• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Matraman

Kiai Sadjad Pacitan Ungkap Kesalahan Manusia yang Sulit Dilepaskan

Kiai Sadjad Pacitan Ungkap Kesalahan Manusia yang Sulit Dilepaskan
KH Abdulloh Sadjad, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Arjowinangun, Pacitan. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)
KH Abdulloh Sadjad, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Arjowinangun, Pacitan. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)

Pacitan, NU Online Jatim
Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Arjowinangun, Pacitan, KH Abdulloh Sadjad menyampaikan bahwa kesalahan kepada sesama makhluk adalah hal yang sulit untuk dilepaskan. Karena sebelum adanya keridhaan di antara makhluk, maka tak akan dihapuskan dosanya. Hal tersebut dipaparkan saat Halal Bihalal dan Iftitah Dirosah yang dipusatkan di aula pesantren setempat, Rabu (13/05/2022).


"Kita harus saling memberikan dan meminta maaf akan kesalahan dan kekhilafan antar sesama makhluk Allah SWT dengan cara mengikrarkannya secara langsung. Tanpa adanya ikrar makna Idul Fitri hanya sebatas lebaran saja dan tak memiliki esensi dalam kehidupan bermasyarakat," katanya.


Ia juga menyampaikan permohonan maaf dari keluarga besar pondok pesantren di hadapan puluhan santri. “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kesalahan dan kekhilafan kami kepada seluruh santri dapat dimaafkan dan memperoleh ampunan dari Allah SWT. Juga apabila santri-santri memiliki salah dan khilaf, kami maafkan,” ujarnya.


Sementara pengurus pesantren setempat, Ustadz Shobarudin menyampaikan, bahwa menjadi santri merupakan anugerah yang luar biasa. Pasalnya, dari jutaan manusia santri adalah seorang yang terpilih untuk mengenyam pendidikan di pondok pesantren.


“Dan, tidak semuanya menjadi orang yang terpilih tersebut. Karena emas adalah logam yang bercampur dengan banyak mineral lainnya, namun ialah yang paling berharga karena terpilih dan dipilih,” kata Shobarudin.


Ia juga mengatakan, kelak santri akan berguna dan sangat dibutuhkan di masyarakat. Oleh karenanya, menjadi santri haruslah tulus dan berniat dalam mencari ilmu.


“Jangan ada yang menganggap bahwa menjadi santri di hari ini kelak akan tidak berharga. Karena kalian merupakan emas di masa yang akan datang,” imbuhnya.


Dirinya berharap, dengan kegiatan tersebut diharapkan para santri istiqamah dalam menjalani kegiatan di pesantren. Selain itu, para santri mampu menjadikan tradisi yang baik sebagai implementasi dari pijakan dasar Nahdlatul Ulama (NU).


“Pijakan dasar itu ialah al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik,” pungkasnya.


Matraman Terbaru