• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Mei 2024

Matraman

Jelang Lebaran, Kader NU Tulungagung Banjir Orderan Toples Anyaman Bambu

Jelang Lebaran, Kader NU Tulungagung Banjir Orderan Toples Anyaman Bambu
Kamirin yang sedang menganyam toples pesanan dilapisi dengan anyaman bambu. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)
Kamirin yang sedang menganyam toples pesanan dilapisi dengan anyaman bambu. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)

Tulungagung, NU Online Jatim

Salah satu anggota Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tulungagung, Kamirin ini sudah belasan tahun menekuni berbagai bidang kerajinan.


Pria yang tinggal di Kelurahan Tertek, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung pada bulan suci Ramadhan ternyata banyak pesanan berupa toples dengan dilapisi anyaman bambu buatannya sendiri.


Kamirin juga menularkan kreativitas ke siswa-siswi binaannya yang juga sudah mandiri dengan berbekal ketekunan dan ketelatenan. Nama usahanya diberi nama Crafirafi yang merupakan nama sang buah hati.


Kamirin mengungkapkan, unit usaha di sini yang dikerjakan di bidang kerajinan tidak hanya satu jenis, melainkan dari berbagai bahan baku. Mulai dibuat dengan tangan, bambu, kayu, pemanfaatan limbah yang bermacam-macam seperti limbah kayu, limbah kertas, plastik dan sebagainya diolah menjadi barang bernilai ekonomis.


"Untuk bulan Ramadhan paling banyak kita membuat toples, tempat jajan, juga ranang ini persiapan bulan Syawal sudah masuk dimana banyak hajatan pernikahan," ujarnya ditemui di galeri yang tepat di depan kediamannya, Jum'at (29/03/2024).


Menurutnya, untuk range harga jual, ia membandrol mulai dari harga besek (anyaman bambu untuk wadah) termurah sekitar Rp 1.500 sampai naik ke atas, diatas harga Rp 500 ribu. Namun untuk yang kayu, harga lebih tinggi sekitar Rp 1 juta.


Alumnus Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) di Tulungagung yang berpusat di Pacitan lulus pada 1994 mengaku, meski pernah mendapatkan pesanan dan job untuk pasar luar negeri, ia lebih memilih fokus menggarap pasar lokal.


Selain risiko yang lebih ringan dibanding ekspor, pasar lokal menurutnya lebih santai dalam hal pemenuhan pesanan. Pasalnya, kesibukannya yang banyak seperti dalam mengajar door to door ke sekolah-sekolah juga tidak jarang mengisi materi tentang industri kreatif yang ia tekuni.


Dalam bulan Ramadhan ini pesanan toples meningkat, berbeda dengan bulan-bulan biasa. Tergantung juga saat musim hajatan pernikahan bisa mendapatkan pesanan banyak. Ia menyebut, menjalankan industri kreatif ini menonjolkan memodifikasi hasil anyaman lebih menarik. Namun ia tidak memberikan pewarna tambahan untuk wadah yang langsung digunakan sebagai wadah makanan.


"Cat bambu ada wenter, bahan teksil macam-macam cuma yang tidak tersentuh dengan makanan. Beda kalau toples ini saya kasih pewarna makanan, karena didalamnya ada toples plastik," katanya.


Kamirin mengaku bersyukur pada tahun 2005 mendapatkan tempat ini sebagai rumah tinggal sekaligus galeri industri kreatif Crafirafi. Lokasi yang strategis mudah dijangkau oleh konsumen. Berbeda denga rumah tinggal aslinya di Tulungagung bagian selatan yang memiliki akses terbilang jauh. 


“Dalam menjalankan usaha saya ini tidak terlalu mengejar keuntungan berlipat-lipat. Jika untung itu sudah menjadi poegangan yang harus medapatkan laba,” pungkas pria asli Desa Sumberbendo, Kecamatan Pucanglaban ini.


Matraman Terbaru