• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Mei 2022

Nusiana

Kesalahan Fatal Santri saat Membaca Kitab

Kesalahan Fatal Santri saat Membaca Kitab
Sorogan adalah cara efektif dalam membaca dan memahami kitab kuning. (Foto: NOJ/MHa)
Sorogan adalah cara efektif dalam membaca dan memahami kitab kuning. (Foto: NOJ/MHa)

Untuk dapat membaca kitab kuning dengan benar, diperlukan latihan yang berulang-ulang. Demikian juga menyetor bacaan kepada kiai dan ustadz senior. Hal tersebut demi memastikan bacaan, arti dan pemahaman benar adanya.
 

Salah satu cara agar dalam belajar membaca kitab kuning teruji, yang lebih efektif adalah tetap melalui sorogan. Karena dengan demikian akan diketahui cara baca, makna dan pengertian yang sebenarnya.
 

KH Bahauddin Nursalim menceritakan kisah lucu beberapa santri maupun ustadz saat membaca kitab yang salah. Demikian pula cara mengartikan yang tidak dibenarkan. Karenanya, Gus Baha, sapaan akrabnya  menyarankan setoran bacaan atau sorogan kepada santri.
 

Kisah berikut juga dapat dijadikan pelajaran bahwa membaca kitab perlu ketelitian lebih. Tidak asal membaca, apalagi kemudian memberikan penjelasan yang salah.
 

Cerita disampaikan di akun Facebook Agus M Zaki saat mengikuti sorogan di Pesantren Al-Ma’ruf, Pare, Kediri untuk belajar baca kitab. Bahwa kala itu awal sorogan dimulai dengan kitab Fathul Qârib. Tiap hari Kamis diadakan ujian baca kitab menggunakan mik.
 

Saat tiba hari Kamis, banyak hal yang layak jadi pelajaran. Karena memang baru, ada santri yang beranggapan bahwa awal kalimat pasti menjadi mubtada. Saat itu di maqra yang dibaca, terdapat kalimat: "وذكر المصنف"
 

Tentu saja kita semua membacanya sebagai jumlah fi’liyah dan itu normal. Namun karena anggapan awal santri belajar adalah awal kalimat merupakan mubtada, jadilah kalimat dibaca: "وَذَكَرُ المُصَنِّفِ" utawi dzakare
 

Sontak kiai pengasuh yang menyimak langsung meminta mik untuk dimatikan dan santri lain yang lebih senior hanya menahan tawa. Celakanya, sang santri terlambat menyadari kesalahan vital, eh… fatal tersebut.
 

Fahimtum? Barselontum? 


Editor:

Nusiana Terbaru