• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 27 November 2022

Matraman

Halal Bihalal, Nahdliyin di Pacitan Diingatkan Makna Kehidupan

Halal Bihalal, Nahdliyin di Pacitan Diingatkan Makna Kehidupan
Pengurus Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Pacitan, Ustadz M Nizar Bastari. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)
Pengurus Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Pacitan, Ustadz M Nizar Bastari. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)

Pacitan, NU Online Jatim
Pengurus Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Pacitan, Ustadz M Nizar Bastari mengingatkan Nahdliyin bahwa kehidupan manusia di dunia sama halnya dengan anak kecil yang memiliki mainan.


“Di saat mainan baru datang, ia merasa bahagia. Namun di saat mainan itu sudah hilang atau bahkan rusak, maka ia akan sedih,” ujarnya saat ceramah dalam acara Halal Bihalal keluarga besar RT 01/RW 17 Dusun Pakis, Desa Punung, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Sabtu (07/05/2022).


Alumni Perguruan Islam Pondok Tremas itu mengatakan, saat seorang merasa memiliki sesuatu, maka saat itu pula ia akan kehilangan sesuatu. Sama halnya dengan kelahiran yang disambut dengan suka cita, namun kematian manusia justru diiringi dengan tangis kesedihan.


“Hal tersebut tentu dapat menjadikan kita belajar dan saling memberi pengetahuan kepada sesama makhluk hidup," jelas pria yang juga Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, Pacitan tersebut.


Dirinya pun menjelaskan, bahwa halal bihalal sejatinya bukan tuntunan dari Nabi Muhammad SAW. Namun, halal bihalal justru pertama kali dipelopori oleh salah satu pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah.


“Kala itu Mbah Wahab menyampaikan kepada Presiden RI Soekarno untuk menyelenggarakan kegiatan silaturahim selepas Hari Raya Idul Fitri yang diberi nama halal bihalal,” jelasnya.


Selain itu, ia juga menjelaskan terkait lima golongan yang akan menemui ajal dalam keadaan buruk atau su'ul khatimah. Yakni, orang yang melalaikan shalat lima waktu, pemabuk minuman keras, anak yang durhaka kepada orang tua, dan orang yang tidak memiliki akhlak terpuji.


“Dan yang terakhir ialah orang yang melakukan dosa besar namun tidak mau bertobat,” kata Koordinator Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT) Kecamatan Kebonagung itu.


Sementara Kepala Dusun Pakis, Megi Santoso memberikan apresiasi tinggi dengan adanya kegiatan halal bihalal dan pengajian tersebut. Menurutnya, dengan adanya kegiatan positif tersebut diharapkan kegiatan sejenis dapat terus terselenggara dengan istiqamah dan lancar.


Ia menambahkan, bahwa dalam situasi Hari Raya Idul Fitri tahun ini seyogya dapat merenung dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Tak cukup itu, selayaknya manusia bahagia karena melewati masa-masa sulit di lebaran sebelumnya akibat pandemi Covid-19.


“Sebelumnya, dua pertemuan lebaran kita masih pandemi. Namun, pada tahun ini kita patut berbahagia atas kebijakan pemerintah yang memperbolehkan mudik, sehingga kita dapat bertemu dengan keluarga dan saudara,” tandasnya.


Matraman Terbaru