• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Juni 2022

Metropolis

Disowani Puan, Kiai Marzuki: Tak Membahas Politik Praktis

Disowani Puan, Kiai Marzuki: Tak Membahas Politik Praktis
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim. (Foto: NOJ)
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur, menegaskan bahwa silaturrahim yang dilakukan Puan Maharani, Ketua DPR RI yang juga petinggi PDI Perjuangan, tidak membahas masalah politik praktis. Sebaliknya, yang dibahas ialah bagaimana merajut sinergi antara NU dengan pihak Puan, baik sebagai legislator maupun petinggi partai politik, untuk membangun bangsa.


"Tidak bahas politik praktis. (Tapi membahas) Politik kebangsaan, pilar-pilar bangsa, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika," kata Kiai Marzuki usai bertemu dengan Puan di kantor PWNU Jatim Jalan Masjid Al Akbar Timur Nomor 9 Surabaya, Selasa (01/03/2022) malam.


Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek, Kota Malang, itu menyampaikan bahwa dalam pertemuan ditekankan tentang perlunya jalinan yang baik antara kelompok nasionalis dan religius dalam membangun bangsa. Semua harus dilakukan secara gotong royong.


"Dulu negeri ini merdeka hasil kerja sama dan gotong rayang ulama NU dan kaum nasionalis. Ke depan negeri ini tetap harus dikawal oleh arus besar, para ulama dan kaum nasionalis. Yang lain makmuman lillahi ta'ala, kalau sampai dua arus besar ini nggak bisa berperan bahaya," ucapnya.


Mereka juga sepakat untuk melawan ideologi yang membahayakan negara, gerakan ekstrimis serta sumber pendanaanya, demi menjaga keutuhan bangsa. "Bareng-bareng kita melawan apapun yang membahayakan negara, ideologi, pendanaannya, jaringannya, kalau bisa tetap NKRI harga mati," tandas Kiai Marzuki.


Puan juga menyampaikan hal sama dengan Kiai Marzuki. Dia mengatakan bahwa silaturrahim kali ini dilakukan dalam rangka menguatkan kembali hubungan baik para pendahulu dari kalangan nasionalis dan religius itu.


“Untuk tetap bisa melakukan sinergi dalam membangun bangsa dan negara. Bangsa dan negara ini tidak mungkin kita bisa bangun jika kemudian kita tidak bergotong royong. Tadi saya diberi wejangan oleh Kiai Ali bahwa silaturrahim itu intinya adalah gotong royong,” tandas Puan.


Sementara gotong royong, lanjut dia, adalah intisari dari Pancasila. Karena itu membangun sebuah bangsa menurutnya tidak mungkin sendirian.


“Kami pun menyadari bahwa kedekatan hubungan antara NU dan PDI Perjuangan ini tentu saja harus kami jahit kembali secara bersama-sama dan gotong royong. Dan di Jawa Timur inilah Bung Karno lahir, Bung Karno besar, dan Bung Karno wafat dimakamkan di Jawa Timur, karenanya saya sebagai cucu Bung Karno merasa punya kedekatan psikologis dengan Jawa Timur,” kata Puan.


Metropolis Terbaru