• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Januari 2023

Matraman

Pengasuh Pesantren di Ponorogo Ini Jelaskan Makna Megengan

Pengasuh Pesantren di Ponorogo Ini Jelaskan Makna Megengan
Megengan adalah tradisi yang dilakukan jelang Ramadlan. (Foto: NOJ/Z Muhammad)
Megengan adalah tradisi yang dilakukan jelang Ramadlan. (Foto: NOJ/Z Muhammad)

Ponorogo, NU Online Jatim

Megengan merupakan kebiasaan sejumlah warga di Kabupaten Ponorogo. Hal itu sebagai bentuk syukur kehadirat Allah SWT dalam menyambut bulan suci Ramadlan yang penuh ampunan.

 

Tak hanya di masjid dan mushala, megengan juga digelar di pesantren. Salah satunya di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Puyut Indonesia, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Senin (12/04/2021). 

 

Kiai Muhammad Busro, pengasuh pesantren tersebut mengatakan megengan adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan Ramadlan. Menurutnya, megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan.

 

"Semacam lampu kuning, bahwa dalam waktu beberapa jam akan segera dilaksanakan berpuasa," katanya. 

 

Abah Busro sapaan akrabnya mengungkap menahan atau megengan sendiri memiliki makna luas. Yakni pertanda diwajibkannya bagi umat muslim untuk berpuasa. 

 

"Menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa," paparnya. 

 

Abah Busro menjelaskan dengan mengadakan megengan di lingkungan pesantren dapat mengenalkan kepada santri akan budaya yang sudah lama ada dalam menyambut Ramadlan sebagai ungkapan syukur. Terlebih seiring berjalannya waktu tradisi megengan sendiri sudah mulai sedikit ditinggalkan. 

 

"Namun bagi masyarakat desa, tradisi ini masih sangat kental, melekat dan masih dianggap sakral," jelasnya. 

 

Abah Busro menambahkan megengan berada dalam ranah sosial-kultural atau kemasyarakatan dan kebudayaan yang mengacu pada aspek kemaslahatan dan tidak bisa dilabeli dengan istilah bid'ah. 

 

"Masyakarat membawa ambengan atau berbagai jenis makanan ke masjid dan mushala atau langgar untuk dimakan bersama dan sebelum dimakan, berdoa bersama. Ini kan bagus,"pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah


Editor:

Matraman Terbaru