• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 22 April 2024

Metropolis

Berikut Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan ala Gus Baha

Berikut Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan ala Gus Baha
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. (Foto: NOJ/ ISt)
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. (Foto: NOJ/ ISt)

Surabaya, NU Online Jatim

Ramadhan tinggal menunggu beberapa hari lagi. Dalam tradisi umat Islam, khususnya di Indonesia, tidak jarang melakukan beragam persiapan mulai dari membenahi diri dan hal-hal lainnya guna menyambut bulan suci Ramadhan.

 

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengulas sejumlah persiapan yang dapat dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan. Salah satunya adalah dengan mendalami kajian literatur dari para ulama terdahulu.

 

“Saya masih ingat di antara ijazah dari Mbah Maimoen Zubair dan juga ijazah bapak saya, ngendika (mengatakan) ‘Ihdinas shiratal mustaqim, shiratal ladzina an‘amta ‘alaihim ghairil maghdhūbi alaihim wa laddhallin’.” Ucap Gus Baha mengawali penyampaiannya dalam sebuah tayangan YouTube berjudul ‘Menyambut Ramadhan Bersama Gus Baha’, ditonton pada Rabu (28/02/2024).

 

“Jadi, sebenarnya kita ini tidak bisa saleh tanpa meniru orang terdahulu. Kita tidak bisa baik tanpa meniru orang terdahulu,” imbuh Gus Baha.

 

Gus Baha melanjutkan penjelasannnya dalam ayat tersebut, bahwa Allah tidak hanya berfirman ihdinas sirothal mustaqim atau ‘tunjukan kami jalan yang lurus’ semata. Tetapi, Allah juga berfirman bahwa jalan yang benar yakni jalan mereka yang telah Allah beri nikmat.

 

Sebab itu, untuk mendapatkan bekal yang banyak dalam menyambut bulan Ramadhan, perlunya pemahaman luas dengan mengaji dan meniru ulama-ulama terdahulu. Hal ini supaya mengetahui cara pandang orang puasa di bulan Ramadhan di masa dahulu.

 

“Setidaknya kita tahu cara pandang Ramadhan ini secara benar. Merasa lapar, merasakan sakitnya orang miskin yang lapar. Pada akhirnya ketika kita berpuasa melihat makanan yang biasa kita sepelekan menjadi spesial di bulan Ramadhan,” paparnya.

 

Dengan cara demikian, lanjut Gus Baha, setiap manusia akan meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Rasa syukur tersebut akan meningkat dengan mencontoh puasa yang dilakukan ulama terdahulu.

 

“Dengan begitu kita akan bersyukur. Kalau tidak baca literatur ulama, tidak mencontoh puasanya ulama, kita tidak akan tahu berkahnya Ramadhan,” tandasnya.

 

Penulis: Moch Rizqi Bagus Kurniawan


Metropolis Terbaru