau Gus Amak mengayuh sepeda ontel setiap pagi.

 

“Hari pertama saya nyantri di Pondok Tremas, saya melihat beliau (Gus Amak) sedang meng-goes sepeda ontel yang sangat klasik. Dan saya langsung mempunyai inisiatif untuk menabung agar bisa membeli sepeda yang sama seperti sepeda ontel miliknya sekaligus untuk sarana transportasi  pulang dari Pondok Tremas menuju kota kelahiran (Wonosobo),” ujarnya.

 

Fahis mengatakan, perjalanan dari Tremas hingga ke Wonosobo membutuhkan waktu selama 3 hari 3 malam. Selama di perjalanan, ada kerusakan sedikit di bagian pengereman roda sepeda ontel, tetapi ia merasa selalu dilindungi oleh Allah SWT.

 

“Menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam, dimulai dari malam 5 Syawal 1444 Hijriyah. Alhamdulillah perjalanan saya dikasih perlindungan sama Allah dengan keselamatan, kesehatan, kelancaran, meskipun ada kerusakan sedikit di bagian pengereman roda sepeda ontel,” jelasnya.

 

Dirinya berharap, perjalanan yang ditempuh dari Pacitan sampai Wonosobo tersebut mendapatkan ridho dari Allah, kedua orang tua, dan ridho dari para masyayikh. Sehingga bisa menjadikan bertambahnya semangat dalam belajar, mencari ilmu di pondok pesantren.

 

Ia menyampaikan, setiap tindakan yang dilakukan akan memberikan kesan tersendiri dan juga bermanfaat di masa mendatang. Menurutnya, setiap manusia hendaknya tidak takut untuk selalu mencoba hal yang baru dalam hidup selagi masih dalam kebenaran.

 

“Tetap semangat dan jangan putus asa. Ini akan menambah pengalaman dalam hal solidaritas sesama manusia. Juga bisa merasakan perjuangan perjalanan orang yang telah mendahului kita sebelum adanya kendaraan bermesin yang melewati pahit manisnya dalam perjalanan,” tandasnya.


Matraman Terbaru