• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Matraman

Kisah Alumni Tremas Nyantri di Makkah Hingga Jadi Guide Umroh

Kisah Alumni Tremas Nyantri di Makkah Hingga Jadi Guide Umroh
Muhammad Maksum. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)
Muhammad Maksum. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)

Pacitan, NU Online Jatim
Mohammad Maksum merupakan alumni Perguruan Islam Pondok Pesantren Tremas, Arjosari, Pacitan yang melanjutkan jenjang pendidikan di Makkah, tepatnya di Rusaifah Makkah Mukarramah. Uniknya, ia juga menjadi guide tur umroh untuk meringankan beban orang tua.


“Selain belajar dan menempuh Pendidikan, saya sambil menjadi guide tur umroh untuk meringankan beban orang tua karena biaya kehidupan yang mahal di sini. Kemudian juga untuk membayar pajak mukim yang biayanya hingga puluhan juta per tahun,” katanya saat dihubungi NU Online Jatim via WhatsApp, Ahad (15/05/2022).


Ia mengaku beruntung bisa menempuh pendidikan di Rusaifah Makkah. Karena di samping biaya yang mahal, juga terkenal sulit untuk diterima menjadi santri di sana.


Menurutnya, hal itu tak lepas dari doa yang selalu dipanjatkan dan sifat ta’dzim terhadap para gurunya.


“Sebenarnya saya masih belum yakin dan tidak terbayang. Hanya saja sejak dulu saya awal mondok di Tremas selalu berdo'a di masjid dan maqbarah masyayikh, bahwa saya ingin mondok di Makkah dan ziarah makam seorang ulama internasional, Syekh Muhammad Mahfudz Tremas. Qodratullah berbekal Sam'an wa tha'atan, alhamdulillah bisa nyantri di sini,” papar Maksum.


Pemuda asal Pasuruan itu menjelaskan, bahwa dirinya tidak terbayang bisa mondok sampai lulus dari Tremas bahkan hingga sampai saat ini bisa nyantri di Makkah. Pasalnya, saat kecil ia bercita-cita menjadi tentara karena ingin mengikuti jejak saudaranya.


Disebutkan, bahwa ketika masih di bangku sekolah ia dibilang sangat nakal dan seringkali orang tuanya dipanggil kepala sekolah karena ia berkelahi. Menonton konser musik bukanlah hal baru baginya. Bahkan, ia sampai sempat tergabung di komunitas anak jalanan.


“Kemudian saya diajak bertemu ke teman orang tua saya yang juga alumni Makkah, KH Abdullah Munif Ma'ruf agar memperoleh pencerahan. Alhamdulillah, sejak itu saya banyak diberi nasihat dan bimbingan olehnya, sampai akhirnya bisa sedikit demi sedikit tertarik dengan dunia pesantren,” jelasnya.


Maksum mengaku awal menjadi santri yaitu di Pondok Pesantren Ilmu Al Qur'an (PIQ) Babussalam An-Nashirie Sukorejo, Pasuruan selama tiga tahun. Lembaga pendidikan agama yang berdiri tahun 1984 tersebut diasuh oleh alumni Pondok Tremas, KH Imron Rosyadi.


Karena lingkungan pesantren yang tidak jauh dari tempat tinggal, ia pun terbesit untuk menimba ilmu di pesantren yang lebih jauh semisal Pondok Tremas.


“Di dalam hati terbersit untuk mondok yang agak jauh, yaitu di Pondok Tremas. Di sisi lain juga banyak inspirasi dan motivasi dari guru-guru saya yang alumni sana. Namun, karena orang tua belum yakin, ia pun sowan ke KH Abdullah Ma'ruf tadi untuk meminta saran dan nasihat,” imbuhnya.


Maksum pun mendapat dukungan penuh untuk nyantri dengan syarat harus ke Pondok Tremas dulu untuk ziarah ke makam Syekh Mahfudz Attarmasi. “Singkat cerita saya sampailah di Tremas. Tapi ternyata makam Syekh Mahfudz Attarmasi tidak ada di sana, beliau dimakamkan di Ma’la, Makkah,” kisahnya.


Ia pun pulang menghadap gurunya untuk melaporkan hal yang terjadi. Ternyata Kiai Abdullah Ma’ruf memerintahkan demikian untuk menguji tekad dan kejujurannya bahwa ia benar-benar ziarah di Tremas.


“Akhirnya, saya diberangkatkan ke Tremas dan nyantri di sana hingga lulus Madrasah Aliyah. Di situlah saya selalu berdoa agar bisa nyantri di Makkah agar bisa melaksanakan tugas guru, yaitu berziarah ke makam Syekh Mahfudz Attarmasi,” ujarnya.


Ia mengatakan, bahwa kesuksesan seseorang tidak lepas dari dukungan guru, orang tua, teman bahkan saudara. “Makanya, saya harap teman-teman tidak menyerah. Tetap berdoa dan mintalah kepada Allah SWT. Dekati sang pemilik takdir, kemudian berusahalah,” pungkasnya.


Matraman Terbaru