• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Matraman

Kisah Kayubi, Komandan Banser Pertama Nyantri di Nganjuk

Kisah Kayubi, Komandan Banser Pertama Nyantri di Nganjuk
Kiai Muhammad Maksum saat bercerita tentang MZ Kayubi. (Foto: NOJ/ M Nazar Afandi).
Kiai Muhammad Maksum saat bercerita tentang MZ Kayubi. (Foto: NOJ/ M Nazar Afandi).

Nganjuk, NU Online Jatim

​​​​​​Muhammad Zainuddin Kayubi, merupakan salah satu tokoh berdirinya Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama. MZ Kayubi pernah nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Kedungsari, Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Ia diangkat sebagai anak oleh Kiai Iskak dan belajar kepada Kiai Soleh.

 

Hal ini seperti diceritakan Kiai Muhammad Maksum (45), pengasuh Ponpes Kedungsari. Kiai Maksum merupakan anak pertama dari Kiai Soleh bin Kiai Imam Mustajab dari Ponpes Gedongsari, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.

 

Kiai Soleh menjadi putra menantu dari Kiai Iskak atau yang lebih dikenal ‘Mbah Kiai Bonondo’ bin Besari. Kiai Iskak merupakan paman dari Kayubi yang kemudian mengangkatnya menjadi anak asuh.

 

“Pak Kayubi itu aslinya dari Pengkol (Desa Pengkol di Kabupaten Ponorogo). Jadi santri di sini, terus di sini diminta jadi anak oleh Mbah (Kiai Iskak, red),” ujar Kiai Maksum kepada NU Online Jatim, Sabtu (18/09/2021).

 

Kayubi kala itu dididik Kiai Soleh di pesantren. Kegiatan belajar saat itu, mulai baca Al-Qur’an, Turutan, Sorogan Al-Barzanji, Sullam Taufiq, Bidayatul Hidayah, Risalatul Muawanah dan Tafsir. Kegiatan rutin ini dijalani Kayubi dan santri lainnya usai shalat Ashar hingga malam hari.

 

Di pondok, santri-santri disuguhkan sayuran, sambal bawang dan nasi tiwul. Ketika itu, tempat tidur santri juga sederhana, yakni gubuk papan dari kayu. Santri-santri kala itu, dididik ilmu kemasyarakatan hingga ke praktik-praktiknya oleh Kiai.

 

Sempat tidak ada yang mengira, Kayubi yang belajar kitab di tempat ini malah memiliki pehamanan tentang pemerintahan. Pemikiranya kritis, postur tubuh tokoh komandan Banser pertama itu tidak besar, tidak tinggi, namun gagah, sederhara dan berwibawa di masyarakat.

 

Ketika jadi pegawai Departemen Agama (Depag) di Blitar, Kayubi mendirikan Banser di Blitar dan punya pasukan di Karesidenan Kediri. Ia diizinkan oleh Kiai Romli dan Kiai Wahab meneruskan perjuangan Laskar Hizbullah.

 

“Putra-putra (kiai) kumpul, Kayubi ini dijadikan pimpinan terus mendirikan Banser itu,” ungkapya.

 

Pada saat menjadi pemimpin Banser, Kayubi pernah memandu baris-berbaris pasukannya. Kegiatan itu, menurut Kiai Maksum sekitar Tahun 1966-1967 atau setelah peristiwa Gerakan Satu Oktober (Gestok) Tahun 1965.

 

Kiai Maksum mengisahkan, Kayubi juga pernah memimpin pasukan baris-berbaris di pondok setiap pagi. Jumlah pasukan dibilang cukup banyak dan berseragam. “Saya masih kecil itu (Kayubi) sudah di sini, golongan Banser itu sudah pakai seragam,” pungkasnya.

 

Usai mendirikan Banser di Blitar, Kayubi kemudian juga melakukan hal serupa di Nganjuk. Anggotanya ada Kiai Zuhdi Mahdu, Kiai Soleh, Kiai Dahlan dan Kiai lainnya. “Lha di sini, golongan ABRI-Banser itu hormat kepadanya,” imbuhnya.

 

Guru Kayubi di Nganjuk

Kiai Maksum mengatakan, usai menikah pada Tahun 1960, Kiai Soleh sudah memberi pelajaran mengaji ke santri termasuk Kayubi. Kiai ini datang dan menjadi guru baru ilmu ‘Ta’lim al-Muta’allim’.

 

Cara mendidik para santri kala itu, menurut Kiai Maksum, yakni dengan ramah dan tidak kasar. Kitab dibacakan sedikit dan langsung praktik ke masyarakat. Waktu belajarnya mulai ba’da Ashar hingga malam hari.

 

“Kalau praktik ya seperti datangi orang cangkrukan di sawah itu, diajak untuk jadi santri pondok,” ungkapnya.

 

Kiai Soleh dikenal istiqamah. Saat menjadi santri Kiai Zubair Dahlan di Ponpes Sarang, Jawa Tengah. Kiai Soleh akrab dengan Kiai Maimun Zubair (Mbah Maimun), Kiai Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek) dan Kiai Mundzir (Mbah Mundhir Kediri). Kiai-Kiai ini, sering datang ke Ponpes Kedungsari.

 

Tak seperti umunya, Kiai Soleh ini sering pergi ke sungai Brantas. Ia juga punya santri di alam lain.

 

Bahkan ceritanya, ada seorang perempuan punya sakit gatal yang tidak kunjung sembuh dari Negara Malaysia. Perempuan ini ditemui oleh bayangan di pinggir pantai. Ia diminta mencari Kiai Soleh di Desa Waung, Nganjuk. Ia pulang bercerita ke suami dan keluarganya. Kemudian berangkat mencari ke berbagai tempat.

 

Akhirnya perempuan itu bertemu teman yang jadi pengurus Muslimat NU, temanya ini yang tahu keberadaan Kiai Soleh. Singkatnya, teman dan keluarga perempuan ini sampai ke pesantren. Namun mereka tidak bertemu Kiai Soleh. Mereka kaget, Kiai Soleh sudah dimakamkam.

 

Kemudian Kiai Maksum bermimpi dan mendapat arahan untuk mengantar rombongan ini untuk berziarah ke Tuban. Usai ziarah itu, yang punya sakit gatal diharuskan mandi pada waktu malam hari. Usai mandi, ternyata gatal yang dirasakan hilang.

 

 

Kejadian tak terduga ini juga ditemui oleh seorang santri dari Ngawi, di kala itu belum punya anak. Ia bermimpi dan mendapat petunjuk supaya ziarah ke makam Kiai Imam Mustajab. Usai ziarah ke Kiai Mustajab, ia bermimpi membopong anak dan akhirnya dikaruniai seorang putra laki-laki.

 

Hingga kini, para santri yang sudah menjadi alumni dari berbagai daerah terus mengadakan Haul Kiai Soleh. Mulai dari Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Tuban dan lainya. “Alhamdulillah, alumni sini masih mengadakan haul,” ujar Kiai Maksum.

 

Penulis: M Nazar Afandi 

Editor: Romza


Editor:

Matraman Terbaru